Pages

Kisah Jokowi Versi Majalah Time

22 October 2014

Berikut liputan majalah Time perihal Presiden Terpilih Rakyat Indonesia yang dilansir Tempo online.Jokowi Jadi Cover Majalah Timehttp://4.bp.blogspot.com/-ndGbDyIu-ok/VEM6LMs7iyI/AAAAAAAAA_s/Fk0jCq4Pegg/s1600/hk_z1500_jokocvr.jpgMenjelang pelantikannya yang tinggal hitungan hari, Presiden Indonesia terpilih Joko Widodo menjadi cover majalah prestisius, Time, yang terbit hari ini, Kamis, 16 Oktober 2014.

Majalah Time memasang foto close up wajah Jokowi sebagai sampulnya. Jokowi, yang mengenakan batik warna cokelat, terlihat serius pada foto tersebut, memicingkan mata dan tanpa senyum.

Pada bagian kiri cover tertulis "A New Hope" (Harapan Baru). Di bawah tulisan tersebut tertulis kalimat "Indonesia President Joko Widodo Is A Force of Democracy" (Jokowi adalah kekuatan untuk demokrasi).

Adapun tulisan tentang Jokowi pada majalah Time dibuka dengan gambaran kesederhanaannya. Time menuliskan bagaimana Jokowi berbaur dengan masyarakat lewat pilihannya duduk di kursi ekonomi pada penerbangan Garuda Indonesia GA 226 menuju Solo beberapa waktu yang lalu.
Tiga Kali Menjadi Sampul Majalah Internasionalhttp://assets.kompasiana.com/statics/files/1403335841417504316.jpgPresiden terpilih, Joko Widodo, sudah tiga kali menjadi tokoh utama pada halaman muka majalah internasional. Mantan Wali Kota Surakarta ini pernah dimuat pada halaman muka majalah Globe Asia dan Fortune. Pemuatan terbaru ialah di majalah TIME pada edisi 27 Oktober 2014.

Majalah Globe Asia menjadikan Jokowi sebagai tokoh pada edisi Januari 2014. Majalah terbitan Globe Media Group ini menyematkan gelar "Man of the Year" pada Gubernur DKI Jakarta 2012-2014 itu.

Dalam uraiannya, Globe menjelaskan Jokowi sebagai pemimpin yang mendefinisikan ulang arti kepemimpinan. Gaya sederhana dan membumi disebut oleh majalah berbahasa Inggris ini sebagai kunci kepemimpinan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. "The next stage The Presidency," tulis Globe Asia.

Jokowi juga pernah menjadi tokoh utama pada halaman muka majalah Fortune edisi Maret 2014. Jokowi disebut sebagai 50 pemimpin terbaik di dunia, bersanding dengan mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Jokowi menduduki peringkat ke-37. "Virus blusukan membawa perubahan gaya kepemimpinan di Indonesia," tulis Fortune Indonesia.

Penampilan Presiden Indonesia ketujuh itu pada halaman muka majalah internasional akan muncul di majalah TIME edisi 27 Oktober 2014. Dalam narasinya, majalah yang berbasis di Amerika Serikat itu menyebut Jokowi sebagai harapan baru. "A New Hope", tertulis di sampul depan majalah TIME dengan huruf kapital putih bersanding dengan potret close-up wajah Jokowi yang mengenakan batik cokelat.

Mantan Wali Kota Solo itu disebut sebagai presiden dari negeri dengan populasi terbesar keempat di dunia, kaya sumber daya alam, dan negara demokrasi dengan pemeluk Islam terbesar di dunia.
Lima Tantangan Jokowihttp://img.lensaindonesia.com/thumb/350-630-1/uploads--1--2014--10--24895-sby-jokowi-ok-persilahkan-duduk-di-kursi-presiden-ajak-tepuk-tangan-buat.jpgPada 20 Oktober 2014, Indonesia secara resmi telah memiliki pemimpin baru. Joko Widodo terpilih sebagai presiden ketujuh Indonesia menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Terpilihnya Jokowi, sapaan Joko Widodo, menjadi sorotan dunia internasional. Memimpin negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Jokowi dinilai majalah Time memiliki lima tantangan utama dalam menjalankan pemerintahannya kelak. Di bawah ini lima tantangan yang akan dihadapi Jokowi, seperti dilaporkan Time, Senin, 20 Oktober 2014.

 1. Kesemrawutan Politik 

Meski secara sah menjadi orang nomor satu di negeri ini, sebagian besar kursi parlemen diisi oleh Koalisi Merah Putih yang dipimpin Prabowo Subianto. Alih-alih menyuarakan suara rakyat, para anggota Dewan dikhawatirkan akan ditunggangi oleh kepentingan golongan tertentu yang bisa mengganggu pemerintahan Jokowi. Pria asal Solo ini harus mampu menyusun strategi untuk menghindari terjadinya kudeta legislatif.

 2. Perlambatan ekonomi 

Dengan memudarnya ledakan komoditas, pertumbuhan tahunan yang hanya mencapai 6% terlihat lebih sulit untuk dipertahankan. Jokowi menjanjikan pertumbuhan 7% pada tahun 2018 dengan memindahkan Indonesia ke atas rantai nilai serta meningkatkan logistik dan posisi negara kepulauan terbesar di dunia sebagai pusat transportasi global.

 3. Ekstremisme agama 

Sejak serangan bom merusak Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 2009, Indonesia tidak mengalami serangan teroris besar lainnya. Namun, hanya dengan satu serangan bom lagi saja, kepercayaan bahwa Indonesia telah menekan gelombang ekstremis bisa memudar.

 4. Birokrasi Kotor 

Jokowi telah mengambil hati rakyat dengan gerakan anti-korupsinya selama menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Dengan gebrakannya, ia mampu membersihkan birokrasi daerah yang terkenal kotor. Namun, apakah hal ini mampu ia terapkan di setiap tingkat pemerintahan saat menjadi presiden?

 5. Rasisme 

Saat menjabat sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi memilih pemimpin yang kebetulan berbeda keyakinan dengannya. Apalagi saat memimpin Jakarta. Jokowi memilih seorang beretnis Tionghoa penganut Kristen, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok, sebagai wakilnya. Etnis Tionghoa sering kali menderita karena diskiminasi ras di negeri ini. Meskipun Indonesia diakui sebagai negara yang menjunjung tinggi keanekaragaman suku, agama, dan ras, kelompok hak asasi khawatir kepemimpinan Jokowi akan dihantui dengan peningkatan intolerasi etnis dan agama.
Alasan Jokowi Jadi Pemimpinhttp://www.tempokini.com/wp-content/uploads/2014/05/fortunemag.jpgJoko Widodo mungkin tidak pernah membayangkan dirinya akan memimpin Republik Indonesia ketujuh. Namun, sejak menjabat sebagai Walikota Solo, pria yang akrab disapa Jokowi ini sudah mempunyai misi menghapus korupsi.

"Saat saya masih bergelut di dunia bisnis, saya merasakan sendiri bagaimana mengurus semuanya (berurusan dengan instansi). Anda harus memberika amplop (uang) atau aplikasi tidak akan dikerjakan selama berbulan-bulan, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Itulah sebabnya, saat saya menjadi Walikota Solo, saya ingin memastikan bahwa hal ini harus diubah," kata Jokowi kepada majalah Time yang menulis halaman khusus sebanyak enam halaman dalam edisi 27 Oktober 2014 dengan judul "The New Face of Indonesian Democracy".

Kepada Time, Jokowi ingin mengupayakan kampanye antikorupsi untuk Indonesia di masa depan. Dengan "mantra" antikorupsi yang selalu dijunjung tinggi, Jokowi yakin bisa menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara terkorup di urutan 144 dari 177 negara. Caranya, Jokowi akan memangkas subsidi bahan bakar minyak dan memperkuat penarikan pajak di negaranya.

"Dengan menunjukan kepada masyarakat bahwa kita bisa berubah, bisa mentaati aturan, maka kita akan mengubah keadaan," kata pria berusia 53 tahun ini.

Time menulis, saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi juga mengecek sendiri ---yang dikenal sebagai blusukan-- proyek pembangunan yang molor. Jokowi mengaku cara itu ampuh memuat orang-orang yang terlibat di dalamnya menjadi takut.

"Saya ingin orang-orang takut sama saya, jadi mereka akan lebih mendengarkan instruksi saya. Jika ada yang tidak patuh...," kata Jokowi sambil menaruh jarinya ke leher sebagai simbol memenggal.[RINDU P. HESTYA]
Jokowi Menginspirasi Santri NgrukiLiputan Time, Ini Alasan Jokowi Mengenakan BatikSosok presiden ketujuh Indonesia, Joko Widodo, yang dikenal rendah hati, merakyat, dan pekerja keras telah menginspirasi seorang santri bernama Faris. Remaja 17 tahun itu tercatat sebagai santri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pondok pesantren ini sering dikaitkan dengan jaringan terorisme.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Time edisi 27 Oktober 2014, Faris mengatakan punya banyak mimpi, dan Jokowi telah memotivasinya untuk mewujudkan mimpi tersebut.

“Saya punya banyak mimpi, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Pak Jokowi memberi saya harapan karena ia juga memulai mimpinya dari nol,” ujar Faris.

Jokowi, tulis majalah Time, tumbuh di tengah keluarga sederhana di sebuah perkampungan di Solo. Karena dilanda kemiskinan, keluarga Jokowi selalu memberikan aspirin untuk mengobati apa pun penyakit Jokowi. Namun, berkat kegigihannya, Jokowi bisa menjadi pengusaha furnitur yang sukses.

Lelaki itu kemudian terjun ke dunia politik dan terpilih menjadi Wali Kota Surakarta. Pada periode kedua kepemimpinannya di Solo, Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta dan mengalahkan calon inkumben Fauzi Bowo. Baru setahun lebih menjabat, dia terpilih sebagai Presiden RI.

“Jika melihat dari asalnya, ia (Jokowi) seakan-akan tidak pantas bermimpi, menjadi wali kota, menjadi gubernur, apalagi menjadi presiden. Bahkan sekarang banyak orang masih tidak percaya ia mampu melakukannya,” tulis Time mengutip pernyataan Mooryati Soedibyo, CEO perusahaan kosmetik Mustika Ratu.[ANINGTIAS JATMIKA]
Alasan Jokowi Mengenakan Batikhttp://assets.kompas.com/data/photo/2014/10/20/21275671-312foto92780x390.JPGPernahkan Anda bertanya, mengapa Jokowi selalu mengenakan batik?

Sejak peristiwa bom bunuh diri di Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton Jakarta tahun 2009, Indonesia diliputi ancaman terorisme. Dan Solo terkenal sebagai sarang teroris.

"Setiap saya pergi ke suatu tempat dan saya mengatakan bahwa saya dari Solo, yang mereka tahu hanya Ngruki," kata Jokowi."Sekarang, walaupun masih banyak yang mengartikan Solo sebagai "kriminal", masih ada yang mencetuskan 'Batik Solo'" tambahnya.

Dilansir dari Time edisi 20 Oktober 2014, usaha Jokowi untuk merubah paradigma tak hanya sebatas 'Solo'. Beliau juga memasukkan unsur pluralisme dalam setiap keputusannya. Terbukti wakil walikota Solo saat beliau menjabat adalah seorang Katolik. Saat beliau menjabat Gubernur Jakarta, wakilnya adalah seorang Kristiani dan beretnis Tionghoa. Hal yang sama diaplikasikan untuk kelompok-kelompok minoritas yang lain.

Jokowi memiliki motto untuk Indonesia : Unity in Diversity, "Apa yang membuat Indonesia bersatu adalah sikap mdoerat dan toleransi. Hal tersebut adalah DNA kita."[INTAN MAHARANI | TIME]


  Tempo  

No comments:

Post a Comment

 

Populer