Pages

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Bos BUMN Senjata yang Jadi Menteri ESDM Jokowi

27 October 2014

//images.detik.com/content/2014/10/26/4/203613_sudirmansaid.jpgSudirman Said

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Sudirman Said menjadi Menteri ESDM. Sebelum ditunjuk jadi menteri, Sudirman merupakan Direktur Utama PT Pindad (Persero).

Seperti diketahui, Pindad merupakan BUMN produsen berbagai jenis produk senjata. Pria kelahiran Brebes 16 April 1963 ini baru menjabat Dirut Pindad pada Juni 2014 lalu.

Dari berbagai sumber yang dilansir, Minggu (26/10/2014), Sudirman juga memiliki latar belakang keuangan. Dia juga pernah menjadi Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Pertamina menggantikan Sony Soemarsono pada Maret 2013 di bawah pimpinan Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno.

Selain itu Sudirman aktif memberantas korupsi dengan mendirikan ‎Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), dan pernah menjadi ketuanya.

Kemudian, Sudirman pernah menjabat Wakil Presiden Direktur PT Petrosea Tbk pada 6 Mei 2013. Sebelumnya, Beliau menjabat sebagai Group Chief of Human Capital and Corporate Services di PT Indika Energy Tbk, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai DirekturHuman Capital di Petrosea (2009-2010).

Selain itu, Beliau adalah Executive Director Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit 2013.

Tugas Menteri ESDM kabinet Jokowi-JK memang berat, karena Jokowi ingin menaikkan harga BBM subsidi yang kabarnya pada November 2014. Kemudian, Jokowi juga bertekad untuk memberantas mafia migas.(rrd/dnl)
Saya Aktif Gerakan Anti KorupsiDirektur Utama PT Pindad Sudirman Said hari ini diminta Presiden Joko Widodo menjadi Menteri ESDM. Ia mengaku selama ini aktif digerakan anti korupsi dan siap mendukung pemerintahan yang bersih.

"Saya saat ini masih di Pindad. Hari ini kita belum diperbolehkan bicara tentang program, Presiden Jokowi mempersilakan kalau rekan-rekan mau bertanya seputar riwayat pekerjaan," kata Sudirman ditemui di Istana Negara, Minggu (26/10/2014).

Sudirman mengungkapkan, Presiden Jokowi meminta dirinya untuk kerja keras dalam memimpin Kementerian ESDM. Belakangan ini kementerian ESDM menjadi sorotan publik terkait kasus korupsi yang menimap Mantan Menteri ESDM Jero Wacik dan Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini.

"Beliau menekankan bahwa sektor ini butuh kerja keras. Saya sehari-hari juga menghabiskan waktu untuk bekerja dan aktif diaktivitas anti korupsi dan clean governance. Jadi kemanapun saya pergi saya selalu membawa semangat tersebut," tutupnya.(rrd/hen)
Tanggapan Mantan Wamen//images.detik.com/content/2014/10/27/4/esdm.jpgDirektur Utama PT Pindad Sudirman Said diangkat Presiden Joko Widodo menjadi Menteri ESDM, ini tanggapan mantan Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo.

"Kita optimis Pak Sudirman dapat pimpin Kementerian ESDM dengan baik, yang pasti saya mengucapkan selamat atas pengangkatan beliau sebagai Menteri ESDM dan selamat bekerja," kata Susilo kepada detikFinance, Senin (27/10/2014).

Susilo mengatakan, sebelum mengakhiri masa jabatannya, ia sudah menyusun dan menyiapkan program-program yang menjadi prioritas utama di Kementerian ESDM.

"Saya akan selalu siap mendukung beliau melaksanakan program-program ESDM yang sudah disiapkan dan akan diserahkan besok. Kita sudah inventarisir pekerjaan rumah bidang ESDM baik jangka panjang, menengah atau jangka panjang untuk beliau review, adjust sesuai dengan style beliau," tutupnya.(rrd/ang)


  detik  

☆ Josaphat Tetuko, Pakar Radar dan UAV Dunia Asal Indonesia

23 August 2014

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Dua matanya selalu berbinar, seakan memancarkan energi positif. Dialah Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, perekayasa radar dan pesawat nirawak asal Indonesia yang kini berkarya di Jepang.

Ditemui Kompas.com di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (15/8/2014) lalu, Josaphat berkisah tentang masa kecil, perjuangannya meniti karier, karya, serta mimpi yang masih dimiliki pada usianya yang menginjak 44 tahun. Selain berbincang tentang perjalanan hidupnya, ia juga memberikan pandangannya tentang gagasan drone yang diungkapkan Presiden terpilih Joko Widodo.

"Saya senang menatap mata orang ketika berbicara," katanya. Mungkin seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Dengan menatap mata, kepribadian dan isi hati seseorang bisa diketahui.

"Hal yang begitu menyedihkan ketika masih mendapati mata pemuda yang terlihat lesu, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang mesti dipikirkannya. Sempatkah mereka berpikir untuk dunia," ujarnya.

Josh, demikian nama panggilannya, terlahir dari seorang ayah yang bekerja di TNI Angkatan Udara. Latar belakang keluarga ini menjadi salah satu faktor yang memupuk minatnya pada radar dan pesawat nirawak.

Pada umur empat tahun, Josh sudah diajak ke kantor ayahnya yang saat itu menjadi anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU. Ia berkeliling markas militer, melihat ragam teknologi. Ia lalu menemukan dan jatuh cinta pada radar.

“Radar itu buatannya siapa? Buatan orang Indonesia, ya?" demikian ia sering bertanya. Sayangnya, jawabannya bukan. Dia pun kecewa. "Padahal, saya bangga kalau itu buatan orang Indonesia," imbuhnya.

Kegemarannya berkeliling, mengamati, dan menghitung radar kerap menjadi bahan obrolan para tentara yang bertugas piket. Tak jarang, dia "diomeli" karena aktivitasnya yang mungkin mengganggu itu.

Beranjak dewasa, ternyata kecintaannya pada radar tak hilang. Lulus SMA, cita-citanya adalah mempelajari dan menciptakan radar. Ia melirik universitas yang menawarkan program aeronautika di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Beasiswa ke Jepang memang kemudian dikantongi. Sayangnya, bukan pada jurusan aeronautika, melainkan elektronika. Josh remaja sempat kecewa. Tetapi, ia pun mengambil kesempatan belajar elektronika itu.

Masuk ke Kanazawa University, impian Josh akan radar tak padam. Pada tingkat empat, ia mencari-cari pelajaran tentang radar. Ia pun menemukan mata kuliah yang berkaitan dengan radar, yaitu satelit dan keantariksaan.

Lulus tahun 1995, Josh menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil membuat radar bawah tanah. Pria yang kerap dijuluki "The Smiling Professor" ini pun melanjutkan studi tingkat master untuk memperdalam bidang radar.

Menempuh pendidikan tingkat doktoral, Josh mengambil bidang Synthetic Apperture Radar (SAR) di Center Environmental Remote Sensing. Di institusi itu, dia berkenalan dengan SAR. Di sana juga ia kini berkarya.

 Gurita pendidikan 

Seorang guru besar dari University of Illinois, Prof Em Wolfgang-Martin Boerner memberikan julukan "Academy of Octopus" atau gurita pendidikan kepada Josh. Julukan itu terkait dengan sepak terjangnya dalam radar.

Pada masa susah hidupnya di Jepang, Josh harus banyak meneliti agar bisa mendapatkan beasiswa. Ia akhirnya mendapatkan beasiswa tambahan dari Sato Yo Internasional Foundation. Sekarang, dia menjadi assessor di lembaga tersebut.

Saat mengenyam pendidikan doktoral, Josh rajin menulis paper. Hingga usia 25 tahun, Josh telah menghasilkan 16 paper. Jumlah itu tiga kali lebih banyak dari yang disyaratkan untuk menjadi seorang dosen. Alhasil, Josh pun mendapat banyak tawaran mengajar.

"Saya tidak menyangka rekrutmen staf pengajar di Jepang dinilai dari jumlah paper yang dibuat. Saya langsung diangkat menjadi dosen, tanpa melalui tingkat asisten dulu," tuturnya.

Beberapa universitas yang memberikan tawaran mengajar ataupun menjadi staf antara lain Leicester University, Kanazawa University, serta Massachusetts Institute of Technology. Ia kemudian memilih di Chiba University, Jepang.

Sejak 1 April 2013, Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Lebih dari itu, Josh juga mengepalai sebuah laboratorium di Jepang bernama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Di sanalah ia melakukan rekayasa dan riset radar serta pesawat nirawak.

Salah satu karya Josaphat adalah pesawat nirawak Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1). Pesawat nirawak itu adalah yang terbesar di Asia, berukuran 6 meter serta dapat membawa sensor hingga seberat 30 kg.

 Impian 

Selain dosen dan perekayasa, Josh juga seorang filantropi. Sejak tahun 2002, bersama keluarganya, ia mendirikan yayasan pendidikan Pandito Panji Foundation. Nama yayasan itu diambil dari nama putranya sendiri.

Yayasan itu memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak bangsa sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga master. “Untuk tingkat doktor, kita biarkan mereka untuk mencari dana sendiri agar mereka punya kebanggaan sudah membiayai dirinya sendiri,” tutur Josh.

Josh juga memberi kesempatan kepada orang Indonesia untuk mengenyam program pendidikan singkat di Jepang. Selain belajar, orang Indonesia juga diharapkan mengenal Jepang dengan kedisiplinan, ketekunan, dan kemanusiaannya walaupun relatif tak beragama.

Dana yayasan yang didirikan Josh di antaranya berasal dari uang pribadi. Ada satu impian Josh, yaitu agar orang Indonesia lebih maju. Ia juga bisa berperan bagi Indonesia meskipun tidak bekerja di Indonesia.

“Ini kesempatan saya memberikan banyak manfaat bagi anak-anak Indonesia untuk belajar di luar. Mudah-mudahan dalam 5-10 tahun ke depan, agen-agen saya ini bisa memperbaiki Indonesia. Saya kira bisa. Mungkin suatu saat juga ada pengganti saya,” harapnya.

Gemar mengumpulkan peta kuno, Josh juga mempunyai impian untuk mendirikan museum peta dan teknologi bila usianya menginjak 65 tahun nanti. Ia bercita-cita membangunnya di wilayah Narita. Di museum itu, ia berharap bisa menginspirasi orang lain dengan menunjukkan teknologi yang telah dibuatnya.

"Ini semacam time mark dalam hidup saya. Suatu saat akan bercerita tentang perjalanan hidup saya, tentang apa saja yang telah saya capai,” katanya.

Josaphat juga memimpikan Indonesia yang lebih baik dari saat ini. Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus mengejar ketertinggalan, tetapi berupaya menjadi pemimpin. Salah satu pilarnya adalah lewat edukasi dan riset.

Catatan: artikel telah di-update untuk memperbaiki umur Josaphat, seharusnya 44, bukan 65.

  Kompas  

☆ Komentar Pakar UAV Dunia tentang Gagasan Jokowi Memakai "Drone"

22 August 2014

Ilustrasi: Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung dipamerkan pada acara unjuk terbang di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2012). PTTA hasil pengembangan Balitbang Kemhan dan BPPT tersebut dapat dipergunakan untuk kepentingan militer dalam hal pengamatan wilayah (survailence), penanganan kebakaran hutan, pembuatan hujan buatan, dan mampu menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unnamed Combat Aerial Vehicle (UCAV).

Salah satu rencana presiden terpilih Joko Widodo adalah mengaplikasikan drone atau pesawat nirawak (UAV) untuk pemantauan. Rencana ini menuai reaksi positif dari banyak pihak. Namun, perencanaan tetap dibutuhkan.

Kompas.com menemui pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh.

Presiden terpilih Joko Widodo rencananya memperkuat pertahanan dengan drone. Salah satu tujuannya untuk pemantauan laut. Bagaimana menurut Anda?

Ini sangat bagus karena pada dasarnya kita bisa mengurangi risiko kematian dari awak kapal atau petugas keamanan. Selain itu, kalau drone kita pergunakan setiap hari untuk pengawasan tapal batas, kan orang itu akan hitung-hitungan. Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia.

Lalu, apa yang harus direncanakan oleh Indonesia ketika punya program menggunakan drone untuk pemantauan ini?

Hal lain yang mesti dipikirkan adalah undang-undang untuk keamanan menggunakan drone. Suatu saat, Indonesia kan akan berkembang, termasuk akan bertambah pesawatnya. Nah, ini kan dibutuhkan aturan.

Tidak hanya di Indonesia, di Jepang pun permasalahan ini belum jelas dan sedang dibahas. Misalnya, tentang klasifikasinya, ukuran besar-kecilnya, ketinggian menerbangkan drone seperti apa dan di mana saja, harus kita perjelas dulu kebijakan itu.

Namanya pesawat kan ada jalurnya. Nah, sekarang agar drone dapat terbang sesuai pada titik yang kita inginkan harus ada sistem navigasinya. Sistem pengamanannya juga, bahkan di Indonesia alat-alat yang digunakan untuk teknologi drone masih impor. Semua harus diperjelas. Jalurnya harus jelas untuk keamanan. Begitu pula untuk keamanan pengoperasiannya.

Jepang dan Amerika saja belum memikirkan sampai di situ. Ya, kita tidak pesimistis sebenarnya. Akan tetapi, cobalah untuk memperbaiki hal-hal yang seperti itu. Untuk standardisasi drone juga harus dipikirkan. Jadi, kita harus buat aturan yang jelas. Jika jalurnya tidak jelas, pesawat drone bisa menabrak kapal penumpang.

Nah, untuk mendukung ini, kita harus membuat teknologi sendiri. Jadi, kita tidak hanya bisa beli saja, tetapi juga memperjelas sistematika atau aturan mainnya dan dari drone itu sendiri.

Drone-nya sendiri?

Yang penting kita yang harusnya membuat teknologi itu. Sebab, dari segi keamanan, misalnya pengamanan data, kita sendiri yang kelola. Nah, kalau drone-nya kita ambil dari orang lain, kita tidak akan tahu secara penuh prosesnya. Setahu saya, ada delay satelit, yang mungkin saja ada perpindahan data dulu ke pembuat dan sebagainya. Agar terjaga keamanannya, teknologi kita harus buat sendiri. Selain itu, kita harus juga menyesuaikan drone yang dibuat dengan klasifikasi dan ciri yang ada di Indonesia. Drone yang kuat untuk alam Indonesia. Dibuatnya di Indonesia, risetnya juga harus di Indonesia. Kalau dari luar, belum tentu cocok.

Jadi, drone apa yang pas untuk keamanan di laut Indonesia?

Jadi, dari segi jangkauan, setidaknya harus menjangkau Zona Ekonomi Eksklusif. Jadi sampai batas itu, bisa bolak-balik. Jadi, enggak mungkin drone yang kecil, harus juga disesuaikan dengan kedalaman lautnya. Setiap jenis keamanan sangat bergantung dari besaran kedalaman laut. Jenis, kemampuan, jumlah dan biaya drone yang dibutuhkan sangat bergantung pada kedua hal itu.

Bagaimana efektivitas drone untuk pengamanan sebenarnya?

Jadi, pertama, drone itukan hanya sebatas mengetahui, bahwa oh di sini ada illegal logging, atau pengubahan tapal batas. Selama ini kan polisi laut kalau ada permasalahan langsung menembak atau lain sebagainya. Namun, drone posisinya tidak dapat untuk membuat tindakan bila ada permasalahan. Kalau tidak, malah drone kita yang malah ditembak. Jadi, kita harus membuat jaringan pada UAV-nya, itu kan hanya warning-nya, nanti info dari drone disalurkan entah ke polisi laut, instansi keamanan laut terdekat. Sistem keamanan seperti itu juga mesti dipikirkan.

Harapannya untuk pengembangan?

Kalau pengembangan di Indonesia itu bergantung pada ahlinya. Ada yang pintar membuat frame, ada yang membuat sistem di dalamnya, mesin, bodi, dan sebagainya. Selama ini, semua bersaing. Nah, saya berpikir bahwa kita harus menyatukan itu agar lebih berkembang lagi dengan baik, jadi mempersatukan ahli di Indonesia. Ini pelik sekali. Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada.

  ★ Kompas  

☆ BJ Habibie Sempat Rancang Program Satelit Buatan Indonesia

21 May 2014

PTDI telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesiahttp://images.detik.com/content/2014/05/21/1036/habibie55.jpgJakarta □ Baru-baru ini, salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia membeli satelit dari luar negeri. Proses pengembangan dan produksi tersebut dilakukan di luar negeri tanpa campur tangan tenaga ahli dan perusahaan Indonesia.

Padahal pada era 1980-an, pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesia. Pada masa itu, PTDI dipimpin oleh Menristek BJ Habibie. Ia membangun fasilitas pengembangan satelit hingga menyekolahkan puluhan putra-putri terbaik Indonesia ke luar negeri untuk belajar teknologi satelit.

“Itu kebanyakan angkatan saya. Itu yang pernah training di Los Angeles. Kita belajar bikin badannya. Ada 30 orang. Dia sekolah ambil degree (gelar), ada yang nggak. Saya pernah ikutan,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014).

Program pengembangan satelit dilakukan dengan konsep transfer teknologi. Ketika proses produksi awal dilakukan di luar negeri proses selanjutnya dilakukan di Indonesia dengan memanfaatkan kemampuan insinyur dan komponen lokal. Sayangnya program tersebut berhenti di tengah jalan.

“Itu baru diajarin bagaimana cara bikin. Waktu mau bikin programnya berhenti. Saat mau produksi berhenti,” katanya.

Akibat berhentinya program pengembangan satelit di Indonesia, hingga saat ini tak satupun ada keterlibatan industri strategis nasional dalam mengembangkan satelit.

Kini, para tenaga ahli asal Indonesia yang pernah disekolahkan BJ Habibie, bekerja ke perusahaan-perusahaan pembuat satelit dunia.


“Mereka sudah bekerja di perusahaan satelit dunia. Kalau disuruh balik ke sini, saya nggak kuat bayar,” katanya.

Budi menjelaskan pengembangan industri satelit di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam mendukung dan menjalankan program pengembangan teknologi satelit nasional.

“Katakanlah ada program 6 satelit ke depan. Itu pemerintah katakan harus beli dari situ. Ya memang harus konsisten. Kalau itu harus ditender ya susah. Kalau satelit biarpun namanya sama tapi setiap orang punya cara sendiri. Besok ambil teknologi Amerika, Prancis terus Rusia. Ya nggak jadi-jadi,” paparnya.


  detik  
 

Populer