Pages

Showing posts with label BUMN. Show all posts
Showing posts with label BUMN. Show all posts

Di Bawah Dahlan, BUMN Kapal Ini 'Disulap' dari Mati hingga Sehat

20 October 2014

//images.detik.com/content/2014/10/20/1036/dahan2.jpgSelama menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan memperoleh tanggapan positif dari bawahannya. Salah satunya dari Harry Sampurno, Direktur Utama PT Industri Kapal Indonesia (IKI).

Menurut Harry, Dahlan mampu membantu membantu menyelamatkan BUMN yang sempat mati suri atau setop beroperasi ini. IKI merupakan BUMN yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.

"IKI itu merupakan perusahaan yang awalnya mati, karyawan nggak bisa gajian. Perusahaan setiap hari Jumat didemo karyawan, tapi sekarang menjadi perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia Timur," kata Harry di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (20/10/2014).

Harry menyebut, Dahlan memberi kewenangan penuh kepada direksi untuk mengambil kebijakan atau menerapkan ide-ide cemerlang untuk menyelamatkan dan memajukan perusahaan. Tidak hanya itu, Dahlan secara rutin meninjau IKI tanpa mengenal waktu.

"Beliau mengunjungi IKI selama 4 kali. Kunjungan bisa malam hari bahkan Subuh. Sekarang perusahaan itu sudah hidup. Pak Dahlan kalau punya keinginan, pasti diikuti sampai itu terwujud," sebutnya.

Berhasil 'menyulap' kinerja PT IKI, Harry kemudian dipercaya memperbaiki kinerja BUMN produsen bahan peledak, PT Dahana (Persero). Harry secara bertahap meningkatkan kinerja Dahana. Di antaranya meningkatkan produk yang dihasilkan hingga kinerja keuangan.

Jika ada masalah atau perseroan ingin mengeksekusi rencana, Dahlan dengan mudah bisa dihubungi melalui pesan singkat, sambungan telepon, atau sekedar BlackBerry Messenger (BBM).

"Nggak meski rapat langsung. Cukup telepon atau SMS. Pernah lewat BBM. Saya pernah rapat di dalam mobil dari Bandara Halim sampai Bundaran HI," ujarnya. (feb/dnl)


  detik  

Tol Trans Sumatera jalan tanpa APBN

17 September 2014

Dahlan: tol Trans Sumatera jalan tanpa APBNMeneg BUMN, Dahlan Iskan (ANTARA FOTO/Regina Safri)

Menteri BUMN Dahlan Iskan memastikan proyek Tol Trans Sumatera tetap berjalan meskipun PT Hutama Karya (Persero) sebagai pihak yang ditunjuk membangun jalan sepanjang 2.700 km tersebut tidak mendapat suntikan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN.

"Tol Trans Sumatera tetap jalan. Hutama Karya bersama BUMN lainnya siap bersinergi. Ini bagian dari pengabdian BUMN kepada negara," kata Dahlan, di Jakarta, Rabu.

Hutama Karya hampir dipastikan tidak akan mendapat suntikan modal pada RAPBN 2015 karena Peraturan Presiden (Perpres) penugasan kepada Hutama Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek belum juga turun.

Meski begitu, PMN masih bisa diusulkan kembali dalam APBN-Perubahan 2015, pada saat pemerintahan baru terbentuk.

Sebelumnya, dalam APBN-P 2014 Hutama Karya pernah diusulkan mendapat PMN sebesar Rp 2 triliun tapi mendapat penolakan, karena alasan yang sama Perpres belum turun.

Menurut Dahlan, setelah dipastikan tidak mendapat PMN dan pinjaman dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP), Hutama Karya segera bergerak cepat mencari skema pendanaan.

Ia menjelaskan, skemanya yang ditempuh adalah pola "bangun dan jual".

Saat pengerjaan satu seksi atau ruas jalan selesai sekitar 80 persen, bisa dijual kepada Jasa Marga, atau kepada pihak yang menawar lebih tinggi. Kemudian, dana yang diperoleh dari penjualan dapat digunakan untuk pembangunan seksi berikutnya.

"Saya sih berpikiran Jasa Marga yang menjadi standby buyer," ujarnya.

Pola "bangun dan jual" menurut Dahlan, banyak dilakukan di Tiongkok, dengan sasaran supaya pembangunan cepat selesai dan dana investasi dapat diatasi.

"Semua orang ingin jalan Tol Trans Sumatera, cepat-cepat dibangun. Apalagi yang kita tunggu, karena semuanya sesungguhnya sudah siap," tegas Dahlan.

Menurut catatan, tol Trans Sumatera terbagi menjadi empat koridor utama dan tiga koridor prioritas jaringan jalan tol di Pulau Sumatera.

Keempat koridor utama jaringan jalan tol itu melalui Lampung-Palembang sepanjang 358 kilometer (km), Palembang-Pekanbaru (610 km), Pekanbaru-Medan (548 km), dan Medan-Banda Aceh (460 km). Adapun perkiraan investasi pengerjaan empat koridor jalan tol itu mencapai sekitar Rp 298 triliun.

Tiga koridor prioritas pembangunan, antara lain jalan Palembang-Bengkulu (303 km), Pekanbaru-Padang (242 km) dan Medan-Sibolga (175 km).

  ★ antara  

Cerita BUMN RI Bangun Tol Pertama Malaysia dan Filipina

//images.detik.com/content/2014/09/16/4/073406_tolpriok320.jpgIlustrasi foto: Dok. detikFinance

Sepak terjang bisnis dari Badan Usaha Milik Usaha (BUMN) Indonesia di luar negeri sudah berlangsung sejak lama. Salah satunya dilakukan BUMN konstruksi, PT Hutama Karya (Persero).

Hutama Karya pada era 1990-an sudah melebarkan sayapnya ke Malaysia, Filipina, sampai Papua Nugini menjadi kontraktor untuk proyek-proyek infrastruktur jalan tol hingga jalan utama.

Untuk proyek di Filipina, Hutama Karya pernah membuat proyek Metro Manila Sky Way atau jalan tol layang sepanjang 9,5 kilometer (km). Proyek ini merupakan pembangunan jalan tol terbesar dan pertama di Filipina.

Proses konstruksi berlangsung selama 3,5 tahun yakni dimulai tahun 1996 dengan nilai kontrak US$ 376 juta. Hutama Karya dipilih karena saat itu karena mewarkan teknologi konstruksi sosrobahu karya anak bangsa.

“Hutama Karya pernah pengalaman di Malaysia, Filipina, Papua Nugini. Di Filipina, Hutama Karya yang bikin sky way atau bikin jalan tol pertama kali di Filiphina,” kata Direktur Operasi I Hutama Karya R Soetanto kepada detikFinance di Kantor Pusat Hutama Karya, Jakarta, Selasa (16/9/2014).

Sedangkan proyek di Malaysia adalah pembangunan jalan tol Anyer Hitam sepanjang 10 kilo meter. Proyek yang dibangun tahun 1990-1993 juga merupakan pembangunan jalan tol pertama di negeri jiran tersebut.

“Di Malaysia itu tol. Itu pertama kali Malaysia punya tol dan kita yang bikin,” jelasnya.

Soetanto juga menerangkan tentang perkembangan proyek jalan tol di Malaysia yang saat ini dinilai melampaui pembangunan jalan tol di Indonesia. Di Malaysia proses pembebasan lahan bukan menjadi kendala utama seperti di Indonesia.

“Karena kita susah pembebesan lahannya. Di Malaysia lahannya dari pemerintah,” sebutnya.

Tidak hanya berhenti di situ, Hutama Karya juga berpengalaman membangun proyek jalan utama di Papua Nugini dan Timor Leste.

Untuk Timor Leste, meski bukan lagi menjadi bagian atau provinsi Indonesia namun otoritas di sana berkesan terhadap hasil pekerjaan Hutama Karya. Alhasil pemerintah Timor Leste datang ke kantor Hutama Karya untuk mengundang dan mengerjakan proyek jalan. Saat ini, perseroan masih menunggu pengumuman pemenang tender dari otoritas Timor Leste.

“Kita lagi tender di Dili tapi sekarang belum diumumkan. Mudah-mudahan kita bisa dapat. Itu jalan biasa,” jelasnya.

Saat menggarap proyek di Timor Leste, Hutama Karya akan membawa tenaga ahli atau insinyur untuk melatih tenaga lokal.

“Kita bawa tenaga ahli sehingga mereka terlatih. Kita mengajari. Paling kita kirim beberapa tenaga ahli,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra menjelaskan perseroan saat ini pihaknya masih fokus ke Timor Leste untuk mengerjakan proyek di luar negeri. Meskipun pasar ASEAN saat ini masih terbuka lebar.

“Timor Leste fokus. Baru Tol Trans Sumatera. Kalau kebanyakan, tangkap belalang 5, nanti nggak ada yang ketangkap,” jelasnya.

Putra menjelaskan proyek-proyek di luar negeri memberi hasil atau return yang tinggi terhadap Hutama Karya. Bahkan keuntungan yang dihasilkan bisa 2-3 lipat dibandingkan proyek di dalam negeri.

  ★ detik  

Mimpi BUMN Dhuafa Kuasai Pasar Nuklir Kesehatan Dunia

03 July 2014

Mimpi BUMN Dhuafa Kuasai Pasar Nuklir Kesehatan DuniaPT Industri Nuklir Indonesia (INUKI) relatif jarang terdengar. Siapa sangka meski jarang tampil, namun INUKI mampu membuktikan prestasi yang cukup mencengangkan.

INUKI bersama SHINE Medical, USA, bersepakat mengembangkan pabrik nuklir untuk kebutuhan kesehatan (radioisotop). Kerjasama tersebut menghasilkan pengolahan radioisotop tanpa harus membuat reaktor nuklir.

Pabrik nuklir yang memakan investasi US$ 140 juta tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2017. Saat beroperasi, pabrik tersebut mampu memproduksi 4.000 curie per minggu.


Direktur Utama PT Industri Nuklir Indonesia (Persero) (INUKI), Yudi Utomo Imardjoko menjelaskan langkah INUKI tersebut merupakan rencana perseroan menjadi pemimpin pasar produk nuklir kesehatan dunia.

"Kita berbisnis dan kita kejar-kejaran tahun 2017. Kalau kita menang, kita jadi pemasok nomer 1, kita punya bisnis untuk 50 tahun ke depan," kata Yudi kepada detikFinance, seperti dikutip, Rabu (2/7/2014).

Pabrik penghasil radioisotop rencananya mampu memasok ke 1.500 rumah sakit di negara paman sam. Selain mengembangkan pabrik penghasil radioisotop di AS, INUKI juga berencana membangun pabrik generasi terbaru penghasil radioisotop di tanah air. Lokasinya akan dipilih di dekat akses bandara.

INUKI tidak akan membangun reaktor karena teknologi terbaru telah ditemukan. Rencananya pabrik terbaru akan digunakan memasok nuklir kesehatan untuk rumah sakit dalam dan luar negeri.

"Indonesia radioisotop dipasok ke 16 rumah sakit, kemudian ekspor ke Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, Bangladesh," sebutnya.

Siapa sangka rencana besar INUKI ternyata datang dari BUMN yang sempat berdarah-darah secara keuangan. Dahlan pun sempat menjuluki INUKI sebagai BUMN Dhuafa. Yudi menilai kinerja keuangan perseroan akan tampak kinclong ketika pabrik baru di Indonesia dan Amerika Serikat mulai produksi.

"Kerugian saat ini baru berkurang 50%. Prestasinya kita akan terlihat setelah fasilitas akseletor dan semua peralatan baru beroperasi pada tahun 2018," papar Yudi.


Yudi menjelaskan, radioisotop merupakan teknologi paling akurat untuk mendeteksi penyakit. Menurutnya deteksi atau diagnosa penyakit sangat penting bagi dokter di dalam mengambil keputusan bagi pasien.

"Keakuratan paling tinggi di antara yang lain seperti CT Scan, X-Ray hingga infra-red," jelasnya.

  detik  

Berhalo-halo Bandung untuk ekspansi ke Aljazair

30 June 2014

Berhalo-halo Bandung untuk ekspansi ke AljazairMenteri BUMN Dahlan Iskan (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Jakarta
Akhirnya dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berhasil masuk ke Aljazair. Sebuah negeri yang begitu bangga pada Indonesia. Juga pada Bung Karno. Dan tentu kini juga bangga pada sepak bolanya.

Negeri asal-usul Zinedine Zidane ini untuk pertama kalinya berhasil masuk babak 16 besar Piala Dunia.

Dua BUMN itu adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika dan PT Pertamina (Persero).

Aljazair lebih muda dari Indonesia. Negeri di Afrika Utara ini merdeka dari Prancis tahun 1956. Indonesia dianggap berjasa karena kemerdekaan itu terjadi hanya setahun setelah tokoh-tokoh perang kemerdekaannya menghadiri KTT Asia Afrika, yang diselenggarakan oleh Bung Karno di Bandung.

Utusan Aljazair ketika itu adalah Hocine Ait Ahmed dan Mhammed Yazid. Ada satu tokoh lagi bernama Chedli Mekki yang ngotot ingin hadir. Setelah terjadi tarik-menarik kecil, akhirnya disepakati tiga-tiganya jadi utusan resmi dengan ketua delegasi Hocine Ait Ahmed. Prancis marah. Bung Karno diprotes keras karena memosisikan Aljazair sebagai negara merdeka.

Di Bandung itulah gerakan menuntut kemerdekaan dimantapkan. Tiba kembali di Aljazair, mereka menetapkan kota di pegunungan Batna sebagai pusat revolusi pembebasan. Kota Batna kira-kira 500 km di timur Algier, ibu kota Aljazair. Itulah sebabnya, Batna ditetapkan sebagai kota perjuangan.

Wika kini membangun highway menuju arah timur negeri itu. Dengan highway baru ini jarak dari ibu kota ke Constantine, kota terbesar kedua di Aljazair, bisa ditempuh dalam tiga jam. Padahal jaraknya seperti Jakarta-Semarang.

Baru di jalan inilah saya merasakan naik mobil dengan kecepatan 180 km per jam. Kemulusan, kelapangan, dan kelonggaran lalulintasnya memang memungkinkan kendaraan dipacu maksimal. Jalan dua arah ini masing-masing tiga lajur. Mirip jalan dari Mekah ke Madinah. Tidak perlu bayar tol.

Memang tidak semua dibangun Wika. Tapi justru itu kita bisa membandingkan kualitasnya. Sebagian ruas dibangun kontraktor Tiongkok dan sebagian lagi kontraktor lokal. Tapi pejabat yang kompeten di Aljazair mengatakan kepada saya: yang dibangun Wikalah yang terbaik.

Penilaian yang membanggakan itu saya umumkan saat saya bertemu seluruh pekerja Wika di base camp mereka, di tengah-tengah padang perbukitan yang luas antara Algier dan Constantine. Mereka yang umumnya dari Jember, Wonosobo, Cilacap, Bandung, dan Cirebon bertepuk tangan. Jumlah pekerja dari Indonesia sampai 1.200 orang.

Dengan reputasi yang begitu bagus Wika akan terus dapat proyek di sana. Dan kian panjang pula daftar pengalaman Wika di negara-negara Arab. Stasiun monorel di tengah kota Dubai itu Wika yang membangun.

Bahkan Wika pernah membangun mal di ibu kota Libya, Tripoli. Namun ketika mal itu hampir tuntas meletuslah revolusi rakyat untuk menjatuhkan presiden Muammar Qadafi.

"Kami sudah diminta kembali menyelesaikan mal itu, tapi kami tunggu dulu kapan Indonesia membuka kembali kedutaan di Tripoli," ujar Bintang Perbowo, Dirut Wijaya Karya.

Hari itu, meski hanya satu malam di Aljazair, saya memilih bermalam di kota Contantine. Pukul 21.00 waktu setempat kami baru tiba di kota itu. Langsung makan kambing Arab dan nonton pertandingan sepak bola di TV sampai pukul 01.00 dini hari. Maklum sepak bola Aljazair lagi naik daun. Habis subuh kami menyusuri jalan yang sama kembali ke Algier.

Meski memakan waktu tiga jam, perjalanan ini tidak melelahkan. Di samping karena jalannya sangat mulus, dubes kita di Aljazair Achmad Niam Salim yang mendampingi saya, ahli bercerita. Mulai kondisi di Aljazair, praktik-praktik keagamaan madzhab Maliki yang dianut di Aljazair, sampai ke humor-humornya yang segar.

Khas ulama muda NU yang cerdas. Dia memang diplomat nonkarir. Dia pengurus DPP PKB.

Saya, yang seperti umumnya orang Indonesia termasuk bermadzhab Syafii, bisa banyak bertanya mengenai penganut Maliki. Sebagai orang yang juga pernah hidup di tengah-tengah muslim bermadzhab Hambali di Tiongkok dan Asia Tengah, maka pengetahuan saya tentang madzhab Maliki menjadi lebih hidup.

Tentu saya berterima kasih pada Pak Niam Salim. Pak Dubes ini berperan besar dalam membantu BUMN masuk ke Aljazair.

Di Aljazair inilah untuk pertama kalinya Indonesia tercatat memiliki ladang minyak di luar negeri. Sudah lama Pertamina berusaha masuk ke Vietnam, Malaysia, Irak, dan Venezuela. Namun sulitnya bukan main. Baru di Aljazair inilah menjadi kenyataan yang benar-benar nyata.

Maka kalau selama ini kita kebanjiran perusahaan minyak asing, kini kita mulai menjadi perusahaan minyak asing di negeri orang.

Saya bersyukur Pertamina berhasil masuk Aljazair. Lebih bersyukur daripada, misalnya, waktu itu berhasil masuk Venezuela. Rasanya kita akan lebih mantap berusaha di Aljazair ini, antara lain karena adanya hubungan sejarah yang lebih dalam dengan Indonesia. Orang-orang Aljazair merasa bersaudara dengan Indonesia.

Dari Constantine saya langsung ke kantor Pertamina. Semula saya tidak ingin memberitahu kedatangan saya ini, namun karena Sabtu itu hari libur saya khawatir kantornya tutup. Maka begitu mendarat di Algier dari Casablanca, Maroko, saya memberitahu mereka.

Ternyata, meski Sabtu, kantor Pertamina di Algier ramai sekali. Kebetulan Dirut PT Pertamina Aljazair, anak perusahaan Pertamina yang dibentuk khusus untuk usaha di sana, Djoko Imanharjo lagi berkunjung ke Algier. Vice President yang juga country manager Eko Rukmono dan semua manajer lapangan juga lagi kumpul. Rupanya mereka mau rapat.

Mengingat besarnya simpati pemerintah Aljazair kepada Indonesia, tak ada salahnya Pertamina menjadikan Aljazair sebagai basis pengembangan untuk kawasan Arab dan sekitarnya.

Dari kunjungan ini saya menangkap suasana kebatinan yang mantap untuk memperkokoh pijakan kita di Aljazair. Wika sudah hampir merampungkan proyek pertamanya. Ini nyata. Pertamina sudah benar-benar mulai mengoperasikan ladang minyaknya. Ini juga nyata. Bahkan Pertamina sudah tiga kali mengapalkan hasil minyak mentahnya dari Aljazair dengan total hampir 1 juta barel.

Semangat Bandung rasanya bisa terwujud nyata di sini. Baik partner Wika maupun mitra Pertamina sangat emosional. Setiap kali mereka berkunjung ke Indonesia selalu minta diantar ke Bandung. Mereka ingin tahu gedung KTT Asia Afrika.

"Sampai sampai saya malu. Saya sendiri belum pernah masuk gedung itu," ujar seorang manajer Pertamina. "Ketika mengantar mereka, saya terperangah. Mereka sampai sujud di dalam gedung itu. Mereka berdoa seperti tidak habis-habisnya bersyukur. Mereka tahu di kursi mana pemimpin mereka duduk, dan posisinya di sebelah siapa dari negara mana," katanya.

Saat terbang meninggalkan Aljazair saya tercenung. Kita harus lebih serius. Pembangunan di Aljazair begitu banyak. Setiap kota lagi membangun kota baru. Algier sendiri sedang membangun water front city yang baru. Ini akan jadi bagian kota yang paling indah.

Di situ juga lagi dibangun masjid yang akan menjadi terbesar dan terindah di Aljazair. Dan yang membangun adalah: kontraktor dari Tiongkok. Selamat berjuang, Pak Bintang!

Pertamina juga sudah kian tahu begitu banyak ladang minyak baru di Aljazair. Selamat berjuang, Bu Karen!

Anda berdua bisa berhalo-halo Bandung di sana!(E007/Z002)

  ★ Antara  

Dahlan Saksikan Penandatanganan MoU Pengembangan Nuklir antara AS dan BUMN RI

17 June 2014

Memorandum of UnderstadingDahlan Saksikan Penandatanganan MoU Pengembangan Nuklir antara AS dan BUMN RIMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bersama rombongan terbang ke Washington, Amerika Serikat (AS) untuk menyaksikan momen bersejarah.

Badan Usaha Milik Negara, PT INUKI (Persero) dan anak usaha PT Dirgantara Indonesia (Persero) yakni IPTN North America Inc melakukan memorandum of understading (MoU) pengembangan dan produksi bersama produk nuklir kesehatan yakni low energy uranium.

"Penandatangan MoU antara SHINE Medical, USA dengan INUKI dan IPTN North America tentang produksi bersama low energy uranium," kata Staff Khusus Menteri BUMN Abdul Aziz kepada detikFinance, Selasa (17/6/2014).

Aziz yang ikut menemani Dahlan menjelaskan acara kerjasama ini juga difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington. Di dalam foto yang diterima, terlihat Dahlan bersama istri memakai batik.

Hadir pula Dirut INUKI Yudi Utomo Imardjoko, Dirut IPTN North Amerika Gautama Indra Djaja, dan CEO SHINE Medical Technologies Gregory Piefer. Kerjasama ini, Indonesia menyediakan tenaga ahli sementara SHINE menyediakan peralatan.

"Teknologi dari peneliti-peneliti Indonesia dan Amerika menyiapkan seluruh peralatan produksi di USA," sebutnya.

Untuk pengembangan dan produksi bersama produk nuklir kesehatan itu, dibutuhkan investasi sebesar US$ 600 juta atau sekitar Rp 6 triliun. Setelah beroperasi, produk nuklir tersebut diapakai untuk berbagai kebutuhan medis.

"Digunakan untuk medical/kedokteran, mengetahui diagnosa di mana penyakit itu berada dan mengobati penyakitnya," terangnya.

Usai menyaksikan acara MoU, Dahlan direncanakan menuju markas SHINE Medical. Setelah itu rombongan terbang menuju Aljazair untuk melihat proyek jalan yang dikerjakan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

"Sore ini akan ke Madison di Wisconsin pusatnya Shine Medical, besok pemaparanya di University of Wisconsin, lusa ke Aljazair melihat proyek jalannya WIKA," ujarnya.

  detik 

PT INTI, Penyokong Industri Telekomunikasi dari Bandung

21 May 2014

INTI juga mulai merambah bisnis ke luar negerihttp://statik.tempo.co/data/2012/07/30/id_133315/133315_620.jpgJakarta □ PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau disingkat INTI adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini menyokong industri telekomunikasi Indonesia.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Rabu (21/5/2014), PT INTI sudah berkiprah lebih dari 35 tahun sejak didirikan. Perusahaan pelat merah ini menjadi pemasok utama pembangunan jaringan telepon nasional yang dilakukan oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT).

Selain itu, INTI juga punya pelanggan tetap di industri yang sama yaitu anak usaha Telkom, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), dan PT XL Axiata (EXCL).

Dulu INTI hanya melayani bisnis manufaktur berbagai produk telekomunikasi, namun seiring dengan berkembangnya tren konvergensi antara teknologi telekomunikasi dan teknologi informasi (IT), INTI telah melakukan perubahan orientasi bisnis menjadi industri berbasis solusi kesisteman, khususnya dalam bidang sistem infokom dan integrasi teknologi.

Sejak pertengah tahun 2000-an INTI menangani solusi dan layanan jaringan tetap maupun seluler serta mengembangkan produk-produk seperti IP PBX, NMS (Network Management System), SLIMS (Subscriber Line Maintenance System), NGN Server, VMS (Video Messaging System), GPA (Perangkat Pemantau dan Pengontrol berbasis SNMP), Interface Monitoring System untuk jaringan CDMA, dan Sistem Deteksi dan Peringatan Bencana Alam (Disaster Forecasting and Warning System).

INTI juga mulai merambah bisnis ke luar negeri, salah satunya untuk penyediaan kabel optik di negara-negara berkembang. Program terbaru dari INTI adalah pemasangan Sistem Monitoring dan Pengendalian bahan bakar minyak (SMP BBM) atau dikenal dengan RFID bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero).(ang/hen)


  detik  
 

Populer