Pages

September Ceria ..

28 September 2014

Bulan Alutsista TNI SEPTEMBER CERIA itulah sebutan yang bisa dirasakan para penjaga tanah air Indonesia, seperti nama lagu pop di era 80an, lagu ceria yang menampilkan alutsista baru TNI dalam memenuhi kebutuhan dalam menjaga kedaulatan bumi pertiwi.

Mengutip berita yang didokumentasikan Blog Garuda Militer, beberapa Alutsista berdatangan dibulan September yang ceria ini. Mulai dari Main Battle Tank, Pesawat, Kapal perang maupun Roket yang berhasil diluncurkan LAPAN, serasa memenuhi dahaga alutsista TNI yang selama ini dinilai kurang.

Tentu semua alutsista ini bukan yang terbaik, tapi patut dibanggakan karena menambah taring TNI dalam menjaga NKRI maupun siap bertempur bila diperlukan.

Sudah lama TNI tidak memperbaharui alutsistanya, baru beberapa tahun terakhir alutsista ini mulai nampak menjejalkan amunisi TNI dalam gudangnya. Dimulai dari krisis ekonomi 98 sampai sekarang, tak terasa alutsista baru menampakkan diri di bumi pertiwi.

Beberapa alutsista ini merupakan jerih payah usaha Kemhan bersama TNI yang tentunya di bawah kepemimpinan dan persetujuan SBY dalam era reformasinya yang kita rasa sebelumnya seperti 'kapal tanpa komandan' atau disebut populernya berjalan apa adanya.

Kita patut apresiasi bahwa di era SBY alutsista TNI bertambah dengan pasti. Tak salah pada HUT TNI ke 69, TNI pun langsung menampilkan alustsista barunya didepan SBY sebagai rasa apresiasi penghormatan tertinggi kepadanya, sebelum pergantian Presiden di bulan Oktober 2014 ini. Tak luput diundang, rencananya Presiden terpilih Indonesia, Jokowi pun turut hadir menyaksikan kemegahan HUT TNI ke 69, dan mungkin termasuk parade militer terbesar selain era Soekarno.

Terlihat TNI memprioritaskan kuantitas daripada kualitas. Beberapa alutsista ini tampil belum maksimal atau biasa disebut sebagai "fit but not with" yang selalu mengganggu keberadaan alutsista ini dalam operasionalnya yang tentu tidak akan maksimal. Dan seperti biasa dana sebagai biang keladinya yang selalu menjadi momok TNI dalam mengejar ketertinggalan alutsistanya selama ini dari para tetangga di kawasan.

Sebagai pencita militer, berharap TNI mendapat alutsista yang terbaik tanpa harus mengurangi keprofesionalnya, karena alasan alat belum tersedia ataupun belum mahir karena belum adanya pengalaman dalam menggunakan alutsista yang canggih dan modern. Dan tentunya kebiasaan yang selalu diumumkan di media untuk menjaga keseimbangan kawasan sangat naif, Tentu semua itu tidak selalu benar, karena terbukti tetangga berlomba-lomba memesan peralatan yang modern bin canggih secara gamblang maupun tersembunyi tanpa memperdulikan kesimbangan dengan alasan menjaga keamanannya.

Dari pengalaman yang sudah ada, tentunya TNI harus lebih memikirkan kehandalan alutsistanya daripada selalu memikirkan keseimbangan kawasan. Dari pantauan militer di google pun terlihat bahwa alutsista kita masih kurang bergigi dari tetangga, tentunya dengan kualitas yang seadanya ini.

Semoga kedepan dengan bertambah baiknya ekonomi Indonesia, perihal yang menjadi momok tersebut dapat di rubah kebiasaannya dengan lebih melihat ancaman yang lebih besar, karena dalam peta nampak jelas bahwa bumi pertiwi ini sangat luas dan perlu banyak alusista yang modern dan canggih untuk menjaganya.

Kembali ke bulan September Ceria ini kita berharap TNI kedepan mulai mendapatkan alutsistanya yang lebih baik. Aamiin ...

Berikut beberapa Alutsista yang diberitakan media :
Leopard 2A4 dan IFV Marder 1A3 Penampakan Alutsista terbaru TNI AD di Tanjuk Priok (Aries)

52 kendaraan Militer dari Jerman tiba di Jakarta. Dimulai pada tanggal 31 Agustus Malam, alutsista kebanggaan TNI AD ini mulai keluar dari kapal satu persatu langsung di parkir di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sebanyak 52 tank yang terdiri dari 24 tank Leopard dan 28 tank Marder itu selanjutnya akan dibawa ke Surabaya untuk memeriahkan parade militer saat HUT TNI pada 7 Oktober mendatang. Kedatangan Alutsista ini sempat ditunggu para pencita militer dengan berusaha mencari info terkini via internet untuk memastikan kedatangannya di Jakarta. Seperti diketahui bahwa MBT ini merupakan polemik di dalam maupun di Jerman sendiri, dan termasuk era pembaharuan di bumi pertiwi yang sebelumnya hanya mengandalkan light tank.
LAPAN sukses uji roket http://1.bp.blogspot.com/-4dzqfeBzJbY/UNVUicpkuLI/AAAAAAAAAU8/11ioo9netT8/s1600/5e304d46.jpg1 September, Lapan menguji beberapa roket pertahanan maupun untuk keperluan damai seperti roket pendorong satelit (RPS).

Dalam pengujian tersebut, Lapan menyatakan telah sukses menerbangkan dua roketnya yaitu RX-320 dan RSX-100. Lalu, untuk RX-450 berhasil menguji karakteristiknya.

Pengujian itu juga akan ditindaklanjuti untuk pengembangan dan penelitian serta sebagai bentuk kemandirian Lapan untuk menguasai teknologi, khususnya di peroketan.
Oerlikon Skyshield Oerlikon Skyshiel 35 Mk2 (PT Alam Indomesin Utama)

Dari laman PT AIU kembali menampilkan alusista pertahanan titik yang modern. Alutsista ini menurut laman ARC sedianya akan tiba di tahun 2015, namun kembali karena akan ditampilkan pada HUT TNI di Surabaya, Alutsista inipun dikebut pengadaannya dan telah tiba beberapa unit.

Selain itu, PT. Alam Indomesin Utama juga bertanggung jawab selain pengadaan/karoseri kendaraan pengangkut juga turut dalam pelatihan operasional Oerlikon Skyshield. Meriam perisai udara itu dipesan Kementerian Pertahanan dengan harga US$ 202 juta.

Senjata Oerlikon Skyshield 35 Mk 2 adalah senjata Penangkis Serangan Udara kaliber 35 mm yang dioperasikan secara automatis dan akan diintegrasikan dengan Chiron missile buatan Korea.

Sedangkan Chiron Missile memiliki data teknik, jarak maksimum 7 km, Jarak efektif 3-5 km, ketinggian 3,5 km, berat missile 20 kg, fuse impack dan proximity, diameter 80mm, launcher pedestal.
KRI Bung Tomo 357 KRI Bung Tomo 357 bersama KRI OWA (Pelisaurus)

Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) yang sempat ramai di beritakan ini, akhirnya merapat ke Belawan pada tanggal 8 September 2014. Kedatangannya sempat di jemput Kapal perang TNI AL, KRI Oswald (KRI OWA).

KRI Bung Tomo merupakan salah satu dari tiga kapal perang yang dibuat di Inggris. Merupakan kapal perang terbaru tipe fregat ringan yang mempunyai berat 2.300 ton, panjang 95 meter dan lebar 12,7 meter. Kapal ini didukung empat motor pendorong pokok Codad (Combined Diesel and Diesel) yang mampu berlayar dengan kecepatan maksimal 31 knots.

Kapal ini juga dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan kendali persenjataan mutakhir yang terintegrasi dengan baik, yaitu meriam utama Oto Melara kaliber 76 mm, meriam penangkis serangan udara DS 30 B Remsig kaliber 30 mm, torpedo antikapal selam Thales Sensor Cutlass 242, rudal permukaan ke udara SAM Vertical Launch Sea Wolf dan Rudal Exocet MM 40 Block II. Kedepan SAM yang sudah tidak diproduksi tersebut akan diganti dengan jenis Mica.
KCR 60 PAL KRI Halasan 630 (Suarasurabaya)

Untuk ketiga kalinya PT PAL Indonesia meluncurkan kapal Rudal Cepat (KCR) 60 meter. PAL Indonesia menampilkan kapal tersebut yang diresmikan Menhan Purnomo di Surabaya pada Tanggal 17 September.

Sebelumnya, PT PAL Indonesia telah menyerahkan KCR-60 meter pertama, yang dibaptis dengan nama KRI Sampari 628 pada 28 Mei lalu, diikuti KRI Tombak 629 pada 27 Agustus 2014.

Kapal ketiga ini diberi nama KRI Halasan. Halasan sendiri berarti pedang dari Tapanuli, Sumatera Utara. Rencananya TNI AL akan memesan sebanyak 18 unit KCR jenis ini.
CN235 Patmar CN-235 Patmar (David Halim/Defense Studies)

Dihari yang sama Tanggal 17 September, TNI diberikan kembali alutsista barunya untuk penerbal. Pesawat produksi PT DI ini merupakan pesawat ketiga yang akan di gunakan TNI AL khususnya penerbal dalam menjaga perairan Indonesia. Pesawat udara ini akan mendukung kebutuhan penerbagan TNI AL sebagai patroli udara dan maritim dengan kemampuan pengintaian dan pengawasan.

Pesawat ini akan jadi kepanjangan tangan, mata dan telinga bagi kapal perang yang melaksanakan operasi tempur maupun operasi keamanan laut.

Pesawat buatan dalam negeri ini memiliki karakteristik umum panjang 21,40 meter, bentang sayap 25,81 meter, tinggi 8,18 meter, dan memiliki tenaga penggerak dua mesin General Electric CT79 C Turboprop 1395KW (1850bhp). Kecepataan maksimum 509 km per jam dan jarak jangkau 796 km (496 mil).

Pengadaan pesawat terbang ini adalah bagian dari rencana pemenuhan kebutuhan Minimal Essensial Force Alutsista TNI AL hingga 2024. Rencananya Pusat Penerbangan TNI AL akan menerima Pesawat sejenis hingga 12 buah.
Caesar Caesar masih tertutup kain pembungkus (ARC)

22 September ini laman ARC memberitakan kedatangan alutsista baru di Surabaya. Dan ternyata adalah Caesar sebanyak 4 unit meriam kaliber 155mm, Caesar ini merupakan produksi Nexter, Prancis.

Seusai rencana, meriam ini akan ikut berpartisipasi dalam HUT TNI, Oktober nanti.

Indonesia sendiri memesan 37 unit meriam SPH Caesar 155mm. Meriam ini nantinya akan dipecah menjadi 2 Batalyon. 37 Unit meriam itu harus ditebus dengan harga 141 Juta. Harga ini sudah termasuk dengan 2.000 amunisinya.

Caesar 155 merupakan meriam berdaya tembak 42 km yang diangkut truk, sehingga bisa lebih cepat bergerak. Sistem komputerisasinya membuat meriam ini termasuk yang tercanggih dan paling akurat.
KRI Usman Harun 359 dan KRI John Lie 358 KRI JOL & KRI USH (Satriabegeng)

22 September, kembali Indonesia kedatangan Kapal perang yang sempat memanaskan tetangga. Sayang kedatangannya di Belawan dilarang diliput wartawan, namun media di medan meliputnya secara tertulis tanpa gambar.

Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) ini merupakan 2 dari tiga unit yang di beli dari Inggris atas pesanan Brunei. Pembelian kapal jenis inipun sempat ramai di beritakan di media pada tahun-tahun yang lalu. Indonesia termasuk beruntung dapat mengakuisisi kapal jenis light frigate dengan harga persahabatan dari tetangga Brunei.

Namun di akhir kata karena penamaan kapal ini menggunakan nama Pahlawan, sempat memanaskan negara seberang dengan menolak kapal perang ini untuk dapat berkunjung atau melalui selat negerinya yang kecil tersebut. Semoga Kapal bernama pahlawan Usman Harun ini dapat menuntaskan tugas dengan baik sesuai namanya dalam menjaga perairan Indonesia.
KRI Tarakan 905 26 September, Menhan Purnomo meresmikan kapal angkut Bahan Bakar Minyak (BBM) ataupun cair. Kapal produksi Lokal PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari ini menambah alutsista TNI AL.

KRI Tarakan-905 memiliki panjang keseluruhan 122,40 m, panjang garis tegak 113,90 m, lebar 16,50 m, tinggi 9,00 m, kecepatan maksimal 18 knots, jarak jelajah 7.680 nm, kapasitas muatan cair 5.500 matrik, tenaga penggerak utama berjumlah dua buah daya 6.114 PS, berat baja 2.400 ton, dengan sistem propulsi twin screw dan fixed pitch propeller.

KRI ini mempunyai fungsi sebagai penyalur bahan bakar minyak ditengah laut atau dukungan logistik cair kepada Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) lainnya. Dengan adanya kapal BCM ini menjadikan unsur kapal perang yang sedang melakukan operasi tidak perlu kembali ke pangkalan untuk pemenuhan logistik dan bahan bakar dalam melanjutkan menjaga kedaulatan NKRI dan menegakkan hukum di laut nusantara.
Super Tucano Batch II A-29B Super Tucano Indonesia PT-ZEJ_MG_4379Super Tucano saat ferry flight to Indonesia

26 September, Pesawat pesanan TNI AU kembali memasuki udara Indonesia. 4 unit pesanan batch 2 dari Brasil ini terlambat dalam pengirimannya beberapa bulan. Rencananya TNI AU memesan 16 unit atau satu skuadron penuh dan baru 8 unit yang telah datang.

Pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano adalah hasil pengembangan pesawat latih EMB-312 Tucano, dimana pesawat ini memiliki beberapa keunggulan seperti mampu terbang rendah dalam waktu yang lama, sehingga cocok untuk anti-gerilya. Biaya operasional dan perawatan pesawat ini tidak tinggi, serta mampu mendarat di landasan pacu yang sederhana. Dilengkapi mesin tunggal turboprop, Super Tucano memiliki kemampuan mengenai target dengan sempurna. Dua senapan mesin dipasangkan pabrikan Embraer Brasil, pada sayap serta 5 hardpoint di sayap dan fuselage untuk mengangkut rudal, roket atau bom seberat 1,5 ton. Pesawat ini pun didesain untuk melakukan serangan anti-gerilya, pengintaian, dan patroli.

Empat pesawat ini merupakan pengiriman kedua, dari total 16 unit pesawat yang dipesan oleh TNI AU untuk menggantikan pesawat OV 10 Bronco di Skuadron Udara 21 Lanud Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur.
KRI Teluk Bintuni 520 KRI Teluk Bintuni 520 (saibumi)

27 September Menhan kembali meresmikan kapal produksi dalam negeri swasta, PT DRU Lampung. Kapal yang dikhususkan untuk mengangkut MBT Leopard ini sempat terjadi insiden pada waktu peluncurannya ke air, untungnya tidak ada korban jiwa dan kapal pun diberitakan dalam kondisi baik sampai waktu diresmikan.

KRI Teluk Bintuni 520 memiliki panjang 120 meter, dapat mencapai kecepatan 16 knot, didukung dua unit mesin yang masing-masing berkapasitas 3.285 KW.

Kapal yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 160 miliar dan dikerjakan selama 16 bulan ini mampu mengangkut hingga 10 unit tank Leopard buatan Jerman seberat 62,5 ton ditambah 120 orang awak kapal dan 300 orang pasukan. PT DRU merupakan perusahaan swasta pertama yang memproduksi kapal militer terbesar.
KCR 40 bersama PC43 KRI Terapang 648 produksi PT Citra Shipyard (Pelisaurus)

27 September ini kembali TNI AL mendapatkan kapal perang barunya yang di produksi di Batam. Tak Tanggung-tangung 4 unit KCR 40 berserta 1 unit PC 43 diresmikan. Kapal produksi 2 perusahaan swasta ini mendapat kepercayaan TNI AL dalam memenuhi Kapal perangnya.

KRI jenis kapal cepat rudal yang resmi diluncurkan untuk meningkatkan pertahanan wilayah periaran di Indonesia itu diantaranya KRI Surik 645, KRI Siwar 646, KRI Parang 647 dan KRI Terapang 648.

Lima unit kapal perang itu semuanya asli buatan Batam. KRI Surik 645, KRI Siwar 646 dan KRI Parang 647 buatan PT Palindo Marine di Tanjun guncang sementara KRI Sidat dan KRI Terapang 648 merupakan buatan PT Citra Shipyard. Untuk tiga KRI Buatan PT Palindo Marine, penyaluran dana proyek didukung oleh Bank Mandiri, yang mana sebelumnya juga pernah menyalurkan dana untuk pembuatan pembuatan empat unit kapal cepat rudal produksi PT Palindo Marine yakni KRI Clurit 641, KRI Kujang 642, KRI Beladau 643 dan KRI Alamang 644.

Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan sistem persenjataan modern (sewaco/ sensor weapon control) diantaranya meriam kaliber 30 MM, enam laras panjang (Ak 630-China) sebagai sistem pertempuran jarak dekat dan peluru kendali 2 set rudal C-705 buatan Tiongkok. Bagian lambung KCR ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel. Kapal dengan sistem pendorong fixed propeller lima daun itu juga dilengkapi dua unit senjata kaliber 20 MM di anjungan kapal.(GM)

  ★ Garuda Militer  

No comments:

Post a Comment

 

Populer