skip to main |
skip to sidebar
Nasib rencana pembangunan jembatan selat sunda (JSS) yang digagas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nampaknya tidak akan dilanjutkan oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menegaskan, pemerintah memutuskan tidak melanjutkan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Keputusan ini diambil karena megaproyek tersebut tidak seirama dengan konsep pembangunan maritim yang digagas pemerintahan Presiden Joko Widodo.
"(Jembatan Selat Sunda) itu kan masih ide dan wacana. Ditambah sekarang tidak sejalan dengan konsep doktrin kemaritiman," ujarnya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin (3/11).
Pemerintah menyadari bahwa proyek ini melibatkan dana yang sangat besar. Selain itu, proses perizinan juga dibutuhkan lintas kepala daerah.
Dia punya alasan lain. Menurut Sofyan, kelanjutan megaproyek ini sudah tidak jelas sejak pemerintahan sebelumnya. "Pemerintah sebelumnya kan juga belum memutuskan go ahead," tuturnya.
Tidak berminatnya Jokowi melanjutkan rencana megaproyek ini sudah terlihat sejak belum resmi menjadi presiden. Salah satu pertimbangannya, dana yang sangat besar untuk menggarap proyek ini.
Proyek JSS menelan dana hingga Rp 200 triliun. Jembatan Selat Sunda (JSS) tidak cukup menguntungkan bila hanya berupa jalan bebas hambatan menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa. Dari hitung-hitungan awal, megaproyek ini baru bisa balik modal dalam kurun 30 tahun.
"Kalau kita punya duit lagi, sudah kaya raya ya beda. Mau tiap pulau disambungin dengan jembatan ya bisa saja," jelasnya di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (14/8).
Jokowi lebih memilih mengoptimalkan jalur laut untuk digunakan sebagai transportasi distribusi logistik. Setelah dihitung-hitung oleh Jokowi, menggunakan transportasi air lebih menguntungkan dibandingkan membangun jembatan.
Menurut Jokowi, negara manapun yang memiliki laut di wilayahnya lebih didominasi laut, akan memaksimalkan jalur air sebagai jalur distribusi logistik. Dia menambahkan, pembangunan dan pengembangan pelayaran ini akan diikuti pembangunan dermaga. Jokowi berharap pengiriman logistik antar pulau akan berjalan lancar.[noe]
Setelah memenangkan gugatan kasasi pengelolaan Bandara Halim PK pada bulan lalu, Maskapai Lion Air Grup bergerak cepat. Mereka akan merombak total bandara milik TNI Angkatan Udara tersebut. Tidak hanya terminal bandara yang akan dikembangkan, juga akan dibangun taxiway dan parallel taxiway serta akses menuju bandara tersebut. demikian diungkapkan Kepala Humas Lion Air, Edward Sirait hari ini, Selasa (14/10/2014).
Menurut pria yang akrab dipanggil Edo tersebut, Lion Grup sudah menganggarkan investasi sekitar Rp 5 triliun dan membentuk badan usaha Bandar udara bernama PT. Angkasa Transportindo Selaras (ATS).
“Terminal akan kami kembangkan sehingga mampu menampung 11,5 juta pergerakan penumpang per tahun. Akan kami bangun 17 gate keberangkatan pesawat yang semuanya dilengkapi garbarata,” ujarnya.
Untuk sisi udara, rencananya akan dibangun satu lagi taxiway dan paralel taxiway untuk lebih mengoptimalkan kapasitas landas pacu. Sedangkan untuk akses jalan, akan dibangun underpass dari sekitar jalan tol Jagorawi simpang Halim (Jalan Halim PK). Dari ujung simpang Halim tersebut akan dibangun kantong parkir untuk mengantisipasi membludaknya tempat parkir di bandara. Selain itu juga akan dibangun monorail dari bandara menuju Dukuh Atas. “Dengan demikian akses ke bandara akan terkoneksi dengan moda transportasi lain seperti MRT, Trans Jakarta dan lainnya,” ujarnya lagi.
Nantinya bandara Halim Perdanakusuma akan menjadi bandara yang hanya melayani penerbangan maskapai full service.
Untuk semua pembangunan tersebut, Lion mengadakan beauty contest untuk kontraktor pengerjaannya. Salah satu perusahaan yang mengikuti beauty contest adalah PT Adhi Karya.
Menurut Direktur Utama PT Adhi Karya, Kiswodarmawan, jika dipercaya membangun, pihaknya akan menggunakan konsep design and build sehingga pembangunannya akan cepat. “Hanya sekitar 8-9 bulan saja sudah bisa dioperasikan,” ujarnya. Kiswodarmawan juga memberi garansi pada waktu pengerjaan, operasional bandara tidak akan terganggu.
Menurut Edo, pihaknya menginginkan perombakan tersebut bisa dilakukan secepatnya. “Bila proses administrasi dan dokumentasi selesai, bulan November seharusnya sudah bisa mulai membangun,” ujarnya lagi.
Saat ini Bandara Halim PK masih dioperasikan oleh PT Angkasa Pura II. Di bandara ini beroperasi maskapai Citilink yang berkonsep LCC, maskapai carter dan sekolah penerbangan.(gatot r)
Meneg BUMN, Dahlan Iskan (ANTARA FOTO/Regina Safri)
Menteri BUMN Dahlan Iskan memastikan proyek Tol Trans Sumatera tetap berjalan meskipun PT Hutama Karya (Persero) sebagai pihak yang ditunjuk membangun jalan sepanjang 2.700 km tersebut tidak mendapat suntikan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN.
"Tol Trans Sumatera tetap jalan. Hutama Karya bersama BUMN lainnya siap bersinergi. Ini bagian dari pengabdian BUMN kepada negara," kata Dahlan, di Jakarta, Rabu.
Hutama Karya hampir dipastikan tidak akan mendapat suntikan modal pada RAPBN 2015 karena Peraturan Presiden (Perpres) penugasan kepada Hutama Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek belum juga turun.
Meski begitu, PMN masih bisa diusulkan kembali dalam APBN-Perubahan 2015, pada saat pemerintahan baru terbentuk.
Sebelumnya, dalam APBN-P 2014 Hutama Karya pernah diusulkan mendapat PMN sebesar Rp 2 triliun tapi mendapat penolakan, karena alasan yang sama Perpres belum turun.
Menurut Dahlan, setelah dipastikan tidak mendapat PMN dan pinjaman dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP), Hutama Karya segera bergerak cepat mencari skema pendanaan.
Ia menjelaskan, skemanya yang ditempuh adalah pola "bangun dan jual".
Saat pengerjaan satu seksi atau ruas jalan selesai sekitar 80 persen, bisa dijual kepada Jasa Marga, atau kepada pihak yang menawar lebih tinggi. Kemudian, dana yang diperoleh dari penjualan dapat digunakan untuk pembangunan seksi berikutnya.
"Saya sih berpikiran Jasa Marga yang menjadi standby buyer," ujarnya.
Pola "bangun dan jual" menurut Dahlan, banyak dilakukan di Tiongkok, dengan sasaran supaya pembangunan cepat selesai dan dana investasi dapat diatasi.
"Semua orang ingin jalan Tol Trans Sumatera, cepat-cepat dibangun. Apalagi yang kita tunggu, karena semuanya sesungguhnya sudah siap," tegas Dahlan.
Menurut catatan, tol Trans Sumatera terbagi menjadi empat koridor utama dan tiga koridor prioritas jaringan jalan tol di Pulau Sumatera.
Keempat koridor utama jaringan jalan tol itu melalui Lampung-Palembang sepanjang 358 kilometer (km), Palembang-Pekanbaru (610 km), Pekanbaru-Medan (548 km), dan Medan-Banda Aceh (460 km). Adapun perkiraan investasi pengerjaan empat koridor jalan tol itu mencapai sekitar Rp 298 triliun.
Tiga koridor prioritas pembangunan, antara lain jalan Palembang-Bengkulu (303 km), Pekanbaru-Padang (242 km) dan Medan-Sibolga (175 km).
Ilustrasi foto: Dok. detikFinance
Sepak terjang bisnis dari Badan Usaha Milik Usaha (BUMN) Indonesia di luar negeri sudah berlangsung sejak lama. Salah satunya dilakukan BUMN konstruksi, PT Hutama Karya (Persero).
Hutama Karya pada era 1990-an sudah melebarkan sayapnya ke Malaysia, Filipina, sampai Papua Nugini menjadi kontraktor untuk proyek-proyek infrastruktur jalan tol hingga jalan utama.
Untuk proyek di Filipina, Hutama Karya pernah membuat proyek Metro Manila Sky Way atau jalan tol layang sepanjang 9,5 kilometer (km). Proyek ini merupakan pembangunan jalan tol terbesar dan pertama di Filipina.
Proses konstruksi berlangsung selama 3,5 tahun yakni dimulai tahun 1996 dengan nilai kontrak US$ 376 juta. Hutama Karya dipilih karena saat itu karena mewarkan teknologi konstruksi sosrobahu karya anak bangsa.
“Hutama Karya pernah pengalaman di Malaysia, Filipina, Papua Nugini. Di Filipina, Hutama Karya yang bikin sky way atau bikin jalan tol pertama kali di Filiphina,” kata Direktur Operasi I Hutama Karya R Soetanto kepada detikFinance di Kantor Pusat Hutama Karya, Jakarta, Selasa (16/9/2014).
Sedangkan proyek di Malaysia adalah pembangunan jalan tol Anyer Hitam sepanjang 10 kilo meter. Proyek yang dibangun tahun 1990-1993 juga merupakan pembangunan jalan tol pertama di negeri jiran tersebut.
“Di Malaysia itu tol. Itu pertama kali Malaysia punya tol dan kita yang bikin,” jelasnya.
Soetanto juga menerangkan tentang perkembangan proyek jalan tol di Malaysia yang saat ini dinilai melampaui pembangunan jalan tol di Indonesia. Di Malaysia proses pembebasan lahan bukan menjadi kendala utama seperti di Indonesia.
“Karena kita susah pembebesan lahannya. Di Malaysia lahannya dari pemerintah,” sebutnya.
Tidak hanya berhenti di situ, Hutama Karya juga berpengalaman membangun proyek jalan utama di Papua Nugini dan Timor Leste.
Untuk Timor Leste, meski bukan lagi menjadi bagian atau provinsi Indonesia namun otoritas di sana berkesan terhadap hasil pekerjaan Hutama Karya. Alhasil pemerintah Timor Leste datang ke kantor Hutama Karya untuk mengundang dan mengerjakan proyek jalan. Saat ini, perseroan masih menunggu pengumuman pemenang tender dari otoritas Timor Leste.
“Kita lagi tender di Dili tapi sekarang belum diumumkan. Mudah-mudahan kita bisa dapat. Itu jalan biasa,” jelasnya.
Saat menggarap proyek di Timor Leste, Hutama Karya akan membawa tenaga ahli atau insinyur untuk melatih tenaga lokal.
“Kita bawa tenaga ahli sehingga mereka terlatih. Kita mengajari. Paling kita kirim beberapa tenaga ahli,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra menjelaskan perseroan saat ini pihaknya masih fokus ke Timor Leste untuk mengerjakan proyek di luar negeri. Meskipun pasar ASEAN saat ini masih terbuka lebar.
“Timor Leste fokus. Baru Tol Trans Sumatera. Kalau kebanyakan, tangkap belalang 5, nanti nggak ada yang ketangkap,” jelasnya.
Putra menjelaskan proyek-proyek di luar negeri memberi hasil atau return yang tinggi terhadap Hutama Karya. Bahkan keuntungan yang dihasilkan bisa 2-3 lipat dibandingkan proyek di dalam negeri.
Tol Pertama di Kalimantan
Penampakan tol Balikpapan
Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung hari ini meresmikan pelaksanaan pembangunan lanjutan jalan tol Balikpapan-Samarinda. Jalan tol ini memiliki panjang hampir 100 km.
Bersama menteri yang akrab disapa CT ini hadir pula Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak serta jajaran pemerintah kota Balikpapan dan Samarinda.
Peresmian ini dilakukan di KM 13 ruas jalan tol Balikpapan-Samarinda yang total panjangnya mencapai 99,2 km.
"Kita berada di KM 13 jalan tol Balikpapan-Samarinda. Saat ini telah memasuki tahapan 2. Tahap 1 sudah dimulai 2009-2013," kata Awang dalam sambutannya sebelum pelaksanaan peresmian yang dilaksanakan Selasa (16/9/2014).
Awang mengatakan, keberadaan jalan tol ini sangat penting bagi keberlangsungan percepatan pembangunan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur.
"Jalan tol ini akan menghubungkan tujuh pusat pertumbuhan di Kalimantan Timur," tuturnya.
Ia menjelaskan, perihal pendanaan proyek ini, pemerintah daerah Kalimantan Timur telah menggelontorkan Rp 2 triliun. "Kita di Kaltim sudah keluar dana Rp 2 triliun untuk pembebasan lahan. Itu dalam 3 tahun sudah dikeluarkan. Nanti akan tambah lagi Rp 1,5 triliun dari APBD dan Rp 1,5 triliun dari APBN," paparnya.(hds/hds)Penampakan Tol Kalimantan
Perlahan tapi pasti, kini Pulau Kalimantan sudah punya infrastruktur jalan bebas hambatan (tol). Jaringan tol dari Balikpapan-Samarinda merupakan tol pertama di Kalimantan, kini sebagian sudah selesai sepanjang 36 km untuk seksi 1 dan 5 dari total 99,2 Km.
Hari ini, dimulai pembangunan lanjutan untuk seksi 2 Tol Balikpapan-Samarinda yang diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung.
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengatakan total ruas jalan yang dibangun yaitu 24,5 km untuk seksi 1 dan 11,5 km di seksi 5.
"Awalnya banyak yang meragukan bahwa proyek ini tidak feasible tidak layak dibiayai karena tidak ekonomis. Tapi kita buktikan dengan 36 kilometer," kata Awang di Km 13 Tol Balikpapan-Samarinda, di Balikpapan, Selasa (16/9/2014).
Lokasi jalan tol Seksi 1 dibangun dari Kelurahan Karang Joang di Balikpapan. Sedangkan untuk seksi 5 dibangun di Kota Samarinda, Kaltim.
"Nanti yang bagian tengahnya akan ditawarkan ke swasta, kita lelang. Sudah ada yang menyatakan minat ada dari Jasa Marga, investor asing," katanya.
Awang mengatakan Pemda Kaltim sudah melakukan 100% pembebasan lahan sehingga investor yang akan bergabung tidak lagi disulitkan dengan permasalahan pembebasan lahan.
"Prediksi kita pengerjaan fisik sekitar 5 tahun. Saat ini kita sedang proses lelang. Arahan Pak CT (Chairul Tanjung) supaya ini dibuat lelang terbuka supaya kita dapat yang terbaik. Kalau sudah jadi, bisa menghemat waktu tempuh dari Balikpapan ke Samarinda lebih cepat 1 jam," katanya.(hen/hen)Dampak Pembangunan Tol Kalimantan Timur sukses membangun secara bertahap infrastruktur jalan bebas hambatan (tol) Balikpapan-Samarinda 99,2 km. Meskipun belum tuntas dan belum bisa beroperasi, keberadaan tol ini menjadi yang pertama di Pulau Kalimantan.
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengatakan jika seluruh tol ini terhubung maka dampaknya akan positif bagi ekonomi Kaltim karena akan menopang pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Kaltim. Saat ini dari 99,2 km, sebagian sepanjang 36 km sudah terbangun.
"Jalan tol ini menjadi kebanggaan Kalimantan karena ini menjadi tol pertama yang mulai terealisasi. Jalan tol ini akan menghubungkan tujuh pusat pertumbuhan di Kalimantan Timur," kata Awang saat peresmian tol tahap 2 Balikpapan-Samarinda, di Balikpapan, Selasa (16/9/2014).
Awang merinci beberapa pusat pertumbuhan ekonomi di Kaltim antara lain Kawasan Industri Penajam. Di kawasan industri ini juga sudah dibangun pelabuhan kargo.
Selain itu ada pusat pertumbuhan di Balikpapan, yang disiapkan sebagai kota internasional. Kota ini juga sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur.
"Di Balikpapan juga ada Institut Teknologi Kalimantan di Balikpapan," katanya.
Pusat pertumbuhan lainnya adalah Kota Samarinda. Kota ini sebagai ibu kota provinsi Kaltim dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat.
"Penduduknya sudah 1 juta jiwa. Dan perputaran uang paling banyak di Kalimantan Timur adalah Samarinda," katanya.
Pusat pertumbuhan ekonomi di Kaltim lainnya adalah Bontang. Bontang merupakan kawasan industri berbasis gas dan kondesat. Di Bontang juga akan dikembangkan kluster industri berbasis pertanian dan oleochemical.(hen/hds)
Bandara Ali Sadikin Dibangun di Tanah Reklamasi Marunda
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun Bandara Internasional Ali Sadikin di area proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Bandara ini rencananya dibangun pada pulau-pulau buatan yang masuk program pengembangan giant sea wall.
Sebetulnya di mana lokasi pasti proyek calon bandara baru pendukung Bandara Internasional Soekarno Hatta ini?
Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Wiriyatmoko menunjuk wilayah Marunda di Jakarta utara sebagai lokasi pembangunan bandara baru. Lokasinya tepat berada di atas pulau buatan hasil reklamasi di daerah Marunda.
"Mesti direklamasi dulu. Posisinya di atas Marunda," kata Wiriyatmoko kepada detikFinance, Senin (15/8/2014).
Wiriyatmoko menerangkan pembangunan bandara baru tersebut masih menunggu proses reklamasi. Proses ini diproyeksi membutuhkan waktu tidak sebentar. Apalagi perlu ada kajian atau feasebility study terkait syarat-syarat untuk mendirikan bandara baru.
"Ini masih lama mesti direklamasi dulu. Kajiannya juga mesti disusun untuk jangka panjangnya menyangkut desain teknis dan pembiayaan," sebutnya.
Pembahasan dan perizinan bandara baru ini diperkirakan tidak akan berjalan dengan mudah karena banyak hal yang perlu dibahas di level Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pertahananan.
"Kajian aeronautica, safety flight zone tidak boleh overlap dengan Cengkareng (Bandara Soekarno Hatta) dan Halim. Ini akan menentukan arah desain air strip landasan nantinya sejajar atau crossing. Artinya pembahasan bisa alot," paparnya.
Sebelum Pemprov DKI berencana membangun bandara berstandar internasional. Bandara berskala internasional tersebut akan dinamai salah satu mantan Gubernur DKI Jakarta, yaitu Ali Sadikin.
Wakil Gubernur DKI Jakarto Basuki Purnama alias Ahok mengusulkan nama Ali Sadikin menggantikan nama sebelumnya yakni Bandara Internasional Si Pitung. Bandara ini dibangun pada area proyek pulau buatan atau di atas proyek giant sea wall. Rencananya Bandara Ali Sadikin dikelola sendiri oleh Pemprov.(feb/ang)Kemenhub Belum Terima Usulan Bandara Ali Sadikin dari Ahok
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusulkan pembangunan bandara baru dalam proyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Bandara baru ini merupakan penunjang Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng.
Meski belum berdiri, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama atau familiar disapa Ahok mengusulkan namanya menjadi Bandara Internasional Ali Sadikin. Bagaimana respons Kementerian Perhubungan?
Direktur Kebandarudaraan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Bambang Tjahjono menjelaskan, sebagai regulator pihaknya belum menerima usulan atau hasil kajian pengembangangan bandara baru tersebut dari Pemprov DKI Jakarta.
"Belum pernah diajukan secara resmi dan belum pernah dikaji airspace capacity-nya dengan Bandara Soekarno-Hatta dan bandara-bandara lainnya sehingga belum bisa komentar," kata Bambang kepada detikFinance, Senin (15/9/2014).
Meski demikian, Pemprov DKI bisa saja mengusulkan Bandara Ali Sadikin ke Kemenhub untuk memperoleh restu. Ada hal-hal yang harus dipenuhi sebagai syarat mendirikan bandara baru. Proses perizinan hingga studi kelayakan (feasibility study) diproyeksi memakan waktu 1 tahun karena banyak aspek yang harus dinilai.
"Faktornya banyak. Harus layak secara ekonomis, finansial, teknis, operasional, dan lain-lain. Biasanya perlu satu tahun," sebutnya.
Sebelum Pemprov DKI berencana membangun bandara berstandar internasional yang akan dinamai salah satu mantan Gubernur DKI Jakarta, yaitu Ali Sadikin. Bandara ini dibangun di area proyek pulau buatan atau di atas proyek giant sea wall. Rencananya Bandara Ali Sadikin dikelola sendiri oleh Pemprov DKI.(feb/hds)Tabrakan Pesawat, Risiko Terburuk Rencana Proyek Bandara Ali Sadikin di DKI Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang mempelajari pembangunan sebuah bandara baru yang dinamakan Bandara Ali Sadikin di Marunda, Jakarta Utara. Menurut rencana, bandara ini akan dibangun di atas proyek reklamasi tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta.
Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Wiriyatmoko mengungkapkan, ada beberapa pertimbangan yang sedang dikaji antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelum bandara ini benar-benar dibangun.
Masalah utama yang dikaji soal keamanan khususnya soal risiko tabrakan pesawat di udara, karena lokasi bandara baru yang berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
"Untuk membangun bandara ini perlu kajian matang agar bandara ini tidak terlalu dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Harus ada safety flight zone. Jadi kawasan keselamatan 1,2,3 agar tidak terjadi overlap (tumpang tindih). Kalau di Cengkareng padat, pesawat muter-muter di udara nanti yang takut terjadi overlap," kata Wiriyatmoko kepada detikFinance, Senin (15/09/2014).
Ia mengungkapkan, rencana lokasi dibangunnya bandara baru adalah di atas proyek reklamasi laut, Marunda, Jakarta Utara. "Lokasinya di reklamasi laut," imbuhnya.
Wiriyatmoko juga belum berani mengungkapkan fungsi bandara ini apakah akan dijadikan bandara komersial seperti Bandara Soekarno-Hatta atau private owned, atau hanya untuk penerbangan maskapai tertentu saja.
"Kalau untuk itu tanya pak Wagub (Ahok)," katanya.
Sementara itu pengamat penerbangan Dudy Sudibyo mengungkapkan, lokasi Marunda sangat berdekatan dengan Soekarno-Hatta. Sehingga menurutnya pembangunan bandara dengan tujuan komersial dinilai tidak efisien dan rawan terjadi kecelakaan.
"Sangat dekat dan berada di-line yang sama dengan Soekarno-Hatta. Saya takut adanya tabrakan," katanya.
Ia setuju Bandara Ali Sadikin di Marunda dibangun, tetapi hanya untuk kegiatan penerbangan pribadi atau private owned, bukan tujuan komersial. Jika pemerintah ingin membangun bandara baru komersial harus dilakukan di luar Jakarta seperti Kerawang dan Majalengka.
"Kalau untuk private owned itu bisa saja tetapi tidak untuk komersial. Kalau mau bangun bandara komersial bisa di Kerawang dan Majalengka," sebutnya.
Seperti diketahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusulkan pembangunan bandara baru dalam proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Bandara baru ini merupakan penunjang Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Banten.Di Mana Calon Lokasi Bandara Ali Sadikin yang Disebut-sebut Ahok?
Foto: NCICD
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang mempelajari pembangunan sebuah bandara baru yang dinamakan Ali Sadikin. Rencananya bandara ini akan dibangun di atas proyek reklamasi laut dan tanggul raksasa di kawasan Marunda, Jakarta Utara.
Menurut dokumen National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip detikFinance, Senin (15/09/2014) proyek pengembangan bandara baru memang disebutkan tetapi tidak begitu detil.
NCID lahir atas kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda, untuk mengurangi dan mencegah banjir di Jakarta.
Di dalam dokumen disebutkan atas permintaan pemerintah DKI, sebuah area telah dicadangkan dalam masterplan ini untuk pengembangan bandara internasional yang baru.
Namun untuk menghindari gangguan dengan lintasan penerbangan dan pendekatan ke bandara yang ada sekarang yaitu Soekarno-Hatta), hanya tempat-tempat yang jauh di bagian barat (di kota Kabupaten Tangerang) atau di timur Teluk Jakarta yang berpotensi untuk pengembangan ini.
Bagian timur teluk ini cukup luas untuk menampung sebuah bandara, tetapi, kajian bandara yang khusus harus dilaksanakan untuk menilai kelayakannya terkait lintasan penerbangan dan dampaknya (pada lingkungan).
Menurut rencana proyek NCICD bakal mereklamasi lahan yang salah satunya akan dibangun sebuah tanggul raksasa yang dinamakan Giant Sea Wall. Pembangunan tanggul raksasa ini dilakukan untuk melindungi Jakarta dari bahaya banjir terutama air pasang. Selain proyek tanggul raksasa, pembangunan infrastruktur lainnya juga rencananya akan dilakukan walaupun masih dalam perencanaan.
Secara keseluruhan proyek yang dinamai Garuda ini akan menciptakan lahan baru seluas 1.250 ha, dimana 1.080 hektar di antaranya merupakan hasil reklamasi lahan.
Biaya seluruh reklamasi lahan ini ditaksir sebesar US$ 7 miliar. Biaya ini tidak mencakup pembangunan tanggul laut luar. Nantinya 55% dari total luas area Garuda akan dibangun proyek infrastruktur, kawasan hijau dan ruang rekreasi publik.
Sedangkan 44% lainnya akan dibangun kawasan pusat bisnis baru termasuk perumahan mewah, perumahan kelas menengah dan rumah murah. Jika proyek ini rampung secara total 650.000 penduduk akan tinggal dan 300.000 akan bekerja di area Garuda.(wij/hen) Calon Lokasi Bandara Ali Sadikin Sampai saat ini, gagasan membangun bandara baru di wilayah Jakarta mememang sudah dituangkan dalam dokumen National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN). Namun, kepastian pelaksanaannya, termasuk lokasi persisnya, masih belum ditetapkan.
Di dalam dokumen NCICD, tertulis soal permintaan pemerintah DKI, sebuah area telah dicadangkan dalam masterplan ini, untuk pengembangan bandara internasional yang baru yang disebut-sebut bernama Bandara Ali Sadikin.
Namun untuk menghindari gangguan dengan lintasan penerbangan dan pendekatan ke bandara yang ada sekarang yaitu Soekarno-Hatta, hanya tempat-tempat yang jauh di bagian barat (di kota Kabupaten Tangerang) atau di timur Teluk Jakarta yang berpotensi untuk pengembangan ini.
Bagian timur teluk ini cukup luas untuk menampung sebuah bandara. Tetapi, kajian bandara yang khusus harus dilaksanakan untuk menilai kelayakannya, terkait lintasan penerbangan dan dampaknya (pada lingkungan).
Dari dokumen resmi NCICD, Senin (15/9/2014), terdapat sebuah gambar yang menunjukkan calon lokasi bandara baru di Jakarta. Dalam gambar tersebut, lokasinya berada di utara Jakarta di sisi timur.
Terlihat lokasinya persis di mulut muara Kanal Banjir Timur (KBT) Jakarta, yang terhubung langsung dengan laut di teluk Jakarta. Bandara baru ini juga akan berdekatan dengan lokasi pelabuhan baru Tanjung Priok.(hen/dnl)
Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman sebelumnya disebut New Sepinggan.
Foto: Sultan Aji Muhammad Sulaiman
Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, yang berlokasi di Sepinggan, Balikpapan. Sebelumnya bandara ini disebut New Sepinggan.
Direktur Utama PT Angkasa Pura I (AP I) Tommy Soetomo, selaku pembangun bandara ini mengatakan, bandara baru ini beroperasi sejak 22 Maret 2014 lalu. Nilai investasi pembangunan bandara ini mencapai Rp 2 triliun. Ini merupakan bandara mal pertama di Indonesia.
"Sebelum pengembangan, bandara kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur ini telah mengalami over capacity. Dengan kapasitas hanya 1,7 juta penumpang per tahun, bandara ini telah melayani 7,1 juta penumpang di tahun 2013, tumbuh 16% dibanding tahun 2012 yang berjumlah 6,4 juta penumpang," tutur Tommy dalam keterangannya, Senin (15/9/2014).
Bandara ini dibesarkan dengan membuat terminal baru yang mengusung konsep modern eco-airport, dan akan mampu menampung 15 juta penumpang per tahun. Selain itu, terminal ini dilengkapi dengan fasilitas 11 unit garbarata, 76 buah konter check, dan 8 unit conveyor.
Hal yang utama adalah pengaplikasian Airport Operation Database (AODB), serta teknologi hold baggage screening (HBS) level 4 yang canggih. Selain itu juga disediakan gedung parkir empat lantai yang mampu menampung hingga 2.300 unit kendaraan.
"Jika kita berjalan ke dalam terminal, terdapat penggunaan tanaman hidup untuk dijadikan taman di berbagai sudut ruangan. Penerapan manajemen energi juga dilakukan dengan pemanfaatan sinar matahari untuk pencahayaan. Selain itu, konsep eco building juga diterapkan dengan penggunaan LED (Light Emiting Diode) serta recycling water," tutur Tommy.
Dengan luasan terminal mencapai 110.000 m2 , area komersial seluas 33.000 m2, serta apron seluas 140.900 m2, menjadikan bandara ini sebagai gerbang udara terbesar dan termegah di kawasan timur Indonesia.
"Selain itu, bandara ini juga merupakan bandara pertama di Indonesia yang dilengkapi boutique mall. Pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam gedung terminal termasuk area konter check-in. Hal ini akan menciptakan pengalaman yang unik di dalam bandara bagi para pengunjung, sekaligus sebagai upaya kami dalam meningkatkan level of service kepada pengguna jasa bandara," kata Tommy.
Selain meresmikan bandara, SBY juga meresmikan beberapa proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di wilayah Kalimantan Timur, antara lain Proyek Sisi-Nubi 2B (WPN 3 dan WPS 2) Total E&P Indonesia bekerjasama dengan Inpex dan Pertamina Hulu Energi Tengah Kalimantan Timur, Pembangkit Listrik Tenaga Biogas Prima Mitrajaya Mandiri Kaltim, Cakra Biogas Power Plant REA Kaltim Plantations, dan groundbreaking Kampus Institut Teknologi Kalimantan.(dnl/hen)
Proyek Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Ilustrasi Bandara Sepingan [Bisnis]
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir di Balikpapan pada Senin (15/9) untuk meresmikan terminal baru Bandara Sepinggan dan 17 proyek Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
"Pak Presiden akan menandatangani prasasti peresmian terminal baru Bandara Sepinggan," kata Handy Herydhiawan, Corporate Secretary PT Angkasa Pura di Balikpapan, Jumat (5/9). Presiden SBY juga akan menandatangani visi Angkasa Pura untuk masuk ke dalam sepuluh perusahaan pengelola bandara terbaik di Asia.
Dia menambahkan Presiden akan didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dan sejumlah menteri terkait.
Angkasa Pura membangun ulang terminal Bandara Sepinggan selama periode 2012-2013. Perusahaan milik negara itu menghabiskan hingga Rp 2 triliun untuk membangun gedung empat lantai dengan luasan hingga 110.000 meter persegi.
Terminal lama yang hanya bisa menampung 1,6 juta orang per tahun sudah ditinggalkan. Sejak 22 Maret 2014 lalu seluruh aktivitas penerbangan sudah pindah ke terminal baru yang bisa menampung hingga 10 juta penumpang per tahun.
Sebelumnya terminal lama harus melayani hingga 6,4 juta orang per tahun, membuat penumpang terlihat berjejalan saat keberangkatan maupun saat kedatangan.
Terminal baru dibangun seperti pusat perbelanjaan atau mal dengan langit-langit yang tinggi sehingga tetap sejuk meski pendingin udara tidak diaktifkan.
Dinding-dindingnya juga dibuat dari kaca sehingga sinar matahari masuk dengan leluasa dan ruangan tetap terang meski lampu tak dinyalakan.
"Konsep bangunan ini modern eco-airport," jelas Handy.
Fasilitas penting dari bandara yakni 11 unit garbarata, terowongan yang mengantar penumpang langsung ke pintu pesawat, atau sebaliknya langsung keluar ke gedung terminal. Sebelumnya ada 74 check-in-counter yang dipasangkan dengan 8 unit ban berjalan (conveyor belt) untuk mengantar bagasi ke pesawat.
Bagasi juga ditangani dengan sistem terbaru, yaitu HBS (hold baggage screening) level 4.
Menurut dia di depan terminal ada gedung parkir yang mampu menampung 2.300 mobil. Sehingga membuat Bandara Sepinggan menjadi bandara terbesar di Kawasan Timur Indonesia.
★ Beritasatu
Apakah mereka tahu bahwa IWJ, salah satu no fly zone di Indonesia ...
Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana mengembangkan Lapangan Udara Iswahjudi di Kabupaten Magetan menjadi bandar udara komersial untuk melayani penerbangan sipil. Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jawa Timur Wahid Wahyudi mengatakan keberadaan bandara komersial di Magetan akan mempercepat perkembangan perekonomian di Jawa Timur bagian barat.
Menurut Wahid, beberapa pangkalan udara sudah dimanfaakan sebagai bandara komersial, seperti Abdurahman Saleh di Malang dan Halim Perdanakusuma di Jakarta. Ia memprediksi Lanud Iswahjudi juga bisa berfungsi melayani penerbangan sipil sekaligus memenuhi kepentingan militer.
"Masalah itu yang sedang kami diskusikan bersama pihak Lanud Iswahjudi, pemerintah daerah Madiun dan sekitarnya," katanya seusai rapat sinkronisasi rencana pengembangan Lanud Iswahjudi sebagai bandara komersial di kantor Badan Koordinator Wilayah Madiun, Rabu, 3 September 2014.
Menurut Wahid, pembahasan masalah tersebut akan berlanjut. Tujuannya adalah mengkaji lebih lanjut dampak keberadaan bandara komersial di Magetan dari sisi perkembangan ekonomi dan kebutuhan militer. "Apakah ada celah untuk membuat bandar udara yang tetap memprioritaskan unsur pertahanan dan keamanan. Ini yang perlu dibahas lebih lanjut," ujar Wahid.
Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Dony Ermawan mengatakan pangkalan udara itu bisa saja digunakan untuk kepentingan militer dan komersial. Namun, rencana itu harus dikaji lebih dalam dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait, seperti TNI Angkatan Udara, Dewan Perwakilan Rakyat, dan pemerintah daerah serta pusat. "Mudah-mudahan ada titik temunya," ujar Dony.
Namun, ia mengatakan, fungsi militer tetap harus diprioritaskan. Apalagi Lanud Iswahjudi memiliki tiga skuadron tempur, yaitu 3, 14, dan 15. Masing-masing skuadron berisi pesawat tempur andalan TNI AU, seperti F-16, F-5, T-5, dan Hawk. "Kekuatan tempur, termasuk kerahasian dan aspek keamanan di dalamnya, harus tetap kami lindungi," kata Dony.
Prosedur R-Nav 1 dibuat oleh putra bangsa. Produk hasil kerja keras beberapa orang pengontrol trafik udara di Bandara Soekarno-Hatta dan pilot Garuda Indonesia.
Rasa kesal dan marah menjadi pemicu saya untuk membuat prosedur baru, yang alhamdulillah sekarang sudah digunakan sebagai prosedur bagi pesawat yang akan berangkat dan datang dari dan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya bersyukur, kemarahan itu membuahkan hasil yang luar biasa. Hasil itu bukan saja dirasakan insan dunia penerbangan, seperti Air Traffic Controllers (ATC), pilot, dan maskapai, tapi juga masyarakat pengguna jasa moda transportasi udara di Jakarta dan sekitarnya, tanpa kita sadari bahkan dunia.
Kenapa saya marah dan kemudian bisa membuat Prosedur R-NAV 1? Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa sedih dan malu karena ada beberapa maskapai asing yang untuk mengecek seorang penerbangnya menjadi captain pilot dan boleh terbang ke Eropa, harus terbang ke Soekarno-Hatta dulu. Apabila mereka masuk Soekarno-Hatta dengan mulus, mereka bisa menjadi captain pilot atau boleh terbang ke Eropa. Betapa rendahnya kita di mata mereka karena tidak punya prosedur yang bagus. Padahal ATC Soekarno-Hatta adalah barometer ATC-er di Indonesia. Sungguh sangat merendahkan kita sebagai bangsa.
Begitulah! Saya sebagai anak bangsa merasa tersinggung dan marah. Kemarahan ini memotivasi saya untuk mendesain Prosedur R-NAV 1, prosedur yang pertama kali digunakan di Indonesia, sehingga mereka tidak lagi bisa meremehkan kita.
Proses pembuatan
Kita harus punya suatu prosedur bagus yang memenuhi standar internasional dengan kriteria safety, keteraturan, kepastian, dan nyaman. Setiap dinas malam ketika trafik relatif berkurang, saya gunakan untuk mendesain Standard Arrival (STARR) atau membuat jalur-jalur yang sudah ditentukan, baik dari sisi ketinggian maupun kecepatan, untuk pesawat yang akan datang ke Soekarno-Hatta. Dengan demikian, antar-pesawat tak saling menyusul.
Kenapa saya harus membuat desain STARR atau prosedur kedatangan lebih dulu? Alasannya, Standard Instrument Departure (SID) atau prosedur keberangkatan untuk pesawat yang akan berangkat tidak bisa dibuat tanpa ada STARR. Dalam waktu sekitar satu tahun, setiap pulang dinas, saya buka dan kaji lagi prosedurnya.
Setelah desain rampung, saya membutuhkan flight simulator dan pesawat untuk membuktikan, apakah desain yang saya buat cocok dan bagus digunakan? Soalnya, desain itu pada titik-titik koordinat tertentu meliputi kecepatan dan ketinggian pesawat.
Sebagai ATC-er, saya juga menjadi pengurus organisasi profesi ATC atau IATCA (Indonesia Air Traffic Controllers Association) di tingkat cabang (DPC) Jakarta. Saya manfaatkan keberadaan saya di IATCA untuk berkolaborasi dengan Garuda Indonesia. Untunglah, kolaborasi yang saya ajukan mendapat tanggapan positif, sehingga dibentuklah tim kerja GA-IATCA, yang masih terbentuk sampai sekarang. Tim GA-IATCA terdiri dari beberapa pilot senior Garuda serta beberapa petugas ATC Jakarta yang mewakili sektor Area Control Center (ACC), Approach/Arrival, dan Tower, juga bagian standar dan manajemen Garuda.
Awalnya desain itu dicoba di flight simulator. Hasilnya luar biasa; sangat ramah lingkungan (go-green). Selanjutnya kami mencoba live. Kami berkoordinasi, sewaktu saya atau tim dari ATC dinas malam dan pilot Garuda yang masuk dalam tim terbang malam menuju Soekarno-Hatta, prosedur STARR R-NAV 1 diujicoba. Hasilnya ternyata sama dengan flight simulator; luar biasa! Hal ini membuat tim bersemangat.(Gatot Prianggodho)