skip to main |
skip to sidebar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah mempersiapkan untuk mendukung program kemaritiman atau pengamanan di jalur laut. Karena itu, pemerintah akan menambah kapal patroli untuk menjaga keamanan di jalur laut.
Hal itu disampaikannya saat meninjau pameran "Indo Defence 2014 Expo & Forum". Akan tetapi, mantan Gubernur DKI Jakarta ini tidak merinci jumlah atau waktu pengadaannya.
"Ya kita harus ngerti, kapal patroli kita kurang. Sangat kurang oleh sebab itulah yang kita tambah," kata Jokowi di Kemayoran, Jakarta, Jumat (7/11/2014).
Dalam kesempatan itu, Jokowi mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi signifikan maka alat pertahanan Indonesia bisa ditambah. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi harus didorong lebih baik lagi.
Pasalnya, jika pertumbuhan ekonomi bagus maka penerimaan negara akan bertambah. Sehingga, anggaran pertahanan bisa ditambah berkali lipat.
"Itu kan sudah berkali-kali saya sampaikan kalau pertumbuhan ekonomi kita bertumbuh di atas tujuh, anggaran pertahanan kita bisa tiga kali lipat daripada yang sekarang," tegasnya.(kri)
Curi Perhatian Menhan Ryamizard
Kapal Trimaran Lundin [joedhie2k]
Produsen alat pertahanan nasional, PT Lundin tengah dalam proses pembuatan Kapal laut tanpa awak. Bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, SAAB, PT Lundin masih dalam tahap membangun kapal bernama Autonomous Surface Vessel (USV) Bonefish.
"Kita bekerja sama dengan SAAB. Mereka yang kerjakan teknologinya. Kita yang buat platformnya," ujar salah satu staf PT Lundin di Indo Defence 2014 Expo&Forum yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakpus, Rabu (5/11/2014).
Kapal ini dilengkapi dengan rudal RBS15 Mk3 yang berkecepatan subsonik. Rudal ini memiliki hulu ledak HET seberat 200 kg. Selain itu kapal ini juga dipersenjatai dengan naval gun 40 Mk4.
Tak hanya itu, radar Sea Giraffe 1X 3D yang memiliki berat 150 kg terpasang USV Bonefish ini. Radar ini disebut mampu mereduksi efek lengkung bumi.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu didampingi KSAL Laksamana Marsetio sempat mengunjungi stan yang menunjukkan prototype kapal tanpa awak ini. Ke depan, PT Lundin berharap agar bisa benar-benar produk unggulan itu secara mandiri.
"Kan kita ada transfer teknologi supaya teknisi kita bisa buat sendiri," kata petugas yang sama.
Bupati Banyuwangi, Abdulah Azwar Anas menyerahkan souvenir replika seniman Tari Gandrung kepada Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Bismar Skoog. (sumber: Istimewa)
Swedia mengembangkan industri teknologi perkapalan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Menggandeng mitra lokalnya di kabupaten Banyuwangi, Grup SAAB asal Swedia, memproduksi berbagai jenis kapal. SAAB sendiri merupakan perusahaan terkemuka di bidang industri pertahanan dan keamanan. Mereka memproduksi kapal, pesawat, dan berbagai alat penunjang pertahanan-keamanan. Produksi mereka telah dipakai di berbagai negara di dunia, termasuk oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Untuk keperluan menjalin kerja sama lebih erat dengan stakeholders di Banyuwangi, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Bismar Skoog, mengunjungi Banyuwangi selama Sabtu-Minggu (1-2/11/2014). Dia membawa pimpinan sejumlah perusahaan Swedia. Rombongan tersebut diterima Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Dubes Johanna menyatakan ingin mempererat kerja sama yang sudah terjalin baik antara perusahaan Swedia dan mitra di Banyuwangi. Dia juga tertarik mengembangkan teknologi hijau di Banyuwangi.
"Kami terkesan dengan Banyuwangi. Meski baru memulai pembangunan kota yang hijau dan berkonsep ramah lingkungan, Banyuwangi sudah berjalan bagus. Negara kami unggul dalam penerapan teknologi hijau. Kami telah berdiskusi soal kerja sama ini dengan Bupati Banyuwangi," ujarnya.
Executive Vice President SAAB, Mikael Olsson, mengatakan, pihaknya telah membuka kantor perwakilan resmi di Indonesia pada tahun lalu. SAAB telah menjalin kerja sama dengan industri manufaktur di Banyuwangi untuk membuat kapal. Kapal-kapal itu dikerjakan gabungan antara teknisi luar negeri dan Indonesia, termasuk warga lokal Banyuwangi yang telah memenuhi syarat kompetensi.
"Kami juga melakukan transfer teknologi dan pengetahuan dengan mitra kami, karena hal itu menjadi bagian wajib dalam program kerja sama," kata Mikael.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menyambut baik kerja sama Swedia tersebut. Apalagi, perkapalan adalah bagian dari pertahanan yang juga bisa menopang industri maritim nasional. "Industri perkapalan adalah industri yang strategis dan sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Jokowi yang ingin membawa Indonesia menjadi poros maritim dunia," kata Anas.
Dia menambahkan, Swedia dikenal sebagai negara dengan teknologi unggul. Sehingga, transfer teknologi dan pengetahuan dengan mitra yang ada di Banyuwangi bisa meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia di daerah.
Swedia adalah negara yang menduduki peringkat ke-8 dalam Innovation Capacity Index (Indeks Kapasitas Inovasi) dunia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Swedia tercatat di posisi 10 besar dunia. Sejumlah penemuan seperti GPS, sabuk pengaman tiga titik, atau cardiac pacemaker (penunjang medis untuk kesehatan jantung) adalah inovasi dari Swedia.
"Mereka punya banyak inovasi. Dan kita tahu bahwa inovasi adalah kunci dari daya saing suatu bangsa. Kami berharap, masuknya Swedia bisa menjadi stimulan untuk menumbukan budaya inovasi di daerah. Apalagi, Banyuwangi juga sudah punya banyak kampus, mulai dari kampus swasta, politeknik negeri, sampai sekolah pilot," jelas Anas.
This is the First Time Bangladesh is buying military items from Indonesia.
These Ships may be used for Coast guard
These 18 Boats will cost $6 Million altogether. There is a possibility to get Technology Transfer. X12 High Speed Patrol Boat :
Length : 11.7 meters
Beam : 3.54 meters
Speed : 35 knots
After the Navy ordered ships in the form of advanced fast ship missiles Trimaran, this time turn the Bangladesh Navy ordered 18 coast guard as a complementary tool to the security of the country one of the shipbuilding industry in Banyuwangi, namely PT Lundin Industry Invest.
This was revealed by Commodore Syed Yahya, Deputy Director General of Bangladesh Coast Guard, during a visit in Banyuwangi, on Tuesday (10/28/2014). He explained that the ship industry in Banyuwangi chosen because it is considered to have advanced technology that is not owned by many similar industries in other countries.
"Here, ships are manufactured using the fiber is strong and corrosion resistant. The producing boats using fiber so far only in Europe," said Syed.
He explained that such cooperation is also used as the transfer of technology between Bangladesh and Indonesia in the field of shipping, that the company staff involved six ships of Bangladesh in the shipbuilding process.
"We also have seen a company profile, and believe that the company will be the best in the world," said Syed.
Meanwhile, Lizza Lundin, Director of PT Lundin Industry Invest, say, ordering 18 patrol boats of Bangladesh is valued at USD 75 billion. Process of ships is done by parallel systems until all orders will be completed within one year, as targeted.
"This is our new product that we originally Include in maritime exhibition in Jakarta. Apparently, his speech was very good, and Bangladesh became the first foreign country that ordered the ship of this type," says Lizza.
Meanwhile, 18 vessels were ordered by the Navy Bangladesh is a type of X12 High Speed Patrol Boat monohold (single hull), with an overall length of 11.70 meters specs, bow length 9.60 meters long, 3.54 meters beam, the hull is submerged in water of 0.84 meters, a maximum speed of 35 knots, fuel capacity of 2 x 675 liters, and has two main engines.
"Before being sent to Bangladesh, will these ships going through the test tanks in Indonesia, Australia, and New Zealand," says Lizza.
He explains, it has been a lot of fulfilling orders ship from various countries, such as America, Russia, Australia, Malaysia, Brunei, Thailand, Sweden, Hong Kong, and the Middle East.
In the competition for the most futuristic looking vessel at the Euronaval show being held this week in Paris I would put the clear front runner as the Fast Attack Craft (FAC) on the Saab stand. Designed for naval patrol, anti-piracy and surveillance missions in peace time the ship would be a missile ship to launch Saab's RBS15 Mk3 anti-ship missiles in war time. And for added interest the vessel has a fascinating design history.
Maket Trimaran Lundin [photo: Christina Mackenzie]
The FAC is not entirely new. Based on a design by New Zealand's LOMOcean, the KRI Klewang for the Indonesian Navy was launched on Aug. 31, 2012. And was then completely destroyed by fire four weeks later on Sept. 29.
KRI Klewang had been entirely built at the North Sea Boats shipyard at Banyuwangi, East Java. North Sea Boats is the trading name for PT. Lundin founded by John and Lizza Lundin in Indonesia 2003; John Lundin is the son of the late Allan Lundin who founded the Swedeship company that operated the Gotland and Djupvik shipyards, amongst others, in Sweden.
The idea for the KRI Klewang came to John Lundin after seeing LOMOcean's Earthrace, a 24m wave-piercing trimaran originally created to break the world record for circumnavigating the globe. He thought a militarized version could be of interest to the Indonesian government for littoral missions as the wavepiercing prow is perfectly suited to the short, high wave pattern typical of the Indonesian archipelago. The vessel became a Black Ops project equipped with a Chinese combat system.
Some time after the fire, Lundin was having lunch with Saab and talk turned to combat systems. He apparently learnt more about them in an hour than he had from the Chinese in over a year. This convinced him that the next version of the vessel should be equipped with a Swedish combat system.
So Saab, LOMOcean and North Sea Boats worked together to redesign the top part of the vessel (everything above the trimaran hulls) around Saab's 9-LV combat system.
However, building has already begun on the replacement ship using the same specifications as the first one. “But everyone from the Indonesian navy down agrees that the top part needs to be a new design,” Stefan Hedenstedt , head of naval sales at C2S Saab told Ares. And there are now four such ships in the offing. So construction will stop just above the hulls while discussions about a contract continue.
The 245-ton, 63m (207 ft) long, ship is entirely made of carbon fibre foam sandwich using fire retardant vinyl ester resin (lessons have been learnt!). The four diesel-engined ship has a beam of 16m (52 ft) but a draught of only 1.2m (4 ft) making it ideal for Indonesia's shallow littoral waters. It has a top speed of 28 knots (51 km/h) and a cruising speed of 16 knots (29.6km/h) that gives it a range of 2,000 nautical miles (3,704km). It has been designed to have an endurance of 10 days at sea.
The FAC is equipped not only with anti-ship missiles but also the BAe Systems Bofors 40Mk4 naval gun.
It has a crew of 23 with accommodation for an additional seven special forces.
The “right signals” are apparently being issued from Indonesia regarding the newly designed topside for the FAC so perhaps a contract will be signed at next week's Indo Defence Show in Jakarta.
Oh, and last but not least, Saab has gone counter to almost every other shipbuilder in proposing this vessel as a turnkey solution rather than allowing the customer to pick and choose what they want. “Its turnkey not smorgasbord,” is how one Saab manager put it.
Indonesia mendapat tawaran kerjasama maritim dari Rusia. (Antara/Suryanto)
Rusia tertarik dengan konsep kemaritiman yang menjadi program andalan Presiden Joko Widodo. Dalam kunjungannya ke Jakarta, Kamis (29/10), Wakil Menteri Perkembangan Ekonomi Federasi Rusia Alexei Likhachev menawarkan kerjasama bidang maritim dengan Indonesia.
“Kami menganggap program pemerintah baru RI di bidang kemaritiman sangat cocok dengan posisi Indonesia di tengah lautan. Rusia harus punya kebijakan khusus terhadap Indonesia di bidang kemaritiman,” ujar Alexei.
Oleh sebab itu Rusia hendak membuka beberapa kerjasama dengan pemerintah Indonesia, misalnya untuk memperkuat sistem transportasi laut dengan menawarkan kapal laut pabrikan Rusia.
“Kami menawarkan pasokan berbagai jenis kapal laut. Bukan saja pasokan, tetapi juga pendirian pusat layanan dan mungkin produksi beberapa komponen untuk kapal itu,” kata Alexei.
Untuk membicarakan proyek dan prospek kerjasama tersebut, Direktur Utama United Ship Building Corporation selaku perusahaan galangan kapal terbesar di Rusia akan datang pekan depan ke Jakarta untuk bertemu Presiden Jokowi dan Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo.
“Ketua kami bersedia menawarkan peralatan model untuk pengawasan kawasan perairan dan pengawasan kapal laut dengan menggunakan sistem blonas dan sistem radar jarak jauh,” ujarnya.
Rusia juga tertarik dengan produksi hasil laut yang berlimpah di Indonesia. Alexei mendorong produsen ikan di Indonesia untuk menggenjot ekspor ikan ke Rusia.
“Kami mengajak produsen ikan dan hasil perikanan, ikan beku atau ikan kaleng misalnya, untuk datang ke Rusia dan membawa produk mereka. Karena kebutuhan di sana sangat banyak dan pasar di Rusia tersedia untuk produk itu,” kata Alexei.
Salah satu program ambisius Jokowi adalah membangun Indonesia menjadi poros maritim dunia. Untuk itu ia membentuk Menteri Koordinator Kemaritiman dalam nomenklatur Kabinet Kerja. Dalam pidato pertamanya sebagai presiden di hadapan sidang paripurna MPR, Jokowi juga mengajak rakyat bersama-sama mengembalikan kejayaan Indonesia di laut.(agk)
Roboboat Tim UNDIP yang dilombakan dalam RoboBoat Competition di Virginia, 8-13 Juli 2014. (Foto: Ahlan Zulfakri)
Tim Roboboat Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP) tahun ini mengikuti RoboBoat Competition di Virginia. Acara kompetisi tersebut diselenggarakan Assosiation for Unmanneed Vehicle System International (AUVSI) Foundation and ONR's 7th International RoboBoat Competition.
Kompetisi Roboboat merupakan ajang perlombaan bagi mahasiswa dalam menunjukkan kemampuannya menciptakan robot yang bisa dijalankan secara otomatis di atas permukaan air dengan tingkat kesulitan tinggi. Kondisi perairan yang sulit tidak menjadi kendala bagi Roboboat untuk dilalui.
Kegiatan AUVSI diikuti 15 tim dari seluruh dunia, antara lain University of Rhode Island, University of Central Florida, Virginia Tech, University of Michigan, dan Nasional Cheng Kung University. UNDIP adalah satu-satunya peserta dari Indonesia beserta Universitas Cheng Kung sebagai dua perwakilan dari Asia.
“Awal mula keinginan kami mengikuti kompetisi Roboboat ini diawali dari sebuah niat dan tekad yang kuat dari tim guna melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa,” ujar Ketua Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakri, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, ajang kompetisi Roboboat yang berlangsung 8-13 Juli 2014, UNDIP menyiapkan Roboboat ciptaannya dari segi teknis dan non-teknisnya dengan sangat matang.
Persiapan diawali dari pencarian personel yang konsisten, memiliki tanggung jawab, dan rela berkorban waktu, tenaga, dan pikiran.
“Karena pada tahun 2013 kami kekurangan personel untuk ikut kompetisi ini,” ungkap Ahlan.
Akhirnya, tim yang terdiri dari Dandy Kurniawan (Teknik Perkapalan), Bagus Prasetyo (Teknik Perkapalan) Sidik Setiawan (Teknik Perkapalan), Ikhsan Adi Prasetyo (Teknik Perkapalan), Wahyu Dwi Yunanto (Teknik Perkapalan), Bayu Wisnu Sasongko (Teknik Perkapalan), RG Alam Nusantara (Teknik Elektro), Budi Cahyo Suryo (Teknik Sistem Komputer), Nugroho Budi (Teknik Sistem Komputer), dapat terbentuk dalam Tim Roboboat 2014 dengan personel dan semangat baru.
Setelah memiliki personel cukup dan persiapan matang, pada 4 Juli 2014, tim berangkat ke Jakarta. Ternyata berkendala. Maskapai tidak menerima kapal untuk diangkut dalam penerbangan menuju Jakarta, dengan alasan membahayakan keselamatan.
“Setelah melakukan negoisasi yang cukup sulit akhirnya kami dipersilakan untuk menaiki pesawat dengan catatan, boks kapal yang kami bawa diberikan pengamanan. Pukul 07.00 kami akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta,” kata Ahlan mengenang.
Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, sambungnya, tim langsung check in ke penerbangan internasional, dan ternyata berkendala sama. Boks robot yang sangat besar tidak dapat masuk ke dalam bagasi pesawat. Namun, kendala dapat diselesaikan dengan cara yang sama.
“Setelah selesai, kami berangkat dari Jakarta menuju Tokyo Jepang untuk melakukan transit. Waktu yang cukup lama, akhirnya kami tiba di Amerika. Di sana, kami langsung mempersiapkan diri untuk lomba yang akan kami hadapi untuk lusanya,” tuturnya.
Setelah siap untuk menghadapi kompetisi dan tim membongkar kapal yang dimasukkan di dalam boks, ternyata ada kendala lagi. Mungkin karena pengepakan bagasi pesawat yang sangat padat membuat boks pecah dan menimpa kapal mereka bawa.
“Tanpa pikir panjang, dengan waktu yang tersedia kami bersegera melakukan perbaikan untuk kapal yang kami bawa dari mulai konstruksi hingga ke elektrikal dan sistem pada kapal. Syukur semua masih dapat berfungsi sebagaimana fungsinya,” papar Ahlan.
Belum Menang
Hari Uji Coba Roboboat pun tiba. Kapal kembali mengalami kendala. Kapal dapat bekerja, hanya saja di saat melakukan pengolahan gambar, kapal kehabisan daya, sehingga harus dibawa kembali ke dock yang disediakan panitia.
Hari selanjutnya, tim mempresentasikan Roboboat kepada panitia untuk menjelaskan secara spesifik apa saja yang ada di kapal robot andalan mereka.
“Setelah melakukan presentasi, panitia sangat mengapresiasi kapal kami, karena mungkin dari segi bentuk yang sangat unik,” ujar Ahlan bangga.
Keesokan harinya, kapal dicoba kembali untuk percobaan terakhir, sebelum diadakan lomba yang sesungguhnya. Kapal mengalami masalah lebih besar, seperti masalah sensor hingga jaringan yang terputus di saat kapal sedang membaca misi yang disediakan panitia.
Keesokan harinya, waktu untuk pengujian dilaksanakan penilaian dari segi misi yang dijalankan hingga waktu yang ditentukan. Namun, Dewi Fortuna belum berpihak kepada tim UNDIP. Kapal kembali mengalami kendala. Terjadi keretakan, sehingga kapal pun bocor.
Dapal proses penilaian, ada dua gate di mana tim mendapatkan misi di Gate 1. Kapal berjalan lebih baik dan sensor berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, perubahan terjadi pada Roboboat dengan mengalami kemunduran waktu. Mungkin, karena teknologi yang memang terbatas dan tidak lebih baik dari peserta lain.
Waktu yang ada pun sangat tidak cukup untuk menambahkan poin yang ada dalam penilaian. Setelah diamati, tim UNDIP yang hanya menggunakan propeler kalah cepat dengan kapal peserta lain yang banyak menggunakan water jet.
“Untuk itu, kami masih pulang dengan tangan hampa dan memang kami harus mengakui teknologi yang mereka kembangkan sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, dan memang penilaian yang cukup ketat membuat kami kewalahan untuk tahun ini,” kata Ahlan.
Kontes RoboBoat AUVSI 2014 akhirnya dimenangkan banyak universitas dari Amerika. Belajar dari pengalaman, semangat tim UNDIP tidak pupus dan mati. Mereka tetap bersemangat untuk kejayaan negeri dan kebanggaan bangsa.
“Diharapkan, Roboboat juga bisa terus menginspirasi seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa UNDIP, untuk terus berkreasi, sehingga menghasilkan inovasi spektakuler dan mengagumkan serta bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
X12 High Speed Produksi PT Lundin
Ilustrasi X38 PT Lundin
Pemerintah Bangladesh memesan 18 unit kapal patroli jenis X12 High Speed ke PT Lundin Industry Invest yang pabriknya berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Penandatanganan proyek itu dilakukan oleh Wakil Direktur Jenderal Bangladesh Komodor Yahya Syed dan pemilik PT Lundin, John Ivar Alan Lundin, di Banyuwangi, Selasa, 28 Oktober 2014. "Nilai kontraknya Rp 75 miliar," kata Lizza, Direktur PT Lundin.
Lizza menjelaskan kapal patroli X12 High Speed tersebut merupakan produk baru yang dibuat PT Lundin. Kapal berbahan karbon komposit itu memiliki panjang 11,7 meter dan kecepatan 35 knots. PT Lundin akan mengerjakan proyek tersebut dalam setahun ke depan.
Lundin mengenal Bangladesh pada pameran kapal perang yang berlangsung di berbagai negara sejak dua tahun lalu. Kemudian PT Lundin mengikuti tender dengan peserta dari perusahaan kapal perang dari 17 negara. "Ternyata kami menang," kata istri John Ivar ini.
PT Lundin merupakan perusahaan pembuat kapal militer asal Banyuwangi yang baru berdiri tahun 2001. Perusahaan ini kini menjadi andalan nasional karena mampu menciptakan kapal-kapal perang canggih berkelas dunia.
Setiap tahun PT Lundin rata-rata memproduksi 12 kapal dengan kategori kapal militer, komersial, rekreasi, dan untuk kepentingan SAR. Seluruh produknya ini diberi nama: North Sea Boats. Produk PT Lundin telah dipesan TNI AL Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.
Nama perusahaan ini baru melambung setelah menciptakan kapal cepat rudal berlunas tiga (trimaran) KRI Klewang 625 yang diluncurkan TNI AL akhir Agustus lalu. Kapal berbiaya Rp 114 miliar dari APBN 2009-2011 ini, diklaim pertama di dunia yang mengaplikasikan bahan komposit karbon yang tidak mampu terdeteksi radar atau disebut kapal siluman. Namun kapal ini terbakar ludes sebelum diserahkan ke TNI AL.
Kepada wartawan, Yahya Syed, mengatakan Bangladesh mulai memperkuat perairan negaranya sejak 1995. Kapal jenis X12 High Speed bisa diproduksi di Eropa, tapi Bangladesh memilih bekerja sama dengan Indonesia. "Kami ingin bekerja sama dengan Indonesia yang jumlah muslimnya juga besar," kata Yahya.
Kapal patroli tersebut, kata Yahya, akan dilengkapi senjata dengan amunisi berukuran 20-40 milimeter. "Sebagai kapal patroli, tidak ada senjata khusus yang kami tempatkan," katanya.
Selama menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan memperoleh tanggapan positif dari bawahannya. Salah satunya dari Harry Sampurno, Direktur Utama PT Industri Kapal Indonesia (IKI).
Menurut Harry, Dahlan mampu membantu membantu menyelamatkan BUMN yang sempat mati suri atau setop beroperasi ini. IKI merupakan BUMN yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.
"IKI itu merupakan perusahaan yang awalnya mati, karyawan nggak bisa gajian. Perusahaan setiap hari Jumat didemo karyawan, tapi sekarang menjadi perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia Timur," kata Harry di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (20/10/2014).
Harry menyebut, Dahlan memberi kewenangan penuh kepada direksi untuk mengambil kebijakan atau menerapkan ide-ide cemerlang untuk menyelamatkan dan memajukan perusahaan. Tidak hanya itu, Dahlan secara rutin meninjau IKI tanpa mengenal waktu.
"Beliau mengunjungi IKI selama 4 kali. Kunjungan bisa malam hari bahkan Subuh. Sekarang perusahaan itu sudah hidup. Pak Dahlan kalau punya keinginan, pasti diikuti sampai itu terwujud," sebutnya.
Berhasil 'menyulap' kinerja PT IKI, Harry kemudian dipercaya memperbaiki kinerja BUMN produsen bahan peledak, PT Dahana (Persero). Harry secara bertahap meningkatkan kinerja Dahana. Di antaranya meningkatkan produk yang dihasilkan hingga kinerja keuangan.
Jika ada masalah atau perseroan ingin mengeksekusi rencana, Dahlan dengan mudah bisa dihubungi melalui pesan singkat, sambungan telepon, atau sekedar BlackBerry Messenger (BBM).
"Nggak meski rapat langsung. Cukup telepon atau SMS. Pernah lewat BBM. Saya pernah rapat di dalam mobil dari Bandara Halim sampai Bundaran HI," ujarnya. (feb/dnl)
Logo PT DRU
Direktur Utama PT Daya Radar Utama Amir Gunawan menyampaikan keinginannya supaya Lampung bisa dikenal karena industri maritimnya. Hal tersebut disampaikannya dalam konfrensi pers dihadapan para awak media di gedung manajemen PT DRU Lampung, Jumat, 5 September 2014.
“Selama inikan orang tahunya industri maritim terbesar di Indonesia itu ada di Surabaya. Nah, saya ingin suatu saat Lampung juga bisa dikenal karena industri maritimnya,” kata Amir.
Lebih lanjut Amir mengatakan pembangunan KRI Teluk Bintuni 520 merupakan kebanggaan besar untuk Provinsi Lampung. “Karena pertama kali pihak swasta nasional diberi kepercayaan. Pertama kali bagi kami kerjakan kapal perang. Pertama kali pula dihasilkan atau dibuat di Provinsi Lampung. Untuk itu minta bantuan masyarakat Lampung untuk mempersiapkan SDM yang pasti akan kami serap,” paparnya.
Saat ditanya Saibumi.com, soal tekanan yang diterima oleh PT DRU selama pembuatan kapal perang yang notabene berkaitan dengan kerahasiaan sistem pertahanan negara, dengan lugas Amir menjawab. “Kapal inikan bukan kapal combat hanya kapal penunjang. Jadi tidak terlalu rahasia ya. Tapi suatu saat kami pasti menuju kesana. Pengennya kita bersiap-siap dahulu. Jadi pembuatan kapal perang ini jadi tonggak untuk menuju kesana,” jelas Amir.
Amir juga menyebut pihak Angkatan Laut puas dengan cara kerja PT DRU. Saat kembali Saibumi.com bertanya tentang prospek adanya permintaan pembuatan kapal perang selanjutnya dari Kemenhan, Amir langsung tersenyum sebelum berkata singkat. “Diharapkan ya, kita tunggu saja.”(*)KRI Teluk Bintuni 520 Seharga Rp 160 Miliar
Kondisi Kapal KRI Teluk Bintuni setelah meluncur karena putusnya tali sling. GM Production setelah memeriksa seluruh kapal menyampaikan bahwa kondisi kapal bagus dan tinggal menunggu air pasang untuk dicoba menarik kapal tersebut sandar di dermaga. Tampak dalam foto para pekerja kapal sedang menunggu giliran untuk diturunkan dari kapal dengan menggunakan crane. |Saryah M Sitopu/ Saibumi.com.
Direktur Utama PT Daya Radar Utama (DRU) sekaligus pemilik Amir Gunawan (58) menyebut KRI Teluk Bintuni harganya Rp 160 milyar. Nilai itu tercetus saat Amir ditanyai para awak media soal proses bagaimana PT DRU bisa memenangkan tender perdana perusahaan swasta nasional dalam membuat kapal pengangkut tank khusus tersebut dalam konfrensi pers di gedung manajemen PT DRU Lampung, Jumat, 5 September 2014.
“Nilai kapal ini Rp160 milyar setelah kami memenangkan tender dari Kemenham. Ikut tender kapal yang informasinya disebarkan lewat media. Kalau tidak salah ada sekitar 7-8 perusahaan yang awalnya ikut dan tersaring tiga besar. Dari tiga itu terpilihlah PT DRU karena kami mengajukan harga yang paling murah yakni Rp 160 milyar. Pembayarannya secara bertahap dengan empat tahapan,” jelas Amir.
Dalam kesempatan berbeda sebelumnya, Saibumi.com sempat menanyakan soal harga kapal ini kepada General Manager Production PT DRU Lampung Edy Wiyono (50). Saat itu Edy hanya menyebut kisaran Rp100-200 milyar untuk harga kapal jenis Landing Shift Tank tersebut. “Pembayarannya juga ada beberapa step. 95 persen payment pada saat kapal diserahkan ke Angkatan Laut. Full payment diberikan setelah kapal itu habis masa garansi satu tahunnya,” paparnya.(*)
★ saibumi
Kebangkitan Teknologi Nasional 2014
PKR 10514 (Kaskus)
Jakarta ★ Tonggak sejarah peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, bermula dari kesusksesan dan keberhasilan diproduksinya Kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat) 57 Meter pada Tahun 1995, yang dirintis Menteri Negara Riset dan Teknologi kala itu, BJ Habibie. Setelah 19 tahun sejak diperingatinya Hakteknas, terus bermunculan karya-karya teknologi buatan bangsa Indonesia.
PT PAL Indonesia (Persero), sebagai salah satu Industri Negara turut andil dalam 19 tahun Kebangkitan Teknologi Nasional, di Auditorium Gedung II BPPT Jakarta, Senin (11/08). Acara yang berlangsung mulai 09 Agustus ini secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono. Mengangkat Tema “Inovasi Pangan, Energi dan Air untuk Daya Saing Bangsa” juga turut dihadiri Presiden Ketiga RI BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, Para menteri kabinet Indonesia bersatu II, Anggota Dewan, Kepala Daerah dan Tokoh IPTEK lainnya.
RITECH Expo 2014 diselenggarakan pada tanggal 9-12 Agustus 2014 dengan membuka 78 stand terdiri dari komunitas iptek, lembaga penelitian pemerintah, BUMN, Swasta, umum, juga perguruan tinggi yang menampilkan berbagai hasil riset dalam negeri yang membanggakan. Dengan tujuan bukan hanya sekedar memberikan informasi perkembangan inovasi Iptek karya anak bangsa, tapi juga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan hasil inovasi sebagai solusi pemecahan, yang selanjutnya dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di antara bangsa bangsa maju lainnya.
Sebagai bagian dari inovasi bangsa yang terus berkembang dan sebagai sumber Inspirasi Nasional PT PAL Indonesia (Persero) memberikan sumbangsih sebuah karya nyata atas teknologi pembangunan kapal perang, yang masuk dalam 19 karya unggulan Teknologi Anak Bangsa, sebagai persembahan untuk memperingati 19 tahun kebangkitan Teknologi Indonesia.
PT PAL Indonesia (Persero) juga menampilkan beberapa produk unggulan sejalan dengan hasil yang dicapai, berupa prototype berbagai jenis produk kapal perang yang telah dibangun dan innovasi teknologi yang akan dikembangkan dan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam alih teknologi yaitu mulai dari tipe : Fast Patrol Boat 57 Meter, Kapal Cepat Rudal 60 mater (KCR-60), Landing Platform Dock 125 meter (LPD-125), SSV 120 Meter, sebagai pengembangannya, dan Submarine DSME 209, serta kemampuan Harkan berbagai jenis kapal sampai 50.000 DWT. Beberapa produk kapal seperti Kapal Tanker yang dihasilkan didukung oleh penggunaan mesin las otomatis (Weldcare) ini serta innovasi pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR-105) dengan system modul.
The Myanmar Navy (MN) and Indonesian naval shipbuilder PT PAL are in talks over the MN's potential purchase of landing platform docks (LPDs) to bolster sealift and amphibious capabilities, IHS Jane's understands.
The two parties have recently entered what have been described to IHS Jane's as "preliminary discussions" about the MN's acquisition of a small number of vessels based on PT PAL's Makassar-class LPD, which in turn is based on a design by South Korea's Dae Sun Shipbuilding and Engineering.
PT PAL has delivered five Makassar-class LPDs to the Indonesian Navy and in June signed a contract to supply the Philippine Navy (PN) with two LPDs based on the same design.
Indonesian shipbuilder PT PAL has signed a contract to supply two strategic sealift vessels (SSVs) to the Philippine Navy (PN). (image : Defense Studies)
PT PAL executive Edy Andarto confirmed to IHS Jane's on 17 July that the contract - worth USD92 million - was signed with the PN in June and calls for the vessels to be supplied in 2016 and 2017.
The contract also stipulates a requirement for PT PAL to provide an integrated support package that will enable Philippine industry to undertake maintenance and support of the SSVs in partnership with the PN.
Discussions over the SSV contract had continued since January when PT PAL emerged as the sole bidder in the programme.
Tersirat keinginan untuk meningkatkan kerjasama dalam pembangunan kapal
Kapal buatan dalam negeri banyak dilirik Manca Negara, salah satunya German. Produk PT PAL INDONESIA (PERSERO) yang masih terkait dengan German yakni “BERLIN NAKROMA” maupun “FAST PATROL BOAT (FBP-57)” kini masih berfungsi dengan baik.
Duta Besar German untuk Indonesia Dr. Georg Witschel, mengunjungi galangan kapal yang pernah melakukan kerjasama dengan German di era pimpinan Presiden RI ketiga B.J. Habibie. Diterima oleh Direktur Desain dan Teknologi, Saiful Anwar dan Direktur Produksi, Edi Widarto, di ruang rapat Ground PIP PT PAL INDONESIA (PERSERO), Selasa pagi (08/07). Beragam Informasi dan pandangan diutarakan dalam diskusi kecil ini, baik terkait kerjasama bidang ekonomi maupun pendidikan.
Dalam penjelasan singkat terkait perkembangan PT PAL INDONESIA (PERSERO), Saiful Anwar menuturkan PAL INDONESIA akan disibukkan dengan kegiatan produksi di tahun-tahun mendatang dengan membangun kapal perang. Sesuai dengan Amanah Undang-Undang 16 Tahun 2012 tentang Industri Startegis Pertahanan, PAL INDONESIA juga mengemban tugas sebagai Pemadu Utama ALUTSISTA Matra laut.
“Tahun ini dan mendatang, kami sangat berfokus pada pembangunan kapal perang sesuai dengan tugas yang telah dibebankan kepada kami oleh Pemerintah. Namun kami masih dapat menerima order untuk produksi kapal niaga dan non kapal” tandas Saiful.
Duta besar German untuk Indonesia, Dr. Georg Witschel mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya atas pembangunan kapal “BERLIN NAKROMA” 2006 silam. “Kapal itu kini masih berfungsi dengan baik dan performa yang bagus utuk keperluan Pemerintah Demokratis Republik Timur Leste. Kami berharap PT PAL INDONESIA (PERSERO) dapat mengembangkan bisnis dengan tujuan dapat meningkatkan Ekspor German dan meningkatkan investasi yang menjadi tujuan utama kami” imbuhnya.
Kapal “BERLIN NAKROMA” yang diserahkan PT PAL INDONESIA (PERSERO) kepada Pemerintah Demokratis Republik Timur Leste pada 14 September 2006, dengan panjang 47,25 meter dan lebar 41,33 meter ini melayani rute Dili-Oecussi dan Dili-Atauro.
Pada diskusi yang cukup hangat, tersirat keinginan untuk meningkatkan kerjasama dalam pembangunan kapal. Terutama pada pembangunan kapal sejenis “BERLIN NAKROMA”. Namun German masih menunggu kebijakan dari pemerintah Indonesia dalam hubungan bilateral setelah pemilihan presiden RI pada 9 Juli 2014. Karena pembangunan kapal pada industry Galangan adalah sebuah proyek multiyear, yang dapat dikerjakan PAL INDONESIA dalam waktu mendatang.
Kapal Produksi DRU (Madokaichi/DRU)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menganggarkan dana ratusan miliar rupiah untuk pengadaan kapal canggih berukuran besar atau Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia atau SKIPI. Kapal ini akan difungsikan untuk memberantas praktik pencurian ikan (illegal fishing) di perairan laut Indonesia.
KKP telah memesan 4 buah kapal SKIPI dari salah satu produsen kapal laut di dalam negeri, PT Daya Radar Utama. Proses pemesanan sudah berlangsung sejak tahun 2013 dengan nilai kontrak satu kapal mencapai Rp 140 miliar atau totalnya Rp 560 miliar.
"Kita bangun 4 kapal SKIPI. Satu kapal nilainya Rp 140 miliar," kata Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Syahrin Abdurrahman saat ditemui di ruang kerjanya, di Gedung Minabahari III, Kantor Pusat KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (8/07/2014).
Kapal SKIPI ini termasuk kapal besar dengan panjang 60 meter. Kapal ini mayoritas dibuat dengan bahan baku baja asli yang kuat dan tahan lama. Teknologi yang digunakan pun cukup canggih, kapal dilengkapi sonar dan penginderaan jarak jauh serta mesin handal buatan MTU Jerman.
"Kita lihat ya spesifikasinya. Satu kapal SKIPI ini nilainya sama seperti kita bangun GMB (Gedung Mina Bahari) IV. Spesifikasinya hebat. Bahkan banyak orang menganggap mesin yang digunakan paling hebat, kita pakai MTU Jerman ini paling hebat. Kita panggil pakar ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Mesin MTU itu digeber 10 jam nonstop masih meringis-ringis," paparnya.
Kapal ini nantinya akan disebar kedua wilayah perairan Indonesia yaitu bagian Timur dan Barat Perairan Indonesia. Wilayah operasi mencakup spot zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia yang rawan tindakan illegal fishing.
Daerah-daerah itu mencakup Laut Arafura dan Utara Laut Sulawesi (Timur Indonesia) dan Barat Natura serta Laut China Selatan terutama segitiga emas antara Indonesia, Malaysia dan Thailand.
"Intinya kita harus lebih pintar. Kalau kita lebih rapi, kecil kemungkinan terjadi pelanggaran di laut," cetusnya.(wij/hen)Spesifikasi Kapal Pesanan KKP : Empat kapal SKIPI ini mampu tahan berlayar hingga 14 hari karena memiliki ukuran tangki bahan bakar yang lebih besar. Daya bertahan ("endurance") itu jauh lebih tinggi dari 27 kapal patroli pengawas yang kini dioperasikan Ditjen PSDKP yang hanya mampu bertahan dua hari sebelum harus mengisi ulang bahan bakar.
Dengan daya tahan yang cukup lama, empat kapal SKIPI ini diharapkan dapat melakukan patroli semaksimal mungkin dan menjaga potensi perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) daerah Timur dan Barat Indonesia.
"Rencananya dua ditempatkan di wilayah Timur (Stasiun Tual) dan Barat (Stasiun Batam atau Pontianak)," ujar Direktur Kapal Pengawas Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Budi Halomuan.
Kemudian, jarak pantauan radarnya bisa mencapai 120 mil laut (1 mil : 1,8 kilometer), dibandingkan kapal patroli biasa yang hanya 36 mil laut. Kapal yang didesain ini memiliki kecepatan 26 knot.
Posturnya pun lebih gagah dengan panjang 60 meter, dibandingkan kapal patroli biasa yang berukuran 42 meter.
"Akan terdapat ruang laboratorium yang lebih luas dan juga ruang tahanan (untuk nelayan ilegal yang ditangkap)," ujar dia.
Dilengkapi Senjata Kaliber 12,7 mm dan 20 mm
Beberapa bulan lagi TNI AL memiliki kapal survei modern yang canggih dan keren berteknologi tinggi. Kapal yang tengah dibuat di Prancis ini dilengkapi peralatan survei terbaru dan juga senjata kaliber 12,7 mm dan 20 mm. Senjata ini digunakan untuk pertahanan diri.
Senjata kaliber 12,7 mm terdiri dari dua pucuk, akan dipasang di anjungan samping kanan dan kiri. Sedangkan senjata kaliber 20 mm akan dipasang di anjungan bagian depan.
"Senjata ini tidak besar, karena hanya sebagai self defence," kata Dan Satgas BHO (Bantu Hidro dan Oceanografi) Kolonel Budi Purwanto di sela-sela meninjau pembuatan kapal survei untuk TNI AL di galangan kapal pelabuhan Les Sables d'Olonne, Kamis (26/6/2014).
Kapal ini akan dilengkapi juga dengan laboratorium yang berteknologi modern. Kapal juga dilengkapi dengan ruang-ruang tidur tamtama, bintara, dan perwira yang cukup nyaman, karena untuk pemetaan dan survei, personel akan berada di tengah laut hingga berhari-hari. Begitu juga ada ruang makan dan ruang pertemuan yang baik.
Kapal ini akan diawaki sekitar 41 personel, termasuk peneliti dari TNI AL. Rencananya pada bulan Juli nanti, 41 personel ini akan berangkat menuju Prancis untuk melakukan training dan pengenalan kapal.
Mereka nanti yang akan membawa kapal survei pertama ke Indonesia di akhir 2014. Diperkirakan butuh waktu 5 minggu untuk membawa kapal berbobot 500 ton dari Paris hingga tiba di Indonesia.
Kelebihan kapal ini adalah bodi kapal terbuat dari alumunium dan baja, sehingga tidak cepat berkarat. Kapal dengan panjang 60 meter dan lebar 11 meter ini juga akhirnya memiliki berat yang lebih ringan, hanya 500 ton. Padahal, kapal-kapal dengan ukuran yang sama bisa mencapai 1.500 ton.
Lantas, apakah kapal ini akan mudah tergoyang oleh ombak karena berbobot ringan? Ternyata tidak.
Saat ini telah ada teknologi baru menggunakan dynamic tank yang bisa membuat kapal lebih stabil dari goncangan ombak, meski hanya 2,5 meter bagian bawah kapal yang masuk ke dalam air laut.
"Dengan bobot 500 ton, penggunaan BBM juga pasti akan lebih efisien," kata salah seorang perwira Satgas BHO.
Saat ini 6 perwira dari Dinas Hidros (Hidro dan Oseanografi) TNI AL terus memantau pembuatan kapal survei ini. Indonesia memesan dua kapal survei dengan biaya US$ 100 juta.
Kapal pertama akan selesai bulan September 2014 dan akan tiba di Indonesia awal Januari 2015. Kapal kedua akan selesai bulan Agustus 2015 dan akan tiba di Indonesia pada September 2015.
Fungsi utama kapal ini adalah untuk pemetaan dan survei di wilayah perairan Indonesia. Data-data ini sangat penting bila Indonesia mengalami hal terburuk seperti perang. Begitu ada perang, TNI sudah memiliki data-data dari survei dan pemetaan ini, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat terkait pertahanan.
Kapal ini juga bisa dengan cepat mendeteksi benda-benda asing dan mencurigakan di bawah laut, seperti bangkai pesawat yang jatuh atau kapal selam musuh. Kapal ini dilengkapi dengan alat-alat pemetaan tiga dimensi dan bisa menjangkau pemantauan hingga kedalaman 6.000 meter.Indonesia Beli 2 Kapal Survei Canggih TNI AL US$ 100 Juta
Survei dan pemetaan laut menjadi faktor penting bagi pertahanan Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli dua kapal survei canggih dan berteknologi tinggi dari Prancis. Kedua kapal ini dibeli dengan harga US$ 100 juta.
Kedua kapal ini tengah dikerjakan oleh PT OCEA di galangan kapal pelabuhan di Les Sables d'Olonne, sekitar 620 KM dari Paris.
Kesepakatan pembelian dua kapal BHO (bantu hidro dan oseanografi) sudah diteken pada Oktober 2013 lalu dan merupakan tindak lanjut atas hubungan kerja sama pemerintah Indonesia dan Prancis.
"Dulu, sebetulnya yang ikut tender juga Korea Selatan. Tapi, setelah dikaji mendalam, termasuk alat-alat dan teknologi yang digunakan, akhirnya diputuskan memesan kapal dari Prancis," kata Kepala Badan Perencanaan Pertahanan (Kabaranahan) Laksda TNI Rachmad Lubis di sela-sela memantau proses pembuatan kapal di Les Sables d'Olonne, Kamis (26/6/2014).
Kapal ini akan dilengkapi dengan peralatan canggih di bidang oseanografi. Misalnya, kapal ini akan memiliki teknologi untuk memetakan bawah laut hingga kedalaman 6.000 meter. Juga dilengkapi dengan teknologi multi bim yang bisa mencatat gelombang dan frekuensi bawah laut dengan tepat.
"Jadi nanti kapal ini selain bisa digunakan untuk pemetaan laut dan survei, juga bisa mendeteksi benda-benda di laut, seperti dalam pencarian pesawat yang jatuh, dan lain-lain. Kapal ini nanti juga bisa mendeteksi kapal selam musuh yang sedang sembunyi di bawah laut," kata Dan Satgas BHO, Kolonel Budi.
Fungsi utama dari kapal ini adalah untuk pemetaan dan survei di wilayah perairan Indonesia. Data-data ini sangat penting bila Indonesia mengalami hal terburuk seperti perang. Begitu ada perang, TNI sudah memiliki data-data dari survei dan pemetaan ini, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat terkait pertahanan.
Saat ini data pemetaan laut Indonesia sudah tidak diupdate berpuluh-puluh tahun, terutama di perairan kawasan timur. Dengan adanya dua kapal survei canggih ini, Indonesia akan bisa memperbarui data-data pemetaan bawah laut di semua perairan Indonesia. Karena kapal survei, maka di kapal ini juga dilengkapi laboratorium-laboratorium yang canggih.
Sementara Kepala Pusat Pengadaan (Kapusada) Kemhan Marsma Asep S mengatakan desain kapal survei ini diputuskan melalui koordinasi yang mendalam antara Indonesia dengan OCEA. "Desain mengalami penyempurnaan-penyempurnaan. OCEA mengusulkan desain awal, kemudian Indonesia mengoreksi sesuai yang diinginkan kita," kata Asep.
Kapal pertama akan selesai dibuat pada akhir September 2014. Setelah melalui serangkaian administratif, pemberian nama, dan upacara serah terima, kapal ini diperkirakan akan tiba di Indonesia pada awal Januari 2015. Sedangkan kapal kedua, direncanakan selesai dibuat pada Agustus 2015 dan akan tiba di Indonesia bulan September 2015.Melihat Kapal Survei Canggih TNI AL yang Dibuat di Les Sables d'Olonne
Modernisasi alutsista tidak hanya dilakukan pemerintah untuk TNI Angkatan Darat (AD). Untuk TNI AL misalnya, pemerintah saat ini masih menunggu selesainya pembuatan kapal survei canggih yang tengah dibuat di Les Sables d'Olonne, Prancis. Kapal ini sangat penting untuk survei dan pemetaan laut Indonesia.
Bersama delegasi Kementerian Pertahanan (Kemhan), detikcom berkesempatan melihat dari dekat proses pembuatan kapal survei yang memiliki panjang 60 m dan lebar 11 meter ini, Kamis (26/6/2014). Kapal berbobot 500 ton ini dibuat OCEA, perusahaan kapal Prancis, di galangan kapal di pelabuhan Les Sables d'Olonne.
Galangan kapal ini berada sekitar 620 KM dari ibukota Prancis, Paris. Untuk menuju lokasi ini, perlu waktu 2 jam 20 menit naik kereta api hingga stasiun Nantes. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan jalan darat dari stasiun Nantes menuju Les Sables d'Olonne yang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit.
Delegasi peninjauan proses pembuatan kapal ini dipimpin Kepala Badan Perencanaan Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksda TNI Rachmad Lubis, dengan diikuti Kapusada Kemhan Marsma TNI Asep S dan Dirrenbanghan Kemhan Marsma M Safii.
Peninjauan ini merupakan bagian dari rangkaian peninjauan pembuatan tank Leopard di Jerman dan pembuatan meriam Caesar 155 di Roanne, Prancis.
Dalam paparannya kepada delegasi Indonesia, pimpinan OCEA menyampaikan bahwa proses pembuatan kapal survei tahap pertama sudah mencapai 60 persen. Kapal akan selesai dibuat pada bulan September 2014 dan diperkirakan sudah tiba di Indonesia pada awal Januari 2015.
Selain bertemu dan mendengar paparan jajaran pimpinan OCEA, delegasi juga menginspeksi proses pembuatan kapal dan mengecek dari satu bagian ke bagian lain. Rachmad Lubis selaku pimpinan delegasi menanyakan berbagai hal termasuk mengecek ke ruang tidur, ruang makan, laboratorium, tempat mesin, anjungan kapal, hingga buritan kapal.
Pemantauan detikcom, pembuatan dek dan lambung kapal sudah selesai 100 persen. Kapal ini terbuat dari baja dan alumunium. Hingga saat ini pengerjaan masih didominasi dengan berbagai instalasi listrik, AC, saluran air, dan juga pemasangan interior, serta pengecatan. Para pekerja juga masih memfinalisasi ruangan-ruangan kamar dan juga laboratorium.
Kapal survei ini nanti akan digunakan oleh Dinas Hidros (Hidro dan Oseanografi) TNI AL. Proses pembuatan kapal ini juga telah dipantau oleh 6 perwira dari Hidros yang tergabung dalam Satgas BHO (Bantu Hidro Oceanografi) dengan pimpinan Kolonel Budi Purwanto yang merupakan perwira ahli oseanografi. Satgas BHO telah berada di Les Sables d'Olonne sejak 5 bulan lalu. Mereka akan mengawal pembuatan kapal ini sampai tuntas.
Lantas seberapa penting kapal ini bagi Indonesia? Rachmad Lubis menjelaskan keberadaan kapal ini sangat penting dalam melakukan survei dan pemetaan laut Indonesia.
Data-data hasil survei dan pemetaan yang dilakukan kapal ini sangat diperlukan untuk memperkuat pertahanan Indonesia di laut, terutama dalam kondisi pertempuran. "Selama ini kita belum punya kapal survei yang bisa memenuhi kebutuhan Indonesia," kata Rachmad.
Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal survei. Jumlah ini sangat minim, mengingat Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki laut luas dan negara kepulauan.
Dengan adanya kapal survei yang canggih ini, maka TNI AL bisa melakukan pendataan, survei dan pemetaan dengan lebih baik dan presisi serta waktu yang lebih cepat.
"Dua kapal survei selama ini yang kami gunakan sebenarnya hanya kapal biasa yang hanya dipasangi alat-alat pemetaan. Jadi, dua kapal yang kami pakai masih di bawah standar," kata Kolonel Budi.