Pages

Showing posts with label Dahana. Show all posts
Showing posts with label Dahana. Show all posts

Produksi Bom P100L

14 October 2014

TNI AU cek persiapan PT Dahana
Ujicoba Bom P100 Sari Bahari

PT DAHANA (Persero) kini tengah menggarap persiapan produksi bahan peledak militernya, yaitu bomb P 100 Live untuk amunisi pesawat Sukhoi. Sebelum jauh memasuki produksi massal, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Amirudin Akhmad mengecek langsung perkembangan persiapan alat produksi yang dimiliki oleh Dahana yang berada kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana Subang. Kedatangan Amirrudin Akhmad pada Selasa, 30 September 2014 bersama timnya disambut langsung oleh F. Harry Sampurno Direktur Utama PT DAHANA (Persero) beserta tiga direksi lainnya.

“Kami ingin mengetahui, sudah sejauh mana perkembangan persiapan proyek Bomb P 100 L yang sudah dilakukan oleh DAHANA, karena sebelum menuju produksi massal, DAHANA sudah harus mempersiapkan Protoype P 100 L yang nantinya akan kami uji untuk mendapat sertifikasi, apakah cocok dengan kebutuhan kita,” terang Amirudin Akhmad kepada Dfile.

Untuk melihat langsung persiapan yang telah dilakukan oleh DAHANA, Tim EMC mengajaknya untuk meninjau langsung perlengkapan yang sudah dipersiapkan dan disimpan sementara di Gedung Workshop DAHANA. Nampak beberapa perlengkapan yang telah disiapkan pada tahap awal ini. Lempengan cetakan untuk uji kepadatan handak serta alat pemanas dan pendingin yang akan digunakan saat pengisian bahan peledak pada bomb produksi P 100L. Tim juga diajak mengecek laboratorium sebagai tempat uji formula serta meninjau langsung pabrik meltpour yang nantinya sebagai tempat pengisian handak bomb pesawat Shukoi.

Melihat apa yang telah disiapkan oleh DAHANA, Amirudin Akhmad pun berharap DAHANA untuk segera menyelesaikan tahap awal pembuatan P 100 L. “Kita kan mulai lagi dari nol, jika melihat apa yang telah disiapkan untuk langkah awal sudah sangat memadai, oleh karena itu saya berharap ini secepatnya terealisasi agar nantinya bisa memasuki tahap produksi massal,” ujar Amirudin Akhmad.

Dalam menangani proyek ini, PT DAHANA (Persero) tidak sendirian, namun menggandeng perusahaan swasta untuk bekerjasama, PT Sari Bahari dalam pembuatan body P 100 L.

Bom P 100 L merupakan bomb yang akan dipasang pada pesawat Sukhoi. Bomb ini memiliki warna khas yaitu hijau yang panjangnya 1.130 mm dengan berat 100 sampai 125 kg, berdiameter 27 mm dan memiliki ekor yang panjangnya 410 mm.

  ♞ BUMN  

Pembangunan Industri Propelan

12 October 2014

Menperin hadiri "ground breaking" pembangunan industri propelan Menperin: pembangunan industri propelan tegaskan eksistensi NKRIMenteri Perindustrian MS Hidayat (ANTARA)

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat menghadiri peletakan batu pertama atau "ground breaking" pembangunan industri propelan di Subang, Jawa Barat, guna mewujudkan kemandirian bangsa khususnya untuk penguasaan kemampuan di bidang industri alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Pembangunan industri propelan tersebut merupakan salah satu hubungan bisnis antara Indonesia dengan Perancis, dalam hal ini Roxel dan Eurenco.

"Semoga hubungan dua negara yang diwujudkan dalam kerjasama bidang industri alutsista ini semakin meningkat di masa mendatang," kata Mohamad S Hidayat saat memberikan sambutan pada acara tersebut berdasarkan siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat.

Dalam kerja sama ini, Eurenco bertindak sebagai perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial.

Sementara itu, Roxel France sebagai perusahaan yang memiliki keahlian dalam bidang desain, pengembangan, produksi serta pemasaran motor roket dan peralatan terkait hardware dan perangkat ledak.

Sedangkan PT. Dahana (Persero), sebagai perusahaan milik negara yang bergerak di bidang industri bahan peledak, bersama dengan Eurenco serta Roxel berkomitmen untuk saling membantu dan mendukung Pemerintah RI dalam mempersiapkan pabrik propelan dan spherical powders di Indonesia.

Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan dalam negeri, karena produk tersebut merupakan bahan baku pembuatan peluru, roket, peluru kendali (missile), serta propelan untuk amunisi kaliber kecil, menengah dan besar. Diharapkan, berdirinya pabrik propelan ini dapat memenuhi kebutuhan propelan di Indonesia dengan kemampuan produksi nitrogliserin sebanyak 200 ton per tahun, spherical powder (propelan double base untuk MKK) sebanyak 400 ton per tahun, propelan double base roket sebanyak 80 ton per tahun dan propelan komposit sebanyak 200 ton per tahun.

Pada acara yang juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kedubes Perancis, dan Direksi PT. Dahana (Persero) tersebut, Menperin mengatakan, gagasan untuk mendirikan pabrik propelan di dalam negeri sudah cukup lama.

Oleh karena itu, lanjutnya, penelitian dan pengembangan terus dilakukan, karena untuk memproduksi propelan memerlukan teknologi yang cukup sulit, ditambah sulitnya mendapatkan bahan baku utama, seperti nitrogliserin.

“Apabila ditinjau dari aspek ekonomi dan bisnis, pembuatan pabrik propelan ini membutuhkan investasi yang cukup besar dan tidak pada skala ekonomis sehingga tidak layak secara financial, sehingga tidak memungkinkan apabila pabrik ini didirikan oleh industri," kata Menperin.

Namun, lanjutnya, ada beberapa aspek lainnya yang tidak kalah penting yang dapat memungkinkan didirikan pabrik propelan, salah satunya adalah aspek penguasaan teknologi, yang dinilai penting dalam pengembangan industri nasional.
Pembangunan industri propelan tegaskan eksistensi NKRI "Ancaman ini dapat berupa ancaman konvesional dan non-konvensional. Untuk mengantisipasi adanya potensi ancaman tersebut, diperlukan kemandirian kemampuan terutama dalam hal Hankamnas dan penyediaan Alutsista,"https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS472Ys2xobr2zFst-HHK4pvPuFWrhGoMmNQ2LRDgAEknloe6xufmqgIq-Sn1KEyqZN7iEWoIexf3zK7zsDL2I5L4xDG7stMTsKqRBgKP4Am-Ogfghpk86EWqSubzSoj7tRxL4JJj2ZHUk/s1600/130312_RMN-BISNIS-01-PT-DAHANA-SUBANG.jpgMenteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengatakan pembangunan industri propelan di dalam negeri mampu menegaskan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, yang harus dapat mempertahankan dari ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

"Ancaman ini dapat berupa ancaman konvesional dan non-konvensional. Untuk mengantisipasi adanya potensi ancaman tersebut, diperlukan kemandirian kemampuan terutama dalam hal Hankamnas dan penyediaan Alutsista," kata Menperin Mohamad S Hidayat melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.

Menperin mengatakan, dalam menghadapi situasi global yang semakin tidak menentu, stabilitas nasional menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Oleh karena itu, lanjutnya, memantapkan stabilitas nasional dibutuhkan dukungan berbagai pihak, tidak hanya dari TNI semata, tetapi juga dari Industri Pertahanan dalam negeri.

Menurut Menperin, pendirian pabrik propelan di Subang, Jawa Barat, ini dalam jangka pendek bertujuan untuk memproduksi propelan amunisi dan roket serta dapat menghemat devisa karena selama ini kebutuhan propelan Indonesia diimpor dari luar negeri.

Sedangkan dalam jangka panjang, pabrik ini bertujuan untuk diversifikasi produk propelan dan penetrasi pasar regional, sehingga dengan adanya pabrik ini diharapkan dapat tercipta kemandirian propelan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan kepada pihak asing.

Selain itu, tambahnya, pendirian pabrik propelan di dalam negeri juga diharapkan mampu mendukung kebutuhan operasi baik kuantitas maupun kualitas, seperti kegiatan komando pendidikan, bekal persediaan di seluruh Kodam, serta bekal pertahanan di tempat-tempat maupun instalasi strategis dan latihan rutin untuk pasukan.(*)

  ★ antara  




Pabrik Propelan di Subang

11 October 2014

Punya Pabrik Bahan Baku Roket Pertama, RI Bisa Hindari Embargo Asing //images.detik.com/content/2014/10/10/1036/141843_roket.jpgRhan produk lokal

Kebutuhan produk bahan baku peledak (propelan) untuk amunisi kaliber kecil dan amunisi kaliber besar masih 100% diimpor. Akibatnya pertahanan Indonesia masih sangat bergantung dengan produk luar.

Kini, BUMN strategis PT Dahana (Persero) mulai membangun pabrik propelan pertama di Indonesia yang lokasinya di Subang, Jawa Barat. Propelan merupakan bahan baku untuk pembuatan peluru, roket, peluru kendali hingga untuk amunisi.

Melalui pembangunan komponen pemenuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dari industri dalam negeri maka Indonesia setidaknya ke depan bisa tetap punya pertahanan baik, bila ada risiko terkena embargo dari pihak asing.

"Kita Bisa hindari embargo asing, serta bisa memenuhi kebutuhan pendorong roket higga amunisi. Itu sangat dibutuhkan oleh TNI dan Polri," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat saat acara groundbreaking pabrik propelan di area Energic Material Center di PT Dahana (Persero), Subang Jawa Barat, Jumat (10/10/2014).

Untuk pengembangan pabrik ini, PT Dahana menggandeng perusahaan propelan dunia asal Prancis yakni Roxel dan Eurenco.

Alasan menggandeng produsen asal Prancis, karena Indonesia belum memiliki kemampuan dan teknologi untuk memproduksi propelan, maka diperlukan mitra untuk program transfer teknologi.

"Gagasan pabrik propelan sudah cukup lama namun R&D sulit dilakukan karena bahan baku utama sulit didapatkan," sebutnya.

Sedangkan Direktur Utama PT Dahana Harry Sampurno mengatakan pada tahap awal akan memprioritaskan produksi propelan untuk amunisi kaliber kecil. Pembangunan pabrik propelan fase I akan tuntas dalam 3 tahun ke depan.

Kebutuhan propelan dalam negeri sebanyak 400 ton per tahun nantinya akan terpenuhi dari pabrik di Subang. Selama ini 100% propelan harus diimpor.

"Mulai produksi tahap pertama. Ini selesai selama 36 bulan. Kapasitas produksi total mencapai 800-1.000 ton per tahun," sebutnya.(feb/hen)


  ♞ detik  

Bom untuk Jet Tempur Sukhoi akan Dibuat di Subang

Siap produksi Massalhttp://assets.kompas.com/data/photo/2013/03/25/1302483-foto-bom-p100-live-sukhoi.jpg-p.jpgBom P100 Live Dahana

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bahan peledak, PT Dahana (Persero) mulai tahun depan memproduksi bom khusus untuk pesawat jet tempur Sukhoi 27/30 milik TNI AU. Produk bom tersebut merupakan hasil sinergi antara perusahaan swasta dengan PT Dahana.

Perusahaan swasta akan membuat badan bom sedangkan, konten dari bom akan dibuat di Pabrik Dahana di Subang Jawa Barat. Bom untuk jet tempur Sukhoi yang diproduksi antara lain P-100 Live dan Ovab.

"Kita siap produksi. Kita rencana dapatkan pesanan Kemenhan (kementerian pertahanan) 600 unit bom P-100 kemudian 400 bom Ovab. Produksi mulai tahun depan," kata Direktur Utama Dahana Harry Sampurno di Kantor Pusat Dahana, Subang, Jawa Barat, Jumat (10/10/2014).

Bom P-100 live bisa dipakai membidik satu sasaran sedangkan bom Ovab dipakai atau bisa dijatuhnya beberapa bom dalam sekaligus.

"Jenis P-100 drop bom, untuk bom titik tertentu. Selama ini impor," katanya.

Rencananya kontrak tahap awal sebesar US$ 6 juta untuk bom P100 Live dan sekitar US$ 3 juta untuk Ovab. Bahan baku isi dari bom Sukhoi saat ini sedang dipersiapkan oleh PT Dahana.

PT Dahana memulai membangun pabrik bahan baku bom atau peledak (NAC/SAC). Sedangkan untuk komponen fuse, saat ini masih diimpor dari Bulgaria.

"Fuse kita tetap impor. Tapi dengan skema transfer teknologi. Kita impor dari Bulgaria," jelasnya.(feb/hen)


  ★ detik  

Bahan Peledak Made in Indonesia

15 September 2014

Kerjasama Pindad dan Dahana//images.detik.com/content/2014/09/15/1036/122732_pindaddahana.jpgPT Pindad (Persero) mulai serius menggunakan propelan buatan dalam negeri guna keperluan pembuatan amunisi. Propelan itu hasil racikan PT Dahana (Persero).

Selama ini Pindad melakukan proses impor untuk memperoleh propelan atau bahan peledak yang digunakan sebagai pembentuk gas pendorong bagi peluru atau roket.

Pindad sepakat membeli propelan produksi Dahana. Nota kesepahaman antar kedua perusahaan pelat merah tersebut ditandatangani Direktur Utama Pindad Sudirman Said dan Direktur Dahana F. Harry Sampurno di kanto Pindad, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Senin (15/9/2014).

Kedua bos BUMN strategis tersebut mengakui kerjasama yang terjalin ini sebagai simbol ikhtiar menuju kemandirian industri pertahanan di dalam negeri oleh anak negeri sendiri.

"Adanya kerjasama ini, maka kami bisa memperoleh jaminan pasokan propelan produksi dalam negeri. Kami kerjasama dengan saudara kandung (Dahana)," ucap Sudirman.

Guna memenuhi kebutuhan propelan untuk memproduksi ratusan juta butir peluru, Pindad mengimpor propelan dari Belgia, Korea, dan Taiwan. Kebutuhan propelan 200 hingga 250 ton perbtahun.

"Kami berharap setelah pabrik propelan Dahana rampung pembangunannya, kami akan mendapat pasokan yang lebih kompetitif harganya ketimbang produk impor.

"Kita lihat pesyaratan teknis. Kalau sesuai spek, kita stop impor propelan," tutur Sudirman.

Hadirnya propelan racikan Dahana akan membuat produksi amunisi Pindad lebih efesien dan kompetitif di pasaran. Pindad sebagai produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista) ini tengah menyelesaikan proses kerjasama dengan Rheinmetall Danel Munition (RDM) guna produksi amunisi kaliber besar di Turen, Malang. Bisa dipastikan terjadi peningkatan kebutuhan propelan untuk memenuhi kebutuhan amunisi produk kerjasama dengan perusahaan patungan Jerman-Afrika Selatan tersebut.

Bagi Dahana perjanjian dengan Pindad ini merupakan langkah strategis bagi perkembangan usaha. Pihak Dahana menyebut tengah menuntaskan pembangunan pabrik bahan peledak di Kabupaten Subang, Jabar. Kesepakatan kerjasama tersebut memungkinkan Dahana memperoleh jaminan pembelian produksi propelan oleh industri pertahanan dalam negeri.

"Kami (Dahana) dan Pindad itu saudara. Tentu kami berharap, ini bukan satu-satunya kerjasama yang dilakukan, tapi bisa kerjasama lainnya," Harry Sampurno.

Tak dipungkiri selama ini penguasaan teknologi, suntikan modal kerja dan pasar produk pertahanan masih didominasi pihak asing.

"Cikal bakal kerjasama seperti ini yang kelak bisa menjadi bisnis model antar BUMN. Kami siap melayani keperluan industri pertahanan dalam negeri," kata Harry.


  ★ detik  

Industri Propelan Dibangun di Subang dengan Investasi Rp 20 Triliun

22 June 2014

Bordeaux ● PT Dahana menggandeng anak perusahaan Artha Graha, Indo Pacific Communication and Defence untuk membuat perusahaan patungan bagi industri propelan dengan dua perusahaan Prancis Roxel dan Eurinco. Perusahaan munisi yang akan dibangun di Subang itu akan menelan investasi US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meminta agar pembangunan industri propelan di Subang bisa direalisasikan sebelum bulan Oktober.

Saat mengunjungi Industri Propelan Roxel di Bordeaux, Prancis, Jumat (20/6/2014), Sjafrie mengatakan perjanjian kerja sama pertahanan antara Pemerintah Indonesia dan Prancis harus direalisasikan ke dalam kegiatan nyata. Ia mengapresiasi langkah yang ditempuh PT Dahana dan Roxel untuk membuat perusahaan patungan.

"Saya sangat mengharapkan rencana pendirian perusahaan patungan antara Dahana dan Roxel di Subang bisa segera berjalan. Saya akan membantu agar produk industri propelan nanti tidak hanya dipakai oleh TNI, tetapi juga oleh negara-negara ASEAN," kata Sjafrie.

Presiden Direktur Roxel, Jacques Desclaux mengaku kaget atas semangat yang diperlihatkan Wamenhan. Ia akan berusaha dengan PT Dahana untuk bisa segera melaksanakan rencana pembangunan industri propelan di Subang.

 Investasi Rp 20 triliun 

Direktur Utama PT Dahana F. Harry Sampurno melihat pembangunan industri propelan merupakan sesuatu yang harus dilakukan Indonesia. Masalahnya, sekarang ini hampir semua kebutuhan amunisi bagi TNI dipenuhi dari impor.

"Pengadaan amunisi melalui impor sangatlah riskan. Pertama, pasokan kebutuhannya tergantung kepada pasokan pihak produsen. Kedua, jumlah impor amunisi mudah diketahui negara lain dan itu berkaitan dengan kemampuan pertahanan negara kita," kata Harry.

Atas dasar itu PT Dahana mendukung langkah Kementerian Pertahanan untuk membangun industri propelan di dalam negeri. Kehadiran industri propelan akan memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia.

Menurut Harry, PT Dahana sudah menyiapkan lahan bagi pembangunan industri propelan di Subang. Di sanalah diharapkan bisa dibangun industri propelan yang bukan hanya memasok kebutuhan TNI, tetapi juga untuk keperluan ekspor.

Harry merasa bersyukur bisa bekerja sama dengan Roxel dan juga Eurinco. Sebab, Roxel sudah mengembangkan munisi dan industri propelan sejak tahun 1660. Investasi yang diperlukan untuk membangun industri propelan, menurut Harry, diperkirakan mencapai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Indonesia akan memiliki 51 persen saham, sementara Roxel dan Eurinco sebanyak 49 persen.

Anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan Muhammad Said Didu mengatakan kerja sama yang dilakukan PT Dahana dan Roxel serta Eurinco sangat baik bagi Indonesia. Dengan model membentuk perusahaan patungan, maka Indonesia akan terlibat langsung dalam proses produksi, sehingga alih teknologi bisa terjadi.

"Pihak Roxel akan menyerahkan seluruh kepemilikan saham kepada Indonesia apabila putra-putra Indonesia bisa mengerjakannya sendiri. Divestasi itu diperkirakan akan terjadi setelah enam tahun perusahaan berjalan," kata Said Didu.

Untuk memenuhi kebutuhan investasi, PT Dahana menggandeng anak perusahaan Kelompok Artha Graha untuk bergabung. Apabila groundbreaking bisa dilaksanakan bulan Oktober, pembangunan industri propelan diharapkan bisa selesai dalam waktu 40 bulan.

Produk munisi yang dihasilkan akan mampu memenuhi kebutuhan peluru yang diperlukan TNI dan juga peluru kendali. Bahkan peluru kendali yang diproduksi bisa berbentuk peluru kendali dari darat ke darat, dari darat ke udara, dan dari udara ke udara.


  ★ detik  

Produksi Alutsista PT Dahana

26 May 2014

Alasan Pembangunan Pabrik Propelan di Subang http://www.the-marketeers.com/wp-content/uploads/MaketDahana.jpgJakarta ★ Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis.

Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan alasan mengapa pemerintah setuju pembangunan pabrik propelan tersebut di area sekitar perusahaan Dahana.

"Kebetulan Subang itu sudah disiapkan sejak 20 tahun, kenapa subang karena infrastrukturnya terbangun," kata Harry di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Tidak hanya infrastruktur, pemilihan Subang sebagai lokasi dibangunnya pabrik propelan ini juga lantaran terpaku dengan bahan baku dasar yang lain, sudah tersedia, dan tidak bisa dilakur atau pemindahan ke lokasi lain.

"Ada komponen bahan baku seperti asam nitrat 98 persen yang tidak ditransfer dan tidak bisa diimpor, makanya kita bangun disana (Subang)," tambahnya.

Menurut Harry, dirinya sama sekali tidak mengkhawatirkan soal defisit listrik yang akan terjadi di Pulau Jawa. Dirinya mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini tidak banyak menghabiskan energi listrik.

"Energi listriknya tidak terlalu besar, dan kita menggunakan PLTA jati besar yang 2 tahun lagi, dan Subang yang 10 tahun lagi selesai," ungkapnya.

Tidak hanya itu, pemilihan dua perusahaan asal Prancis ini juga lantaran pada 2011 silam sudah melakukan kerjasama yang konteksnya lebih besar dibandingkan perjanjian pembangunan pabrik.

"Kita juga melihatnya karena mereka itu pemilik teknologi yang tercanggih," tukas dia.
Pabrik Baru Dahana Produksi 1.500 Ton Amunisi/Tahun PT Dahana (Persero) ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk membangun pabrik propelan atau bahan baku amunisi persenjataan Indonesia.

Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan, pabrik propelan yang dibangun di luas lahan 50 hektare serta membutuhkan investasi sekitar 400 juta euro, diproyeksikan akan mampu memproduksi propelan 1.500 ton setiap tahunnya.

"Kapasitasnya 1.500 ton per tahun," kata Harry usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Harry mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini merupakan sebagai pabrik propelan pertama yang dimiliki Indonesia. "Pabrik ini kita sudah bercita-cita dari 20 tahun lalu," tambahnya.

Harry mengungkapkan, meski terbilang sebagai pabrik propelan pertama di Indonesia, akan tetapi dirinya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor propelan kepada negara lain yang membutuhkan.

"Kalau lebih diserap kesemua negara yang produksi peluru," tukas dia.

Diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Francis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Adapun, penandatanganan MoU pembangunan pabrik propelan ini dilakukan oleh Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno, Senior VP Bussines Development Jean Claude dan CEO Roxel France Jacques Desclaux yang disaksikan oleh Plt. Dirjen Pothan Kemhan Timbul Siahaan, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin, dan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim.
Dahana Targetkan Produksi 63 Ribu Ton Bahan Peledak Guna meningkatkan produksi, PT Dahana (Persero) tengah membidik enam proyek baru dengan nilai kontrak sebesar USD15 juta hingga USD20 juta.

Adapun posisi produksi Dahana saat ini sebesar 56 ribu ton bahan peledak (handak).

Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno mengatakan, jika enam proyek yang tengah dibidik oleh perseroan. Maka, volume produksi bahan peledak Dahana dapat meningkat menjadi 63 ribu ton per tahunnya.

"Sekarang kan volume kita 56 ribu ton, kalau yang enam ini berhasil, akan menjadi 63 ribu ton," kata Harry saat bincang-bincang di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (14/3/2014).

Harry menjelaskan, 56 ribu ton volume produksi Dahana saat ini terbilang masih jauh dari kebutuhan nasional akan bahan peledak. Di mana, nasional membutuhkan 300 ribu bahan peledak setiap tahunnya.

"Kita hanya sekitar seperenamnya saja, makanya kita cari alternatif bisnis biar kita fleksibel," jelasnya.

Adapun, keenam proyek yang tengah dibidik Dahana antara lain PT Kasongan Bumi Kencana, Tambang Emas, ABN Grup Toba, PT Cabuse, MPO (Mitra Perdana Utama) di Malino, Kontruksi Pulau Seram, Tambang Emas di Banyuwangi Bukit Pitu, dan Malino Kalimantan Utara, namun pihaknya masih berkompetisi dengan luar negeri.
Produk Propelan Dahana akan Berubah Jadi Peluru di Pindad https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS472Ys2xobr2zFst-HHK4pvPuFWrhGoMmNQ2LRDgAEknloe6xufmqgIq-Sn1KEyqZN7iEWoIexf3zK7zsDL2I5L4xDG7stMTsKqRBgKP4Am-Ogfghpk86EWqSubzSoj7tRxL4JJj2ZHUk/s500/130312_RMN-BISNIS-01-PT-DAHANA-SUBANG.jpgPT Dahana (Persero) menyatakan, pembangunan pabrik propelan yang ditargetkan ground breaking pada Oktober 2014, ini akan disuplai kembali kepada PT Pindad (Persero), sebagai tahap finalisasi pembuatan amunisi atau peluru persejataan.

"Kita buat bahan bakunya, nanti kita serahkan ke Pindad, Pindad yang akan membuat produksinya," kata Direktur Utama PT Dahana, Harry Sampurno usai preskon pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Harry mengungkapkan, kebutuhan amunisi pertahanan di Indonesia sekitar 400 ton sampai 500 ron per tahunnya. Dengan adanya pabrik propelan pertama di Indonesia ini akan memenuhi kebutuhan amunisi persenjataan selama lima tahun ke depan.

Tidak hanya itu, mengenai komposisi kepemilikan saham pabrik propelan ini, Harry menyebutkan mayoritas kepemilikan dipegang oleh Indonesia, dalam hal ini PT Dahana (Persero).

"Kepemilikan tetap BUMN, karena kepemilikan saham asing tidak boleh lebih dari 49%," tambahnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin mengungkapkan, selama ini Indonesia selalu melakukan impor propelan dari Belgia, sebagai bahan baku yang akan dimasukan kedalam casing peluru produksi Pindad.

"Propelane ini untuk isian, sehingga ke depan diharapkan bisa bekerjasama untuk mengisi casing yang dibuat oleh Pindad," tukas dia.


  ★ okezone  





Pabrik Propelan sebagai Kado TNI

Indonesia memasuki era kemandirian http://www.the-marketeers.com/wp-content/uploads/MaketDahana.jpgJakarta ★ Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan menargetkan ground breaking pembangunan pabrik propelan pertama pada Oktober 2014, atau sebelum HUT TNI.

"Diharapkan groundbreaking sebelum HUT TNI, ini sebagai kado, sebelum 5 Oktober," kata Silmy saat Konferensi pers di Balai Media, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Silmy menjelaskan, dalam kerjasama yang dilakukan Indonesia melalui PT Dahana (Persero) dengan dua perusahaan asal Prancis, yakni Eurenco dan Roxel juga memberikan nilai-nilai strategis terhadap sistem pertahanan yang berbasis teknologi dari kedua negara tersebut.

"Ke depannya nilai strategis dari Prancis, banyak peluru kendali dari Prancis, ada transfer teknologinya," tambahnya.

Tidak hanya itu, dengan kerjasama pembangunan pabrik propelan pertama di Indonesia ini juga membuktikan bahwa Indonesia sudah mulai menjajaki era kemandirian. Pasalnya, selama ini Indonesia 100 persen impor bahan baku amunisi atau propelan dari Belgia.

"Ini akan menjadi lokal konten, karena propelanenya kita produksi sendiri, kita memberikan pemahaman Indonesia itu memasuki era kemandirian, sudah selesai kita yang namanya membeli barang, kita membangun alat pertahanan bangun sendiri, kita menuju kesana dari sekarang, makanya kita mulai," tukas dia.(rzy)

  ★ Okezone  

Pabrik Bahan Baku Roket Dibangun di Subang, RI akan Hemat Devisa Rp 1 T

Keberadaan pabrik ini bisa menghemat impor atau devisa dari pembelian propelanJakarta □ PT Dahana (Persero) dengan mitra asal Prancis akan membangun pabrik propelan di Subang, Jawa Barat Oktober tahun ini.

Propelan merupakan bahan baku untuk pembuatan peluru, roket, peluru kendali hingga amunisi.

Keberadaan pabrik ini akan memangkas 100% impor bahan baku amunisi hingga roket.

Selama ini Indonesia masih tergantung produk propelan dari Belgia. Keberadaan pabrik ini bisa menghemat impor atau devisa dari pembelian propelan Rp 1 triliun per tahun.

"Penghematan bisa signifikan. Kita perkirakan dengan proyeksi kebutuhan itu kurang lebih Rp 1 triliun per tahun," kata Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Badan Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim saat press conference pembangunan pabrik propelan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Untuk pembangunan pabruk propelan ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahan peledak, PT Dahana (Persero) menggandeng perusahaan produsen propelan asal Prancis, Eurenco dan Roxel. Total alokasi anggaran pendirian pabrik sebanyak 400 juta Euro untuk fase I.

Pada produksi tahap awal, Dahana mampu memproduksi nitrogliserin sebanyak 200 ton/tahun, spherical powder sebanyak 400 ton/tahun, propelan double base roket sebanyak 80 ton/tahun dan propelan komposit sebanyak 200 ton/tahun.

Untuk tahap awal, Dahana memproduksi 3 jenis propelan untuk kebutuhan amunisi, roket dan misil.

"Pabrik di Subang, itu milik fasilitas Dahana. Ada 3 jenis propelan akan diproduksi tahap awal yakni amunisi kaliber kecil, roket, dan peluru kendali," sebutnya.

Ide pembangunan pabrik sudah dimulai sejak 2010. Targetnya produksi perdana propelan bisa dilakukan mulai 2018.


  ★ detik  
 

Populer