skip to main |
skip to sidebar
Semenjak kandungan uranium tersiar luas maka sejak itu pula ada dua negara yang telah melakukan pendekatan ke Batan. Sebetulnya, banyak negara-negara lain yang melirik Uranium, hanya saja terbentur dengan aturan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1997 tent
Ilustrasi - Penelitian kandungan uranium. (istimewa)
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengakui jika kandungan uranium yang terdapat di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, telah dilirik oleh dua negara yakni Australia dan Prancis.
"Semenjak kandungan uranium tersiar luas maka sejak itu pula ada dua negara yang telah melakukan pendekatan ke Batan. Sebetulnya, banyak negara-negara lain yang melirik uranium, hanya saja terbentur dengan aturan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran," kata Kepala Batan Prof Dr Djarot Sulistio Wisnubroto dalam keterangan persnya di kantor gubernur setempat, Kamis.
Menurut dia, aturan UU tersebut telah mempersempit ruang gerak bagi pemodal untuk melakukan pengelolaan tambang uranium.
Bahkan kata dia, upaya melakukan revisi terhadap UU yang mengatur ketenaganukliran itu telah dilakukan. Hanya saja, dengan berbagai pertimbangan maka pemerintah dan DPR belum menyetujuinya.
"Mungkin saja aturan ini sengaja diperketat agar negara kita yang memiliki kandungan uranium disimpan untuk tidak dikomersilkan pengelolaan dengan negara lain, tetapi diperuntukkan kebutuhan dalam negeri untuk dinikmati anak cucu kita dimasa depan," ungkap Djarot.
Djarot menyebutkan, kandungan uranium ini bukan untuk dikomersialkan, tetapi untuk pembangunan bangsa ini.
"Kandungan Uranium di Mamuju tidak akan dikomersialkan setelah dilakukan penelitian tetapi untuk digunakan bagi kemajuan pembangunan bangsa," jelasnya lagi.
Pengelolaan nuklir di Sulbar akan diarahkan untuk pembangunan bidang lain dalam rangka memajukan perekonomian negara dengan membangun produksi pertanian, perkebunan peternakan dan perikanan.
"Kerja sama yang dilakukan dengan pemerintah di Sulbar untuk memanfaatkan uranium untuk kemajuan pembangunan bangsa ke depan dengan meningkatkan produksi pertanian, pertanian perkebunan peternakan dan perikanan," katanya.
Ia juga mengingatkan, agar masyarakat Sulbar tidak perlu takut akan dampak radiasi kandungan uranium sepanjang belum dikelola dengan cara yang tidak benar.(KR-ACO/A029)
"Survei dilakukan lembaga independen dan tidak memiliki kepentingan, sehingga kedepannya nuklir di negara ini akan dikelola untuk perdamaian dan pembangunan negara bukan untuk kebutuhan perang."
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyampaikan 70 persen masyarakat di Indonesia sepakat potenasi tenaga nuklir yang dimiliki negara ini digunakan untuk perdamaian dan pembangunan bangsa diberbagai bidang.
"BATAN telah melakukan survei dan hasilnya 70 persen masyarakat di negara ini menghendaki kandungan nuklir yang dimiliki negara ini digunakan untuk perdamaian dunia dan pembangunan negara," kata Kepala BATAN Prof Dr Djarot Sulistio Wisnubroto, di Hotel Maleo Mamuju, Kamis.
Ia mengatakan, hanya 30 persen masyarakat Indonesia tidak menyetujui nuklir karena khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan.
"Survei dilakukan lembaga independen dan tidak memiliki kepentingan, sehingga kedepannya nuklir di negara ini akan dikelola untuk perdamaian dan pembangunan negara bukan untuk kebutuhan perang," katanya.
Ia juga menyampaikan BATAN saat ini telah melakukan langkah sinkronisasi untuk upaya pengelolaan nuklir dan untuk membangun negara dengan pemerintah di 34 Provinsi di Indonesia.
"Nuklir akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai bidang seperti pertanian, peternakan, perikanan, agar produksi dan kualitasnya meningkat yang tentu akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat negara ini," katanya.
Menurut dia, sumber daya manusia yang dimiliki BATAN untuk pemanfaatan dan pengelolaan nuklir telah disiapkan di Selolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) di Kota Yogyakarta.
"Saat ini peneliti BATAN mencapai 2.800 orang, sudah berkurang dibandingkan masa pemerintahan Presiden BJ Habibie mencapai 4.000 orang. Mereka sudah banyak yang tua sehingga generasi peneliti sudah disiapkan di STTN Yogyakarta," katanya.(*).
★ antara
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah mengembangkan teknologi pengolahan limbah radioaktif dan bahan berbahaya serta beracun (B3), yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai industri dan rumah sakit.
"Teknologi itu dimanfaatkan berbagai industri dan rumah sakit di lndonesia yang menghasilkan limbah radioaktif dan B3, ujar Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir BATAN, Taswanda Taryo, dalam konferensi pers Seminar Nasional Pengelolaan Limbah XII di Puspitek, Tangerang Selatan, Selasa.
Berdasarkan data statistik, lndonesia menghasilkan limbah tidak kurang dari 38 juta ton per tahun.
Sebanyak 14 persen di antaranya limbah plastik yang sangat sulit untuk diurai. Limbah yang tidak diolah akan menyebabkan berbagai polusi baik itu udara, air maupun tanah.
Berdasarkan UU 10/199 tentang Ketenaganukliran, BATAN adalah satu-satunya institusi di Indonesia yang secara khusus ditugasi oleh pemerintah untuk mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan rumah sakit, industri, dan lembaga penelitian.
"Tugas dan fungsi BATAN didukung oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang memiliki tugas sebagai badan regulasi dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap penggunaan bahan nuklir di Tanah Air. Saat ini, setidaknya ada 7.000 institusi yang menggunakan bahan nuklir.
Kepala Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, Suryantoro, mengatakan pengolahan limbah oleh BATAN menggunakan metode evaporasi atau penguapan.
Hasil proses penguapan itu menghasilkan konsentrat dan air suling. "Konsentrat tinggi radioaktif tersebut dicampur semen dan dipadatkan," kata Suryantoro.
Suryantoro menambahkan limbah radioaktif pengolahannya lebih susah dibandingkan limbah B3 karena limbah radioaktif harus dimasukkan dahulu ke dalam kapsul.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Tangerang Selatan, Rahmat Salam, mengatakan pihaknya mempunyai tim pengawas limbah.
"Tim ini yang melakukan pengawasan di kawasan industri," kata Rahmat.
Rahmat menegaskan pihaknya tidak akan main-main dalam hal pengawasan limbah, karena berkaitan dengan perlindungan lingkungan hidup dan masyarakat.
"BATAN juga akan membantu IAEA dalam mempromosikan budaya keamanan dan keselamatan melalui CSCA ini..."
BATAN
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S Wisnubroto, meresmikan Pusat Pengkajian dan Budaya Keamanan atau Center for Security Culture and Assesment (CSCA) di Serpong, Banten, Senin.
"CSCA ini sebagai bagian untuk mengkaji lebih jauh mengenai budaya keamanan nuklir," ujar Djarot saat konferensi pers.
Pusat kajiaan itu didirikan dengan maksud meningkatkan keamanan nuklir, karena BATAN mengelola tiga reaktor nuklir yang digunakan untuk riset.
"Menjaga keamanan dan keselematan reaktor nuklir memang tidak mudah. Bagaimanapun kita harus selalu waspada. CSCA diharapkan mampu meningkatkan budaya disiplin," jelas Djarot.
Dia berharap pusat pengkajian tersebut bisa menjadi teladan bagi negara-negara lainnya.
"Keselamatan dan keamanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan," tegas dia.
BATAN telah berpengelaman dalam menerapkan pedoman budaya keselamaatan nuklir dan telah mendapat pengakuan dari pakar nuklir internasional dan Badan Pengawas Atom Internasional (IAEA).
Kepala Pelaksana Harian CSCA, Khairul, mengatakan pengakuan dari lembaga internasional itu yang menjadi motivasi untuk mendirikan CSCA di kawasan Asia Tenggara.
"BATAN juga akan membantu IAEA dalam mempromosikan budaya keamanan dan keselamatan melalui CSCA ini," kata Khairul.
Pakar nuklir dari Universitas Giorgia, Amerika Serikat, Igor Khripunov, mengatakan Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara lain dalam hal keamanan dan keselamatan nuklir.
"Indonesia sukses melakukan kajian mandiri dalam hal nuklir. Hal itu dikarenakan banyaknya orang-orang yang berdikasi di BATAN," jelas Igor.
Igor tak menutup mata, Indonesia bisa menjadi teladan di dunia karena CSCA merupakan satu-satunya di dunia yang mengkaji keselamatan dan keamanan nuklir.
★ Antara
Supaya Tereakisasi dan Dirasakan Manfaatnya
Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla memberikan keterangan pada wartawan terkait porsi kabinetnya, di Rumah Transisi Jokowi-JK, Jakarta, Senin (15/9/2014). Rencananya Kabinet Jokowi-JK akan diperkuat 34 kementerian yang terdiri dari 18 orang profesional dan 16 orang dari partai politik.
Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memecah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi dua kementerian terpisah. Pertama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan kedua, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi.
Jokowi mengatakan, ada alasan yang mendasari mengapa ia menginginkan ada kementerian khusus yang fokus membawahi pendidikan tinggi dan riset. Apa alasannya?
“Baru kemarin saya umumkan jumlah kabinet, tapi yang berhubungan dengan Bapak, Ibu, ada Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek dijadikan satu kementerian. Kenapa? Karena kita ingin ke depan, riset baik yang berhubungan dengan teknologi, riset sosial, pertanian, kemaritiman, itu betul-betul bisa diaplikasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, petani, nelayan, dan usaha mikro,” kata Jokowi di depan sekitar seratus orang peneliti dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (16/9/2014) sore.
Jokowi mengatakan, selama ini, riset belum benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Kegiatan riset dilakukan sendiri-sendiri oleh setiap lembaga dan kementerian sehingga tidak satu padu.
“Pertanian, BPPT, Batan, Lapan, di semua kementerian ada semuanya, fokus mau ke mana ini? Jadi tidak jelas. Keluarannya apa, dipakai untuk apa, siapa yang memanfaatkan ini, tidak ditindaklanjuti dengan baik,” ujar Jokowi.
Jokowi berharap Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset ini dapat menjadi pusat bagi riset nasional. Dengan demikian, riset akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Secara riil, riset dilihat masyarakat sebagai suatu kegiatan yang bermanfaat. Kita ingin ada tahapan dalam riset baik yang basic, apply maupun innovation yang bisa betul-betul bermanfaat,” ujarnya.
Ilustrasi
Jakarta ☆ Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menegaskan reaktor nuklir riset GA Siwabessy di Serpong, Banten masih bisa beroperasi dengan prima untuk melayani publik yang membutuhkan dan membantah jika reaktor tersebut sering rusak.
"Dalam satu tahun reaktor tersebut bisa beroperasi selama 200 hari dan sisa waktunya digunakan untuk kegiatan maintenance," kata Kepala Biro Hukum, Humas dan Kerja sama Batan, Totti Tjiptosumirat dalam surat tanggapannya yang dikirim kepada Antara di Jakarta, Selasa.
Surat tersebut menanggapi pernyataan Menteri BUMN, Dahlan Iskan di Antaranews pada Minggu, 1 Juni 2014 dalam tulisannya berjudul "ROTFL yang Terjadi Setelah Ngamen" tentang kinerja reaktor nuklir Serbaguna GA Siwabessy sudah tidak optimal karena umurnya sudah tua dan sering rusak.
"Audit terhadap kinerja reaktor nuklir selalu dilakukan secara rutin, baik oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai lembaga pengawas internasional. Selama ini berdasarkan penilaian kedua lembaga tersebut kinerja reaktor GA Siwabessy memiliki reputasi sangat baik," katanya.
Dengan kapasitas 30 MWt Reaktor GA Siwabessy, lanjut dia, masih bisa memberikan layanan iradiasi dan memproduksi radioisotop hingga ribuan Curie setiap minggunya.
Selama ini kapasitas daya yang digunakan baru mencapai 15 MWt (50 persen dari kapasitas yang dimiliki) dan masih memiliki kapasitas besar yang belum dimanfaatkan dengan optimal, jadi kelebihan daya yang ada masih bisa digunakan oleh pengguna yang lain secara leluasa, ujarnya.
Ia juga mengatakan, reaktor GA. Siwabessy hanya melakukan fungsi mengiradiasi target menggunakan neutron untuk menghasilkan radioisotop, karena selebihnya yang terkait dengan pengemasan, pendistribusian dan komersialisasi dari produk yang dihasilkan menjadi tanggung jawab di luar Batan, dalam hal ini PT. Inuki.
PT Inuki adalah BUMN yang salah satu bidang usahanya mengkomersialisasi radioisotop dan memiliki fasilitas pengemasan radioisotop yang berada di dekat lokasi reaktor dengan mendapat pengawasan dari Bapeten sebagaimana dilakukan terhadap fasilitas Batan.
Diakuinya pula, reaktor nuklir GA Siwabessy mulai dioperasikan Batan sejak tahun 1987, sehingga umurnya sudah sekitar 29 tahun.
"Namun umur reaktor nuklir secara normal bisa mencapai 40 tahun, bahkan bila diperlukan bisa diperpanjang hingga mencapai 60 tahun, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Amerika, Eropa dan negara-negara lain," katanya.
Indonesia juga sudah memperpanjang operasi reaktor nuklir yang ada di Bandung yang mulai dioperasikan pada tahun 1965 dan di Yoryakarta pada tahun 1979.
Kedua reaktor tersebut masih beroperasi dengan baik meskipun umurnya sudah lebih dari 40 tahun, katanya.
"Reaktor GA Siwabessy termasuk kategori reaktor serbaguna karena dapat digunakan untuk berbagai tujuan, di antaranya untuk penelitian, pengujian bahan dan untuk produksi radioisotop," katanya.
Radioisotop yang telah diproduksi menggunakan layanan iradiasi di Reaktor GA Siwabessy, antara lain: TeO2 (Tellurium), I (lodium), Mo (Molybdenum), Ir (lridium), Zn (Zink), KBr (KaliumBromida), TiO3 (Titanium Oksida), WO3 (Wolfram), Sm2O: (Samarium Oksida), Gd2O3 (Gadolinium), Sr2O3 (Stronsium), Lu2O3 (Luthisium), Bi2O3 (Bismuth), S (Sulfur), dan Yb2O3 (lterbium).(D009/A011)

SUDAH dua minggu ini kami berdebar-debar. Teruskah? Ditolakkah? Disetujuikah? Tim kami bekerja keras untuk itu. Sepotong e-mail kemudian muncul tiga hari lalu: setuju!
Horeeee. Rasanya kami semua ROTFL!
Yang kami tunggu adalah ini: apakah perusahaan Amerika Serikat (AS) itu menyetujui kerja sama dengan BUMN untuk satu hal yang amat strategis. Yakni bersama-sama mengolah neutron menjadi produk kedokteran nuklir dan akhirnya kelak juga mengolahnya menjadi listrik.
Tim BUMN dipimpin Direktur Utama PT Inuki (Persero) Dr Ir Yudiutomo Imardjoko. Inuki adalah kependekan dari Industri Nuklir Indonesia, nama baru untuk PT Batan Teknologi.
Tim itu dibantu pimpinan PT INACA, anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia di AS. Lalu diperkuat Direktur Utama PT Bahana (Persero) Dwina S. Wijaya beserta anak buahnya. Bahana adalah BUMN yang bergerak di bidang keuangan.
"Kami sangat beruntung bisa mendapat persetujuan dari perusahaan di AS ini," ujar Yudiutomo yang ahli nuklir lulusan UGM dan ahli sampah nuklir lulusan AS.
Beruntung? Saya tidak setuju dengan kata-katanya itu. Itu bukan karena beruntung. Itu hasil dari sebuah totalitas usaha. Itu buah dari gabungan antara "keahlian, kerja keras, pantang menyerah, antifrustrasi, tekun, telaten, diiringi dengan jalan yang penuh keprihatinan".
"Jalan penuh keprihatinan" saya masukkan di situ karena semua itu awalnya dari sikap prihatin. Prihatin karena reaktor nuklir di Serpong yang sudah tua itu sering rusak sehingga tidak bisa memproduksi neutron secara kontinu.
Prihatin karena reaktor itu milik lembaga negara, Batan, yang itu di luar wewenang BUMN untuk ikut mengatasi. Apalagi, PT Inuki sendiri baru saja keluar dari kesulitan keuangan yang amat panjang. Sampai-sampai Inuki harus bekerja sama dengan Mesir untuk jaga-jaga kalau reaktor Batan yang di Serpong terus mengalami gangguan.
Prihatin karena Inuki sudah telanjur mengikat kontrak untuk ekspor radioisotop ke berbagai negara yang tidak mampu membuatnya seperti Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.
Prihatin karena membayangkan rumah-rumah sakit akan mengalami krisis radioisotop akibat tidak cukupnya bahan baku berupa neutron itu. Padahal, ilmu kedokteran sekarang sudah amat terikat dengan radioisotop untuk proses MRI dan pendeteksian berbagai penyakit.
Saya pun sempat memutuskan untuk membangun reaktor nuklir yang akan dimiliki Inuki sendiri. Apalagi, kemajuan teknologi nuklir sudah amat berbeda dengan zaman reaktor Serpong itu dibangun 30 tahun lalu.
Menurut Yudiutomo, dirinya bisa membangun reaktor yang ukurannya hanya seperlima dari yang ada di Serpong, tapi memiliki kemampuan produksi 20 kali lipatnya. Tapi, untuk mempersiapkan itu, Yudiutomo dan timnya harus mondar-mandir ke AS, Rusia, dan Eropa. Padahal, perusahaannya tidak punya uang untuk keperluan itu.
Sebagai perusahaan kecil yang baru hidup lagi, uangnya hanya pas-pasan untuk mempertahankan operasinya sehari-hari. Tidak boleh ada biaya perjalanan yang bisa mengganggu kelancaran operasi perusahaan.
Tapi, cita-cita tidak boleh kandas. Harus ada cara untuk mencapainya. Biarpun harus lewat jalan yang berliku. Untuk itu tim Inuki harus "ngamen" lebih dulu.
Kebetulan BUMN memiliki program pengentasan kemiskinan di NTT melalui tanaman sorgum. Para ahli Inuki harus mau jadi penyuluh lapangan, tinggal di NTT beberapa bulan, dan membina anak-anak SMK setempat menciptakan mesin-mesin sederhana pengolahan sorgum.
Untuk itu mereka mendapatkan "upah". Memang tidak besar, tapi bisa untuk ke Amerika. Hasil dari "ngamen" inilah yang dipakai membeli tiket untuk pergi ke sana melakukan penjajakan kerja sama membangun reaktor.
Saya sebenarnya tidak tega untuk minta para ahli yang langka itu harus "ngamen" sampai ke NTT. Tapi, saya juga percaya tidak ada jalan mudah untuk mencapai cita-cita. Saya tidak bisa memerintahkan menggunakan dana perusahaan di luar yang sudah ditentukan.
Saya juga tidak mau minta sumbangan ke BUMN lain yang besar-besar. Karena saya tahu tidak ada pos pengeluaran untuk yang demikian.
Maka, saya salut dengan tim Inuki yang mau menempuh jalan berliku ini. Sekalian tes ketahanan, pikir saya. Untuk mengejar kemajuan, harus bersedia bekerja seperti itu.
Inilah yang saya sebut "jalan keprihatinan". Jalan itu, kalau bisa ditempuh dengan tulus, justru akan menjadi pendorong untuk tercapainya cita-cita. Ia menjadi semacam "tenaga dalam" yang memang tidak kelihatan, tapi bisa menjadi faktor utama tercapainya sebuah sukses.
Dari beberapa perjalanan ke AS, Rusia, dan Eropa itulah, akhirnya Yudiutomo menemukan sesuatu yang ternyata jauh di atas sebuah reaktor nuklir. Dia berhasil mengetahui sebuah penemuan yang masih sangat baru. Belum banyak yang tahu: untuk memproduksi neutron, tidak harus membangun reaktor nuklir! Bisa melalui fusi plasma!
Dia sendiri, sebagai anggota aktif asosiasi ahli nuklir dunia, tidak menyangka ada penemuan sehebat dan semaju itu. Memang pernah diramalkan ilmu pengetahuan akan sampai di sana. Tapi, menurut perkiraan para ahli, hal itu baru akan terjadi tahun 2050!
Setelah tahu perkembangan baru itu, target pun diubah. Bukan lagi membangun reaktor baru, melainkan bagaimana bisa menggandeng perusahaan penemu tersebut. Tapi, apa mungkin?
Yudiutomo punya kelebihan dibanding calon partner lainnya dari seluruh dunia. Dia punya keahlian untuk memproses neutron itu menjadi radioisotop dengan proses yang diizinkan kesepakatan dunia. Yakni sebuah proses yang tidak membahayakan dunia karena tidak memungkinkan berubah menjadi senjata nuklir.
Di seluruh dunia, hanya putra Indonesia Yudiutomo yang bisa melakukan itu. Perusahaan Amerika itu pun tidak bisa melakukannya. Yudi memang satu-satunya ahli nuklir di dunia yang mampu memproses neutron dan uranium dengan sistem yang tidak memungkinkan bahan itu menjadi senjata nuklir.
Tapi, perjuangan tentu tidak mudah. Bagaimana bisa sebuah BUMN Indonesia mengajak kerja sama penemu yang begitu hebat di Amerika. Berkali-kali saya rapat dengan Inuki dan Bahana merumuskan strateginya.
Alhamdulillah, setelah berbagai pertemuan dan diskusi (langsung maupun via e-mail) dilakukan antarnegara, tiga hari lalu jawaban itu tiba: pihak Amerika setuju. Perincian kerja samanya juga sudah disertakan.
Tanggal 16 Juni mendatang, setengah bulan lagi, penandatanganan dilakukan di Madison, Wisconsin, AS. Saya sengaja belum tuliskan banyak detail di sini karena untuk itu akan ada waktunya sendiri.
Saya benar-benar tidak setuju jika ini disebut sebuah keberuntungan. Saya lebih setuju dengan Paulo Coelho yang dalam novel-novel spiritualnya menyiratkan, justru keberuntunganlah yang selalu mencari-cari orang yang bersedia dicipratinya. Tapi sayangnya, "ia" hanya mau mencipratkannya kepada orang-orang yang kuat berjalan jauh dengan totalitas dan ketulusan penuh untuk mendatanginya!(*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Batan telah menetapkan pembangunan PLTN berskala kecil di Serpong
Kuta ★ Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menantikan presiden Indonesia yang baru untuk melanjutkan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Serpong, Tangerang Selatan, Jawa Barat.
"Proposal dan blue print sudah kami bikin. Teknologi itu aman. Tinggal pemerintah yang baru nanti mau melanjutkan atau tidak?" kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto seusai membuka Regional Cooperation Agreement Review Meeting International Atomic Energy Agency (IAEA) di Kuta, Bali, Senin.
Batan telah menetapkan pembangunan reaktor daya eksperimen atau PLTN berskala kecil yang berkapasitas 10 megawatt di Serpong. "Namun kalau ternyata presiden baru punya pilihan tempat lain, silakan," ujarnya.
Dalam cetak biru yang diajukan kepada pemerintah itu, Batan juga menjelaskan bahwa reaktor nuklir tidak hanya untuk energi listrik, melainkan juga untuk kegiatan industri lain, seperti pemeriksaan kilang minyak dan kegiatan desalinasi atau mengubah air laut menjadi air tawar sehingga aman untuk dikonsumsi.
Oleh sebab itu, Batan sangat berharap presiden mendatang harus memiliki pemahaman bahwa energi menjadi tulang punggung kemajuan kesejahteraan bangsa.
"Pemerintah yang akan datang harus punya visi itu. Minyak dan gas serta batu bara ada batasnya, sedangkan energi nuklir belum termanfaatkan secara maksimal," kata Djarot.
Ia menyebutkan bahwa Indonesia menyimpan potensi produksi uranium sebanyak 60 ribu hingga 70 ribu ton yang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Papua.
"Namun untuk sementara ini kita beli uranium karena lebih murah. Kita mencoba meniru China yang membeli batu bara ke kita, padahal mereka punya banyak batu bara," katanya.
Uranium yang didatangkan Indonesia itu berasal dari Rusia, Prancis, Kazakhstan, dan Afrika Selatan. "Tantangan kita selama ini ada di lapangan. Masyarakat masih takut (terkena radiasi)," kata Djarot.
Dari segi sumber daya alam dan sumber daya manusia bidang energi nuklir di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lainnya. "Kita punya Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir. Sekitar 90 persen lulusannya terserap di industri," ujarnya.
Demikian pula dari segi infrastruktur, Indonesia jauh lebih siap mengembangkan energi nuklir dibandingkan dengan negara lain. Selain Batan yang sudah berusia 55 tahun dan Undang-Undang Nuklir, Indonesia juga memiliki Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
"Kalau tidak segera mengembangkannya, kita bisa menyesal. Apalagi negara-negara tetangga sudah memulainya," kata peneliti Batan, Sugiarto, menimpali.